Keluarga Jadi Fondasi Duta GenRe Jateng, Penobatan Bukan Akhir Tugas Remaja

Penobatan Duta GenRe Jawa Tengah 2026 diposisikan sebagai awal peran yang lebih besar bagi remaja terpilih. Mereka diharapkan mampu membawa edukasi dan perubahan positif, dengan keluarga sebagai salah satu fondasi penting pembentukan karakter.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana Provinsi Jawa Tengah, Faisa Mukti Septyani, S.Sos., M.Si., menekankan bahwa remaja membutuhkan kesempatan yang adil untuk tumbuh. Kesempatan itu diperlukan agar mereka dapat mengembangkan potensi serta menyiapkan masa depan.

Faisa menyampaikan sambutan mewakili Gubernur Jawa Tengah dalam Grand Final Apresiasi Duta GenRe Jawa Tengah 2026. Ia menilai kebijakan remaja tidak akan mencapai hasil optimal tanpa dukungan keluarga yang kuat.

Rumah disebut sebagai tempat pertama anak mengenal nilai kehidupan. Orang tua pun menjadi teladan awal dalam pembentukan karakter, sementara kasih sayang, perhatian, dan komunikasi menjadi bekal bagi remaja untuk tumbuh percaya diri.

Penguatan Program Keluarga

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyambut penguatan program keluarga yang dijalankan Kemendukbangga/BKKBN. Program tersebut mencakup penguatan peran orang tua, edukasi remaja, pencegahan perkawinan usia anak, serta pencegahan stunting dari hulu.

Arah Pembangunan Keluarga dipandang berkaitan langsung dengan upaya menyiapkan generasi muda. Remaja juga didorong mempersiapkan diri untuk membangun keluarga berkualitas pada masa mendatang sebagai investasi jangka panjang bagi Jawa Tengah.

Pesan tentang keluarga itu mengiringi kompetisi yang mempertemukan 10 pasang finalis dari kabupaten dan kota di Jawa Tengah. Mereka tampil di Balai Sasana Widya Praja, Srondol, Semarang, pada Senin, 27 Juli 2026.

Advokasi Menjadi Penentu

Kepala Perwakilan BKKBN Jawa Tengah, Ir. Rusman Efendi, MM, menegaskan bahwa Duta GenRe Jateng tidak hanya dicari sebagai pemenang kompetisi. Para peserta diproyeksikan menjadi agen perubahan yang dapat mengedukasi, menginspirasi, dan menggerakkan remaja di lingkungannya.

“Kegiatan ini tidak semata-mata memilih figur terbaik, tetapi juga membentuk agen perubahan yang mampu mengedukasi, menginspirasi, dan menggerakkan remaja di lingkungannya,” ujar Rusman. Penilaian karena itu diarahkan pula pada kemampuan peserta menjalankan advokasi.

Setiap pasangan mendapat kesempatan 90 detik untuk menyampaikan orasi mengenai program yang telah diimplementasikan di daerah asal. Dewan juri menilai gagasan, kemampuan komunikasi, dan pelaksanaan advokasi tersebut.

TahapWaktuKegiatan Utama
Pra-karantinaAwal Mei–25 Juni 2026Pembinaan, seleksi, dan pengembangan kapasitas
Karantina26 Juli 2026Persiapan finalis di Semarang
Grand final27 Juli 2026Orasi advokasi dan penilaian dewan juri

Finalis menjalani pembinaan sejak awal Mei sebelum memasuki tahap karantina pada 26 Juli di Semarang. Tema program GenRe 2026 adalah Astraloka Karya, yang dimaknai sebagai remaja berkarya dengan dampak nyata.

Suasana grand final berlangsung meriah karena pendukung dari daerah masing-masing memenuhi kegiatan. Sorak-sorai dan bunyi drum dari area belakang gedung mengiringi penampilan para finalis.

Menurut Suarabaru.id, seleksi disebut dijalankan secara objektif, transparan, dan menjunjung sportivitas. Hasil akhir belum diumumkan karena dewan juri masih menggelar rapat penentuan pemenang.

Dewan juri terdiri atas Dra. Diana Rusmawati, M.Psi., Psikolog, Aditya Yuda Pratama, SKM, dan Dra. Erna Sulistyowati, MM. Sosok yang terpilih diharapkan memiliki integritas, kepemimpinan, kreativitas, dan kepedulian terhadap isu kependudukan, keluarga, serta potensi remaja.

Baca Juga