Kontrak US$266 Juta Membuka Jalan Rocket Lab Gelar 18 Misi Pertahanan dari Alaska

Rocket Lab memperoleh kontrak senilai US$266 juta dari U.S. Space Force untuk mendukung hingga 18 misi pengujian dan kebutuhan pertahanan rudal Amerika Serikat. Nilai kesepakatan itu setara sekitar Rp4,3 triliun dan menandai perluasan operasi peluncuran perusahaan ke Alaska.

Kontrak ini menuntut ketersediaan peluncuran suborbital yang cepat serta dapat dilakukan berulang kali. Sebagian besar penerbangan direncanakan berlangsung dari Pacific Spaceport Complex di Pulau Kodiak.

Skema misi dan kendaraan peluncur

Tahap awal kontrak mencakup 12 peluncuran suborbital, sementara U.S. Space Force memiliki opsi untuk menambah enam misi berikutnya. Rocket Lab akan menggunakan HASTE, kendaraan suborbital yang dikembangkan dari roket Electron.

Nama HASTE merupakan singkatan dari Hypersonic Accelerator Suborbital Test Electron. Kendaraan tersebut dirancang untuk memungkinkan pelanggan menguji teknologi hipersonik dalam kondisi penerbangan langsung.

KomponenRincianFungsi
Nilai kontrakUS$266 jutaMendukung misi pertahanan rudal
Misi awal12 peluncuranPeluncuran suborbital
Opsi tambahan6 misiMenambah total menjadi 18 misi
Lokasi utamaPacific Spaceport Complex, KodiakBasis sebagian besar penerbangan

Pengujian di udara memberi pengguna HASTE lingkungan penerbangan yang berbeda dari pengujian darat maupun simulasi. Kebutuhan akan kemampuan itu menjadi salah satu dasar meningkatnya permintaan peluncuran suborbital berfrekuensi tinggi.

Kapasitas peluncuran untuk keamanan nasional

Pendiri dan CEO Rocket Lab, Peter Beck, menyatakan nilai serta skala kontrak mencerminkan kepercayaan Space Force terhadap kemampuan perusahaannya. Ia menilai kesepakatan tersebut menuntut respons cepat, tanggap, dan berskala besar terhadap kebutuhan keamanan nasional.

Beck juga menyebut Rocket Lab bangga menyediakan kapasitas peluncuran dengan frekuensi tinggi untuk membantu Amerika Serikat menghadapi ancaman global. Rincian sasaran setiap penerbangan dalam kontrak itu belum dipublikasikan.

Mediaindonesia.com melaporkan bahwa peluncuran-peluncuran baru tersebut diduga berkaitan dengan inisiatif pertahanan rudal Golden Dome milik Amerika Serikat. Namun, hubungan spesifik setiap misi dengan inisiatif itu belum dijelaskan secara terbuka.

Kodiak menambah pilihan lokasi operasi

Pacific Spaceport Complex telah beroperasi sejak 1998 dan menampung hampir tiga lusin misi peluncuran. Fasilitas di Pulau Kodiak itu terutama menangani penerbangan suborbital militer Amerika Serikat, sekaligus mulai mendukung peluncuran orbital swasta dalam beberapa tahun terakhir.

Sebelum memasukkan Alaska ke dalam rencana operasinya, Rocket Lab mengandalkan Semenanjung Māhia di Selandia Baru dan Wallops Island di Virginia sebagai lokasi peluncuran utama. Dua landasan di Virginia sebelumnya menjadi titik keberangkatan seluruh penerbangan suborbital HASTE.

HASTE telah menyelesaikan sembilan misi sejak debut pada Juni 2023. Sementara itu, Electron yang pertama kali terbang pada Mei 2017 telah mencatatkan 82 penerbangan.

Masuknya Kodiak memberi Rocket Lab lokasi tambahan untuk menjalankan misi suborbital bagi program pertahanan. Perluasan ini memperkuat posisi Alaska dalam kapasitas peluncuran perusahaan untuk kebutuhan keamanan nasional Amerika Serikat.

Baca Juga