Kebocoran Soal Kedokteran Mengguncang India, Dharmendra Pradhan Mengundurkan Diri

Kebocoran soal ujian masuk fakultas kedokteran di India memaksa lebih dari 2 juta peserta mengikuti ujian ulang. Dampak besar kasus itu memicu demonstrasi yang kemudian berujung pada pengunduran diri Menteri Pendidikan Dharmendra Pradhan.

Para mahasiswa dan warga menilai persoalan tersebut bukan sekadar gangguan dalam pelaksanaan ujian. Mereka memandang kebocoran soal kedokteran sebagai tanda lemahnya sistem pendidikan dan pengawasan pemerintah.

Tuntutan utama massa mencakup reformasi menyeluruh terhadap sistem ujian serta pertanggungjawaban pejabat terkait. Desakan terhadap Pradhan menguat setelah partai-partai oposisi ikut memberi tekanan politik.

Tuntutan Berujung pada Pengunduran Diri

Juru bicara nasional Partai Cockroach Janata atau CJP, Ashutosh Ranka, menyatakan kelompoknya membutuhkan kejelasan mengenai nasib Dharmendra Pradhan. Ia mengatakan pihaknya mendapat waktu pertemuan pada sore hari, yakni pukul 15.30 hingga 16.00.

Pradhan kemudian mengundurkan diri pada sore hari di tengah tekanan demonstrasi. Dalam unggahan yang dikutip Aljazeera, ia menyebut telah mengirim surat pengunduran diri kepada Perdana Menteri Narendra Modi.

“Melihat situasi yang terjadi di Jantar Mantar dan di seluruh negeri, serta agar kekuatan anti-nasional tidak memanfaatkan situasi ini, saya telah mengirimkan surat pengunduran diri saya kepada Perdana Menteri,” ujar Pradhan. Pernyataan itu menandai perkembangan besar dalam tuntutan mahasiswa terhadap pemerintah India.

PerkembanganData UtamaKonteks
Peserta ujian ulangLebih dari 2 juta orangUjian masuk kedokteran diulang akibat kebocoran soal
Internet selulerHingga hari ke-5Pemutusan diperpanjang di tengah aksi New Delhi
Stasiun metro ditutup18 stasiun selama 4 hariAkses menuju pusat Delhi dibatasi

Aksi Pemuda Menjadi Tekanan Politik

Gelombang demonstrasi ini disebut sebagai tantangan terbesar dari kalangan pemuda terhadap Narendra Modi sejak ia menjabat pada 2014. Dampaknya juga terasa di parlemen ketika sidang musim hujan yang baru dimulai ikut terganggu oleh tuntutan oposisi.

Pemerintah India dijadwalkan kembali memulai perundingan dengan para pemimpin gerakan protes Generasi Z. Perundingan itu berlangsung ketika perhatian publik tertuju pada langkah lanjutan untuk membenahi sistem ujian.

Di lapangan, demonstran tidak hanya menghadapi persoalan ujian ulang. Mereka juga menghadapi pembatasan komunikasi dan transportasi yang diberlakukan pihak berwenang di sekitar lokasi aksi.

Internet dan Metro Ditutup di Tengah Demonstrasi

Pemutusan internet seluler di India berlanjut hingga hari kelima saat demonstrasi mengguncang New Delhi. Sebanyak 18 stasiun metro ditutup selama empat hari ketika ribuan pendukung CJP menggelar unjuk rasa.

Menurut laporan CNN Indonesia yang mengutip Reuters, para pengunjuk rasa kecewa terhadap perpanjangan pembatasan internet. Namun, mereka menegaskan penutupan akses komunikasi, metro, dan bus tidak akan menghentikan warga yang ingin bergabung.

Rahul Raj mengatakan pembatasan layanan publik tidak menghasilkan dampak yang diharapkan pemerintah. “Mereka bisa memutus akses internet, layanan kereta metro, dan bus, tapi apa hasilnya? Tidak ada. Orang-orang yang ingin bergabung dalam protes akan tetap datang,” ujarnya.

Penutupan akses menuju pusat Delhi menjadi bagian dari tekanan yang dirasakan peserta aksi. Bagi demonstran, isu utama tetap terletak pada kebutuhan akan sistem ujian yang akuntabel bagi jutaan calon mahasiswa.

Baca Juga