Kompensasi energi pada semester I-2026 telah mencapai Rp116,9 triliun, sedikit lebih besar daripada realisasi subsidi energi murni sebesar Rp116 triliun. Besarnya angka tersebut menjadi latar bagi rencana pemerintah menaikkan subsidi energi dalam RAPBN 2027 menjadi Rp272,95 triliun.
Total subsidi dan kompensasi energi yang terealisasi hingga semester pertama 2026 mencapai Rp233 triliun. Nilai itu setara sekitar 52,1 persen dari total pagu anggaran setahun.
Dua beban energi yang berjalan bersamaan
Subsidi energi dan kompensasi merupakan dua komponen yang perlu dibedakan dalam pengelolaan belanja pemerintah. Subsidi energi disiapkan untuk menekan harga jual BBM dan listrik, sedangkan kompensasi dapat muncul apabila terjadi gejolak harga.
Dalam RAPBN 2027, pemerintah menetapkan subsidi energi sebesar Rp272,95 triliun. Angka tersebut belum memasukkan kemungkinan tambahan kompensasi energi di luar alokasi subsidi murni.
| Realisasi Semester I-2026 | Nilai | Keterangan |
|---|---|---|
| Subsidi energi murni | Rp116 triliun | Realisasi subsidi |
| Kompensasi energi | Rp116,9 triliun | Realisasi kompensasi |
| Total subsidi dan kompensasi | Rp233 triliun | 52,1 persen dari pagu setahun |
| Subsidi energi RAPBN 2027 | Rp272,95 triliun | Untuk BBM dan listrik |
Perbandingan realisasi itu memperlihatkan beban kompensasi hampir setara dengan subsidi energi murni. Bahkan, nilai kompensasi selama semester I-2026 lebih tinggi Rp0,9 triliun dibandingkan subsidi murni.
Naik dari pagu tahun sebelumnya
Alokasi subsidi energi RAPBN 2027 meningkat Rp62,85 triliun dari pagu APBN 2026 sebesar Rp210,1 triliun. Secara persentase, kenaikannya sekitar 29,9 persen.
Anggaran tersebut menjadi bagian dari belanja perlindungan sosial yang dirancang sebesar Rp549,9 triliun. Dengan nilai lebih dari Rp272 triliun, subsidi energi menjadi salah satu komponen dominan dalam pos perlindungan sosial.
Purbaya mengungkapkan besaran subsidi energi 2027 dalam konferensi pers di Kantor Pusat DJP pada Jumat, 14 Agustus. “Subsidi energi tahun depan itu mencapai Rp272,95 triliun,” kata Purbaya.
Menurut CNN Indonesia, angka realisasi semester I-2026 dihitung dari pelaksanaan subsidi dan kompensasi energi Indonesia. Data tersebut menunjukkan kebutuhan belanja energi dapat terus membesar apabila kompensasi harus diberikan.
Rancangan subsidi untuk 2027 memberi ruang bagi pemerintah untuk menahan harga BBM dan listrik melalui anggaran subsidi. Namun, perkembangan harga tetap penting karena kompensasi berada di luar nilai Rp272,95 triliun yang telah dipatok dalam RAPBN.






