PBB menegaskan kapal sipil tidak boleh menjadi sasaran serangan ketika sekitar 6.000 pelaut masih tertahan di Selat Hormuz. Penegasan ini muncul saat ketegangan di Timur Tengah kembali mengancam keselamatan awak kapal di ratusan kapal.
Perlindungan kapal sipil telah diatur dalam hukum humaniter internasional. Namun, para pelaut masih membutuhkan jalur aman untuk turun dari kapal dan meninggalkan kawasan dengan selamat.
Desakan Menghentikan Serangan terhadap Kapal Sipil
Komisaris Tinggi HAM PBB Volker Turk menyampaikan posisi itu melalui juru bicaranya, Shabia Mantoo, dalam konferensi pers di Jenewa pada Jumat (24/7). PBB menilai perlindungan bagi awak kapal tidak dapat dipisahkan dari kewajiban menjaga kapal sipil dari serangan.
“Serangan terhadap kapal sipil tidak dapat diterima dan harus dihentikan. Kapal-kapal tersebut dilindungi oleh hukum humaniter internasional,” tegas Mantoo.
Komite HAM PBB meminta pemerintah, perusahaan pelayaran, dan pihak terkait meningkatkan perlindungan bagi para awak yang masih tertahan. Upaya itu mencakup bantuan konsuler, penyediaan kebutuhan pokok, serta percepatan proses evakuasi dan repatriasi.
| Kebutuhan Mendesak | Tujuan |
|---|---|
| Jalur aman | Memungkinkan awak turun dari kapal dan dievakuasi |
| Pasokan penting | Menjaga kebutuhan pelaut selama tertahan |
| Bantuan konsuler | Mendukung perlindungan dan pemulangan awak kapal |
Evakuasi dan Pemulangan Jadi Tuntutan Utama
PBB mendesak semua pihak yang bertikai segera bekerja sama untuk memfasilitasi jalur aman. Jalur itu diperlukan agar pelaut dapat dievakuasi dan dipulangkan ke negara asal masing-masing.
Mantoo menyatakan pembukaan akses aman juga penting untuk memastikan pengiriman pasokan yang dibutuhkan. Permintaan tersebut menunjukkan bahwa keselamatan awak kapal tidak boleh diperlakukan hanya sebagai persoalan teknis pelayaran.
Menurut Organisasi Maritim Internasional atau IMO, sedikitnya 6.000 pelaut masih berada di Selat Hormuz. Mereka tersebar di ratusan kapal yang belum dapat meninggalkan wilayah tersebut di tengah kondisi keamanan yang memburuk.
Konflik Menekan Jalur Pelayaran Strategis
Selat Hormuz merupakan jalur penting bagi pelayaran internasional. Karena perannya yang strategis, gangguan keamanan di kawasan ini segera menarik perhatian terhadap keselamatan kapal dan awaknya.
Militer Amerika Serikat menyatakan perairan tersebut masih terbuka bagi pelayaran internasional. Meski demikian, Iran disebut terus meningkatkan tekanan terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz.
Ketegangan terbaru meningkat setelah Amerika Serikat melancarkan serangan baru ke Iran pada Jumat. Serangan itu disebut sebagai respons atas aksi kelompok Houthi yang didukung Teheran terhadap kapal-kapal tanker minyak di Laut Merah.
Dampak eskalasi turut terasa di pasar energi global ketika harga minyak mentah dunia menembus US$100 per barel untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan terakhir. Di tengah tekanan konflik tersebut, PBB meminta keselamatan pelaut dan perlindungan kapal sipil segera ditempatkan sebagai prioritas.






