Konser K-Pop dibidik sebagai penggerak transaksi yang meluas dari hotel hingga penjualan oleh-oleh. Kementerian Pariwisata melihat pertunjukan musik internasional sebagai daya tarik yang dapat membawa wisatawan ke Indonesia sekaligus memperluas belanja mereka di destinasi.
Dampak acara tidak hanya berasal dari pembelian tiket konser. Penonton juga membutuhkan tempat menginap, makan dan minum, transportasi, komunikasi, serta berbagai layanan perjalanan lain.
Dalam simulasi konser besar seperti BTS, pemerintah memproyeksikan kedatangan 18.000 wisatawan mancanegara. Total pengeluaran mereka diperkirakan dapat menghasilkan devisa US$6,6 juta atau sekitar Rp120,6 miliar.
| Indikator Ekonomi | Perkiraan |
|---|---|
| Jumlah wisatawan mancanegara | 18.000 orang |
| Pengeluaran rata-rata per orang | US$380,1 atau sekitar Rp6,7 juta |
| Potensi devisa keseluruhan | US$6,6 juta atau sekitar Rp120,6 miliar |
| Transaksi di luar hitungan | Merchandise serta makanan dan minuman di lokasi konser |
Rata-rata belanja yang dihitung mencakup tiket, akomodasi, makan-minum, transportasi, komunikasi, dan oleh-oleh. Nilai itu belum memasukkan perputaran uang dari merchandise dan konsumsi di area pertunjukan.
Penyedia jasa di sekitar lokasi acara berpeluang menerima manfaat langsung dari kedatangan penonton. Negara juga berpotensi mendapat pemasukan melalui pajak dan sewa lokasi, termasuk penggunaan Gelora Bung Karno kepada perusahaan pengelola aset negara.
Konser sebagai Pintu Masuk Wisata
Untuk memperluas dampak tersebut, Kementerian Pariwisata mendorong paket wisata konser yang menyatukan acara utama dengan perjalanan wisata. Fokus pengembangannya diarahkan ke destinasi prioritas di kawasan penyangga Jakarta atau Greater Jakarta.
Paket perjalanan dapat memadukan tiket pertunjukan, transportasi, akomodasi, dan kunjungan ke atraksi lokal. Model ini diharapkan membuat penonton tidak datang hanya untuk konser lalu segera meninggalkan Indonesia.
Juru Bicara Kementerian Pariwisata Nia Niscaya menyebut pemerintah terbuka untuk berkolaborasi dengan industri perjalanan. ASITA, AITTA, ASTINDO, dan IINTOA disebut sebagai pihak yang dapat bekerja sama menyusun layanan terintegrasi.
Menurut Nia, banyaknya konser K-Pop di dalam negeri perlu dipandang sebagai peluang bagi sektor pariwisata. “Industri pariwisata nasional perlu melihat banyaknya konser K-Pop yang digelar sebagai peluang untuk menggerakkan sektor pariwisata,” ujarnya di Jakarta.
Mengurangi Perjalanan Penggemar ke Luar Negeri
Kehadiran konser internasional di Indonesia juga dapat mengurangi dorongan penggemar domestik untuk menonton idola di negara lain. Pengeluaran yang semula berpotensi terjadi di luar negeri dapat berputar pada usaha pariwisata di dalam negeri.
Strategi yang diharapkan adalah peningkatan lama menginap wisatawan agar manfaat ekonomi menjangkau lebih banyak pelaku usaha. Peluang itu juga dapat dipakai untuk mengenalkan destinasi Indonesia kepada wisatawan asal Korea Selatan, khususnya dari kelompok milenial dan Gen Z.
Kementerian Pariwisata menyatakan akan memperkuat koordinasi untuk memudahkan penyelenggaraan acara berskala besar. Kementerian berperan menerbitkan surat rekomendasi atau keterangan dukungan yang menjadi salah satu persyaratan dalam pengajuan izin keramaian.






