Pembentukan kebiasaan mengelola uang pada siswa menjadi perhatian ketika indeks literasi keuangan remaja usia 15–17 tahun baru mencapai 51,68 persen. Capaian itu masih berada di bawah indeks literasi keuangan nasional sebesar 66,46 persen.
Guru dipandang memiliki peran strategis karena dapat membawa pembahasan keuangan ke dalam situasi yang dekat dengan kehidupan pelajar. Pembelajaran tidak hanya diarahkan pada konsep ekonomi, melainkan juga penerapan yang relevan dalam keseharian.
Chief Human Resources & Marketing Officer FWD Insurance Rudy F Manik menilai pengajar dapat membantu membentuk generasi yang unggul secara akademik sekaligus bijak secara finansial. FWD Insurance Indonesia kemudian menjalankan program FWD Financial Literacy for Educators untuk memperkuat kapasitas guru.
“Melalui FWD Financial Literacy for Educators, kami ingin memperkuat kapasitas guru dengan memberikan pembekalan pembelajaran keuangan yang relevan agar dapat menumbuhkan kebiasaan finansial yang sehat pada siswa,” ujar Rudy pada Selasa, 21 Juli 2026.
Pelatihan bagi Guru di Jakarta
Program tersebut berlangsung dari Februari hingga Juni 2026 dan melibatkan 30 guru ekonomi SMA dari sejumlah sekolah di Jakarta. Para peserta diharapkan dapat memperluas edukasi keuangan kepada sekitar 2.700 siswa.
| Komponen | Rincian | Jumlah atau Lokasi |
|---|---|---|
| Pelaksanaan | Februari–Juni 2026 | Jakarta |
| Peserta | Guru ekonomi SMA | 30 guru |
| Sasaran edukasi | Siswa | Sekitar 2.700 siswa |
FWD Insurance Indonesia mengembangkan program ini bersama Prestasi Junior Indonesia atau PJI. Kolaborasi tersebut meliputi penyusunan modul, pelatihan guru, dan materi asesmen untuk sertifikasi.
Relawan FWD Insurance turut mendukung penyusunan materi serta evaluasi program. Keterlibatan itu ditujukan agar pembelajaran tetap berkaitan dengan kebutuhan di ruang kelas.
Guru yang menyelesaikan rangkaian pelatihan dan sertifikasi memperoleh apresiasi melalui FWD Financial Literacy for Educators Appreciation Day. Kegiatan itu menjadi pengakuan atas komitmen mereka mengikuti pengembangan kompetensi.
Kesenjangan yang Masih Lebar
Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan yang dilakukan Otoritas Jasa Keuangan bersama Badan Pusat Statistik menunjukkan kesenjangan kemampuan finansial pada usia sekolah. Indeks kelompok remaja berjarak 14,78 poin persentase dari indeks nasional.
| Indikator | Kelompok | Nilai Indeks |
|---|---|---|
| Literasi keuangan | Usia 15–17 tahun | 51,68% |
| Literasi keuangan | Nasional | 66,46% |
Kondisi tersebut memperlihatkan perlunya penguatan Literasi Keuangan Remaja secara terus-menerus sejak usia dini. Pendidikan sekolah dapat menjadi ruang untuk memperluas pemahaman siswa mengenai keputusan finansial yang bijak.
Literasi keuangan sudah menjadi bagian dari pembelajaran ekonomi tingkat SMA dalam Kurikulum Merdeka. Materi ini memberi ruang bagi guru untuk mengaitkan pelajaran dengan praktik pengelolaan uang sehari-hari.
Ketua Subkelompok Kurikulum dan Penilaian Bidang SMA Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta, Joko Arwanto, menilai sinergi pemerintah, pendidikan, dan sektor swasta penting dalam peningkatan mutu pendidikan. Kolaborasi tersebut juga dipandang membantu penguatan kapasitas guru saat menyampaikan materi kepada siswa.
Deputi Direktur Pelaksanaan Edukasi Keuangan OJK Halimatus Sa’diyah menekankan pentingnya edukasi yang berkelanjutan. Peran Guru Ekonomi SMA dinilai besar dalam memperluas jangkauan pembelajaran agar generasi muda lebih siap mengambil keputusan finansial pada masa depan.






