Panggung 2026 Menguji Harapan Merah Putih, Fajar/Fikri dan Jonatan di Garis Depan

Kejuaraan Dunia 2026 akan menjadi panggung penting bagi Indonesia untuk menghentikan puasa gelar yang telah berlangsung sejak 2019. Di antara deretan wakil yang tersedia, Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri dan Jonatan Christie berada di garis depan harapan Merah Putih.

Fajar/Fikri membawa momentum setelah meraih gelar di Jepang dan China. Sementara itu, Jonatan datang sebagai salah satu unggulan yang memiliki peluang untuk melaju jauh di nomor tunggal putra.

Harapan hadir dari beberapa sektor

Indonesia tidak hanya mengandalkan dua nama tersebut dalam perburuan gelar. Putri Kusuma Wardani, Sabar Karyaman/M. Reza Pahlevi, Raymond Indra/Nikolaus Joaquin, Rachel Allessya Rose/Febi Setianingrum, dan Alwi Farhan juga berpotensi memberi hasil penting.

Kombinasi wakil berpengalaman dan pemain muda membuat Indonesia memiliki sejumlah jalur menuju podium. Namun, setiap peluang harus dibuktikan di tengah persaingan yang mengeras pada fase penentuan.

Putri menjadi wakil dengan catatan menonjol dari Kejuaraan Dunia 2025. Ia meraih medali perunggu, yang sekaligus menjadi satu-satunya medali Indonesia pada edisi tersebut.

Pencapaian Putri menunjukkan Indonesia masih mampu masuk dalam perebutan podium. Meski begitu, ambisi pada Kejuaraan Dunia 2026 tidak berhenti pada perolehan medali karena target utamanya adalah gelar juara.

Wakil IndonesiaNomor pertandinganBekal atau status
Fajar Alfian/Muhammad Shohibul FikriGanda putraGelar di Jepang dan China
Jonatan ChristieTunggal putraSalah satu unggulan
Putri Kusuma WardaniTunggal putriMedali perunggu pada 2025

Momentum Fajar/Fikri dan posisi Jonatan

Gelar di Jepang dan China membuat Fajar/Fikri memasuki turnamen dengan performa yang sedang positif. Rangkaian hasil itu meningkatkan keyakinan bahwa sektor ganda putra dapat kembali menjadi sumber kekuatan Indonesia.

Konsistensi akan menentukan peluang pasangan tersebut ketika menghadapi lawan-lawan terbaik dunia. Mereka perlu menjaga level permainan yang membawa dua gelar terakhir hingga pertandingan paling penting.

Jonatan memikul harapan dari sektor tunggal putra dengan status unggulan. Pengalaman bertanding di panggung besar menjadi modal yang dapat membantunya menghadapi perjalanan panjang dalam turnamen.

Posisi unggulan memberi nilai penting, tetapi persaingan tetap harus dilalui satu laga demi satu laga. Peluang Jonatan untuk menantang fase akhir akan sangat ditentukan oleh kemampuannya menjaga performa.

Rekor yang ingin diputus

Indonesia terakhir kali menjadi juara dunia melalui Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan pada 2019 di nomor ganda putra. Sejak keberhasilan tersebut, belum ada wakil Indonesia yang kembali berdiri di podium tertinggi.

Menurut VIVA, Indonesia tidak mengikuti Kejuaraan Dunia 2021 melalui pemain Pelatnas Cipayung. Setelahnya, penantian gelar tetap berlanjut dan kini telah memasuki tujuh tahun.

Indonesia pernah mengalami periode tanpa gelar dunia dari 2007 sampai 2013. Nova Widianto/Liliyana Natsir menjadi juara pada 2007, sebelum gelar kembali datang pada 2013 lewat Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir serta Ahsan/Hendra.

Sejarah itu memperlihatkan bahwa penantian panjang pernah dilalui Indonesia. Namun, jarak sejak 2019 membuat kebutuhan untuk kembali menjadi juara terasa semakin mendesak pada edisi 2026.

Fajar/Fikri, Jonatan, dan para wakil lain kini membawa tugas yang sama untuk mengibarkan Merah Putih di podium tertinggi. Kejuaraan Dunia 2026 akan menjadi kesempatan untuk mengubah potensi, tren positif, dan pengalaman menjadi gelar yang dinanti.

Baca Juga