Rudal Melintas hingga Fasilitas Diserang, Konflik Iran Menjalar ke Lima Negara

Konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel kini berdampak ke sejumlah negara di Timur Tengah. Yordania, Kuwait, Bahrain, Irak, dan Israel melaporkan insiden berbeda, mulai dari serangan terhadap infrastruktur hingga pencegatan rudal.

Perluasan titik konflik terjadi ketika AS meningkatkan operasi terhadap fasilitas militer Iran. Operasi itu menyusul kematian tiga tentara Amerika Serikat dalam dua insiden terpisah di Yordania dan Irak utara.

Infrastruktur dan Ruang Udara Terdampak

Kuwait melaporkan serangan yang menyasar fasilitas listrik dan desalinasi. Bahrain menyatakan sejumlah proyektil yang mengarah ke wilayahnya telah berhasil dicegat.

Yordania mengaku menjatuhkan beberapa rudal Iran yang melintasi wilayah udaranya. Negara itu juga menjadi lokasi serangan rudal dan drone terhadap pangkalan militer yang menewaskan dua tentara AS.

Negara atau wilayahPerkembanganKeterangan
KuwaitSerangan infrastrukturFasilitas listrik dan desalinasi terdampak
BahrainPencegatan proyektilProyektil mengarah ke wilayah Bahrain
YordaniaRudal dan serangan pangkalanRudal Iran dicegat, 2 tentara AS tewas
IsraelPencegatan rudalRudal mengarah ke kawasan dekat Eilat

Di Laut Merah, Israel mengonfirmasi pencegatan rudal yang mengarah ke kawasan dekat Eilat. Menteri Pertahanan Israel Israel Katz memperingatkan negaranya siap merespons dengan kekuatan penuh jika kembali diserang.

Irak utara menjadi lokasi korban ketiga dari pihak AS. Personel tersebut tewas saat menjinakkan bahan peledak yang diduga berasal dari Iran, sebagaimana dilaporkan Suara.com.

Jumlah Korban AS Bertambah

Tiga kematian terbaru membuat jumlah tentara Amerika Serikat yang tewas sejak konflik memanas menjadi 17 orang. Pentagon mencatat hampir 100 personel AS mengalami luka-luka sejak 7 Juli, dengan mayoritas cedera dipicu ledakan.

Presiden Donald Trump menyatakan telah memberi instruksi kepada pimpinan militer AS untuk merespons ancaman lanjutan dari Iran. Pernyataan itu mendahului serangan AS terhadap fasilitas militer Iran pada Senin (20/7/2026) waktu setempat.

Dalam unggahan di Truth Social, Trump mengatakan, “Setiap kali Iran membunuh tentara Amerika, mereka akan membayar berkali-kali lipat.” Pernyataan tersebut muncul setelah serangkaian insiden yang menewaskan personel militer AS.

Operasi AS Menyorot Selat Hormuz

CENTCOM mengonfirmasi bahwa operasi terbaru menargetkan fasilitas militer Iran. Tujuannya adalah mengurangi kemampuan Teheran mengganggu pelayaran internasional, terutama di Selat Hormuz.

Selat Hormuz menjadi titik penting karena secara langsung disebut dalam tujuan pengamanan operasi AS. Namun, belum tersedia keterangan rinci mengenai fasilitas militer Iran yang diserang.

Di tengah situasi tersebut, Trump juga menyampaikan dukungan kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Ia menyatakan Netanyahu tidak akan ditangkap selama berada di wilayah Amerika Serikat.

“Dia sedang melawan Republik Islam Iran,” ujar Trump mengenai Netanyahu. Dukungan itu muncul ketika Israel juga terlibat dalam rangkaian saling serang yang memperlebar ketegangan kawasan.

Rangkaian serangan dan pencegatan di beberapa negara memperlihatkan bahwa konflik tidak lagi terkonsentrasi pada satu lokasi. Fokus operasi AS di Selat Hormuz menambah dimensi baru karena jalur pelayaran internasional kini ikut menjadi pusat perhatian militer.

Baca Juga