Israel Masih Bingung Menghitung Sisa Rudal Iran, Fasilitas yang Rusak Mulai Pulih

Israel belum memiliki satu angka pasti mengenai jumlah rudal jarak jauh Iran yang tersisa setelah perang. Sebagian pejabat memperkirakan jumlahnya sekitar 500 rudal, sedangkan penilaian lain menyebut persediaan itu dapat mencapai sekitar 1.000 rudal.

Perbedaan perhitungan tersebut muncul ketika Iran dinilai mulai memulihkan akses dan produksi persenjataan di fasilitas yang sebelumnya terkena serangan. Situasi itu membuat ancaman rudal Teheran kembali menjadi perhatian serius bagi pejabat pertahanan Israel.

Akses fasilitas bawah tanah dibuka kembali

The New York Times melaporkan Iran memakai buldoser untuk membuka kembali jalur menuju fasilitas rudal bawah tanah yang tertutup akibat serangan Israel. Pembukaan akses itu menunjukkan adanya upaya untuk mengaktifkan kembali lokasi yang terdampak kerusakan.

Sejumlah pejabat pertahanan senior Israel mengakui Iran menemukan cara baru untuk memprioritaskan pemulihan kemampuan rudalnya. Upaya tersebut berlangsung ketika sebagian wilayah dan infrastruktur Iran masih mengalami dampak dari serangan besar.

The Jerusalem Post menyatakan telah mengonfirmasi pernyataan sejumlah pejabat senior Iran mengenai produksi senjata baru yang kembali berjalan. Menurut laporan itu, pemulihan produksi berlangsung lebih cepat daripada perkiraan Israel.

Kecepatan pemulihan tersebut mengejutkan IDF dan Mossad. Kalangan ahli IDF sebelumnya menilai kerusakan akibat perang sejak Februari 2026 akan menghambat pemulihan sektor pertahanan Iran selama bertahun-tahun.

WaktuPerkiraan atau perkembanganAngka yang disebut
Juni 2025Estimasi persediaan rudal IranSekitar 1.300 rudal
Februari 2026Estimasi persediaan rudal IranSekitar 2.500 rudal
Pascaperang 2026Perkiraan rudal jarak jauh tersisaSekitar 500 hingga 1.000 rudal

Persediaan meningkat setelah serangan

Estimasi Israel mencatat jumlah rudal Iran bertambah dari sekitar 1.300 unit pada Juni 2025 menjadi sekitar 2.500 unit pada Februari 2026. Kenaikan itu terjadi meski Israel telah melancarkan serangan berulang terhadap target rudal dan industri militer Iran.

Pada Oktober 2024, Israel menyerang 20 target penting yang berkaitan dengan rudal balistik dan industri militer Iran. Setelah operasi tersebut, Israel sempat memperkirakan produksi rudal Iran akan tertunda setidaknya selama satu tahun.

Penilaian itu berubah pada awal 2025 setelah Israel menyimpulkan Iran telah memulihkan laju produksi rudal balistik. Israel kemudian mempercepat rencana serangan lanjutan yang sebelumnya diproyeksikan berlangsung pada akhir 2025 menjadi Juni pada tahun yang sama.

Pada serangan Juni 2025, sekitar 100 target terkait rudal dan industri militer Iran diserang. IDF ketika itu menyatakan telah menemukan cara untuk menghambat produksi rudal Iran selama beberapa tahun.

Israel dan Amerika Serikat kemudian melaksanakan operasi yang lebih besar dalam perang sekitar 40 hari pada 2026. Lebih dari 2.600 target yang terkait rudal dan industri militer Iran diserang dalam operasi tersebut.

Secara keseluruhan, Amerika Serikat dan Israel disebut melakukan sekitar 30.000 serangan terhadap beragam sasaran di Iran. Pejabat IDF menyatakan hampir seluruh komponen industri militer Iran, dari fasilitas besar sampai kecil, mengalami kerusakan berat.

Namun, pemulihan akses fasilitas dan kembalinya produksi senjata memperlihatkan bahwa kerusakan itu tidak sepenuhnya menghentikan kemampuan Iran. Ketidakpastian mengenai sisa rudal jarak jauh juga membuat Israel masih harus menilai ulang kapasitas persenjataan Teheran pascaperang.

Baca Juga