Keuntungan Besar Tak Cukup Menjaga Desa Wisata, Kampus Didorong Turun dengan Riset

Keuntungan Rp4,5 miliar yang pernah diraih Desa Wisata Setigi pada 2020 tidak sepenuhnya menjawab persoalan masa depan destinasi itu. Desa wisata di Gresik tersebut belakangan mengalami penurunan keberlanjutan meski sebelumnya berhasil mengubah bekas tambang kapur menjadi tujuan wisata alam.

Kasus Setigi menjadi alasan mengapa perguruan tinggi didorong hadir lebih dekat dalam pengembangan pariwisata. Kampus diharapkan membawa riset, inovasi, dan pendampingan agar keberhasilan desa tidak berhenti sebagai pencapaian sesaat.

Dari bekas tambang ke tantangan baru

Transformasi area bekas tambang kapur menjadi Desa Wisata Setigi menunjukkan kemampuan desa mengembangkan potensi lokal. Namun, keberhasilan membangun sebuah destinasi perlu diikuti upaya menjaga pengelolaan dan perkembangan secara berkelanjutan.

Penasihat Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Zainudin Maliki menyebut banyak desa wisata muncul di Indonesia. Tidak seluruhnya, menurut dia, dapat bertahan lama dalam menghadapi tantangan pengembangan ekonomi berbasis desa.

Zainudin berbicara dalam International Tourism Seminar di Jakarta pada Jumat, 24 Juli 2026. Ia memandang intervensi dibutuhkan untuk membantu desa wisata melanjutkan perkembangan yang sudah dirintis.

“Kami berharap perguruan tinggi dapat memberikan sentuhan inovasi dan pendampingan agar desa wisata tidak hanya sukses, tetapi juga berkelanjutan,” tegas Zainudin. Ia berharap gagasan dari institusi pendidikan tinggi dapat menjawab kebutuhan masyarakat di desa wisata.

Riset untuk menjawab kebutuhan desa

Indonesia memiliki 75.266 desa yang menyimpan peluang pengembangan melalui sektor pariwisata. Besarnya jumlah itu menjadikan dukungan pengetahuan, inovasi, dan pemberdayaan masyarakat sebagai bagian penting dari pengembangan destinasi.

Penelitian dapat memberi masukan bagi desa dalam mengelola potensi yang sudah tersedia. Pendampingan dari perguruan tinggi juga diharapkan membantu masyarakat mengembangkan destinasi secara lebih berkelanjutan.

Peran tersebut melampaui fungsi kampus sebagai tempat menyiapkan tenaga terdidik. Perguruan tinggi didorong turut menghadirkan solusi yang relevan bagi persoalan pengelolaan dan keberlangsungan ekonomi desa.

Bidang PariwisataPersoalan yang DihadapiDukungan yang Diperlukan
Desa wisataKeberlanjutan destinasiRiset, inovasi, pendampingan masyarakat
Wisata halalPersaingan globalSDM unggul, riset, kolaborasi lintas sektor

Pelajaran serupa bagi wisata halal

Kebutuhan riset dan kolaborasi juga disoroti dalam pengembangan wisata halal Indonesia. Wakil Ketua Komisi X DPR RI Kurniasih Mufidayati menilai potensi destinasi perlu ditopang sumber daya manusia yang unggul.

Kurniasih menyampaikan pernyataan itu dalam seminar Program Doktor Ilmu Komunikasi Angkatan ke-35 Sekolah Pascasarjana Universitas Sahid. Ia menilai inovasi yang lahir dari riset diperlukan untuk mendukung pertumbuhan wisata halal di Indonesia.

“Untuk menyiapkan sumber daya manusia yang unggul diperlukan kolaborasi dengan perguruan tinggi. Begitu juga dalam melahirkan inovasi melalui riset yang akan mendukung pengembangan wisata halal di Indonesia,” kata Kurniasih.

Menurutnya, persaingan di tingkat global membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Perguruan tinggi didorong mengambil bagian melalui penguatan SDM, penelitian, inovasi, serta kerja sama lintas sektor.

Desa wisata dan wisata halal sama-sama memerlukan ekosistem yang menghubungkan potensi dengan pengetahuan yang dapat diterapkan. Dalam kerangka itu, keberlanjutan menjadi ukuran penting setelah sebuah destinasi mampu menarik manfaat ekonomi pada tahap awal.

Baca Juga