Bali Masih Menunggu Infrastruktur, Jakarta Didorong Jadi Awal Pusat Finansial Indonesia

Jakarta dipilih sebagai titik awal pengoperasian Pusat Finansial Internasional Indonesia atau PFII karena infrastruktur digital dan konektivitasnya telah tersedia. Pemerintah ingin proyek ini segera bergerak tanpa menunggu pembangunan kawasan baru dalam waktu lama.

Pilihan tersebut menciptakan pembagian peran dengan Bali yang tetap disiapkan sebagai visi pusat finansial jangka panjang. Bali dinilai memiliki karakter lebih eksklusif, tetapi masih membutuhkan gedung, fasilitas, dan infrastruktur pendukung.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani menyebut keputusan memulai dari Jakarta berkaitan dengan arahan Presiden untuk segera memanfaatkan momentum. “Lokasinya untuk awal ini memang di Jakarta dulu. Kenapa? Karena Bapak Presiden ini pengen semua langsung kerja, ada momentumnya ya,” kata Rosan.

LokasiFungsi dalam RencanaAlasan Pengembangan
JakartaOperasional awal PFIIKesiapan infrastruktur digital dan konektivitas
BaliPusat finansial jangka panjangPotensi lingkungan eksklusif, tetapi perlu pembangunan pendukung

Keputusan itu menunjukkan bahwa PFII tidak menunggu seluruh rencana kawasan selesai untuk memulai kegiatan. Pemerintah memilih memakai kesiapan Jakarta sambil melanjutkan pembangunan fasilitas di Bali secara bertahap.

PFII Mengejar Kepercayaan Modal Global

PFII disiapkan untuk menarik modal global dalam skala besar melalui ekosistem keuangan yang transparan, aman, dan mengikuti standar internasional. Fokusnya mencakup kebutuhan investor besar serta pengelola kekayaan keluarga atau family office.

Indonesia selama ini disebut menghadapi hambatan dalam menarik smart money karena struktur dan ekosistem investasi belum terintegrasi sepenuhnya. Investor besar menempatkan kepastian regulasi dan keamanan sistem sebagai pertimbangan utama.

Pemerintah bersama Kementerian Keuangan sedang menyusun perencanaan agar format PFII memenuhi harapan pelaku industri global. Struktur yang kredibel dipandang penting karena investor tidak hanya menilai besaran insentif yang tersedia.

Rancangan PFII juga mencakup infrastruktur teknologi finansial, transaksi digital berkecepatan tinggi, dan keamanan siber. Dengan pendekatan ini, proyek tersebut diposisikan sebagai pembaruan arsitektur keuangan nasional.

Minat Investor Asia Menjadi Sinyal Awal

Rosan menyatakan respons investor terhadap rencana PFII cukup positif. Dalam pertemuan di Nusa Dua, Bali, sebanyak 110 peserta dari Asia hadir meski undangan awal ditujukan kepada 70 orang.

“Kita undang ada 70 untuk Asia tapi yang datang sampai 110 dan response-nya alhamdulillah boleh saya sampaikan sebetulnya sangat positif,” ujar Rosan. Pernyataan itu disampaikan dalam Konferensi Pers RAPBN dan Nota Keuangan Tahun Anggaran 2027 di Jakarta, Jumat (14/08/2026).

Antusiasme tersebut memberi gambaran adanya perhatian terhadap peluang pembentukan pusat finansial internasional di Indonesia. Namun, daya tarik jangka panjang PFII tetap bergantung pada kesiapan sistem dan kepastian kerangka kelembagaannya.

UU P2SK dan Pembangunan oleh Danantara

PFII memiliki landasan melalui Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan atau UU P2SK. Kehadiran landasan hukum ini menempatkan proyek tersebut dalam agenda penguatan sektor keuangan, bukan sekadar pengembangan kawasan fisik.

Danantara Indonesia akan berperan sebagai pembangun infrastruktur, gedung, dan fasilitas pendukung PFII. Rosan menyebut peran tersebut berfokus pada kebutuhan fisik kawasan finansial.

“Kalau Danantara ini kita sebetulnya hanyalah sebagai pembangun untuk infrastrukturnya, gedung, dan sarana infrastruktur lainnya,” tambah Rosan. Sarana yang dibangun diharapkan menopang layanan keuangan digital dan kebutuhan perlindungan siber.

Jika PFII berjalan sesuai rencana, Indonesia berpeluang menjadi tujuan baru dana kelolaan global yang banyak ditempatkan di luar negeri. Pemerintah juga menyiapkan sosialisasi berkala kepada investor dari Eropa dan Timur Tengah setelah menjangkau pelaku pasar Asia.

Masuknya dana global diharapkan menciptakan lapangan kerja pada sektor keuangan dan teknologi. Penguatan cadangan devisa juga menjadi salah satu dampak yang ditargetkan dari terbentuknya ekosistem tersebut.

Baca Juga