Kapolda Papua Barat Daya Brigjen Yulius Audie Sonny Latuheru menyampaikan pesan langsung kepada jajarannya agar lebih mencari pengakuan dari warga ketimbang dari atasan. Ia meminta anggota Polri menjadikan kepuasan publik sebagai hasil yang harus dikejar dalam bekerja.
Pesan itu disampaikan dengan penegasan bahwa pujian pimpinan bukan ukuran utama kinerja kepolisian. Bagi Audie, kepercayaan masyarakat lebih menentukan citra institusi di tengah publik.
Pesan “Cari Muka” untuk Masyarakat
Dalam arahannya, Audie menggunakan istilah customer centric review untuk menggambarkan orientasi yang perlu dibangun personel. Ia membandingkannya dengan commander centric review yang berpusat pada penilaian pimpinan.
“Kejar customer centric review, bukan commander centric review. Cari muka kepada masyarakat, jangan cari muka ke saya,” kata Audie pada Sabtu, 25 Juli 2026.
Ia meminta setiap anggota mengarahkan tugasnya pada kebutuhan warga. Indeks kepuasan dan kepercayaan masyarakat disebut harus menjadi tolok ukur utama keberhasilan kepolisian.
Audie menilai pelayanan yang baik akan membentuk penilaian publik terhadap Polri. Sebaliknya, pengakuan dari internal tidak cukup bila masyarakat belum merasakan manfaat dari kehadiran aparat.
Warga Harus Mendapat Jawaban
Jajaran kepolisian juga diminta cepat merespons setiap laporan dan aduan gangguan keamanan serta ketertiban. Penanganan masalah warga tidak boleh ditunda tanpa alasan yang jelas.
Audie menuntut anggota mampu berkomunikasi secara baik dan cepat. Masyarakat, menurutnya, tidak boleh dibuat kesulitan ketika mencari jawaban atas persoalan yang mereka sampaikan.
“Jangan biarkan masyarakat kesulitan mencari jawaban atas permasalahan yang ditanyakan,” ujarnya. Personel diharapkan menjadi polisi yang solutif dan mampu memberikan jalan keluar efektif di lapangan.
Hukum dan Diskresi dengan Empati
Dalam pelaksanaan penegakan hukum, Audie mengingatkan pentingnya penggunaan hati nurani. Diskresi dan keputusan di lapangan harus disertai empati serta kepekaan moral.
Ia meminta personel memperhatikan kearifan lokal yang hidup di Papua Barat Daya. Prinsip tiga tungku yang meliputi agama, adat, dan pemerintah perlu dihormati saat menjalankan tugas.
Penekanan tersebut ditujukan agar aparat mampu bertindak profesional sekaligus memahami situasi masyarakat. Pendekatan yang tepat dinilai diperlukan dalam menjaga keamanan dan ketertiban.
Polisi Hadir untuk Melayani
Audie kembali mengingatkan jati diri Polri sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat. Ia menegaskan bahwa aparat ada untuk memberikan layanan, bukan menuntut layanan dari warga.
“Keberadaan Polri adalah untuk melayani kepentingan publik, dalam hal keamanan dan ketertiban. Hakikat pelayanan adalah melayani bukan dilayani,” katanya.
Setiap anggota diminta menjadi pembawa manfaat di tengah masyarakat. Jika tidak dapat memberi manfaat, personel setidaknya tidak boleh menimbulkan kerugian bagi warga.
Arahan itu merupakan bagian dari tujuh pedoman dalam Commander Wish Polri yang disampaikan Audie setelah menerima tongkat komando pada 8 Juli 2026. Perwira lulusan Akpol 1996 itu meminta pedoman tersebut menjadi pegangan bagi seluruh jajaran di Papua Barat Daya.
Pesan tersebut menempatkan kualitas hubungan dengan masyarakat sebagai bagian penting dari kerja kepolisian. Pelayanan yang cepat, empatik, dan bermanfaat menjadi arah yang ditekankan oleh Kapolda Papua Barat Daya.






