Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melintasi Selat Hormuz, jalur yang kini belum dibuka penuh oleh Iran. Teheran menetapkan dua penentu utama, yakni keberhasilan penetapan rute pelayaran baru dan pemenuhan syarat oleh Amerika Serikat.
Langkah tersebut diambil di tengah penurunan tingkat keamanan pada rute lama. Iran sedang membahas rancangan jalur alternatif bersama Oman dengan melibatkan ahli dan Angkatan Bersenjata Iran.
Dua Syarat Sebelum Akses Penuh
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan rute yang sedang dibahas akan dimulai sebagai jalur sementara. Targetnya, rute tersebut dapat berkembang menjadi jalur permanen untuk pelayaran di Selat Hormuz.
“Saat ini kami bersama para ahli dan Angkatan Bersenjata Iran sedang merancang rute sementara yang nantinya ditargetkan menjadi rute permanen,” jelas Araghchi. Pembahasan teknis dengan Oman masih berada pada tahap perancangan.
Iran belum menyatakan kapan rute tersebut akan selesai ditetapkan. Araghchi menekankan bahwa penentuan jalur baru merupakan bagian penting sebelum pembukaan selat secara penuh dapat diputuskan.
Faktor kedua berada pada sikap Amerika Serikat terhadap tuntutan yang diajukan Teheran. Iran menyebut pembukaan penuh hanya akan dipertimbangkan apabila Washington mematuhi berbagai syarat utama tersebut.
“Setelah rute baru berhasil ditentukan, keputusan apakah Selat Hormuz akan dibuka kembali sepenuhnya bergantung pada pemenuhan berbagai syarat utama yang harus dipatuhi oleh Amerika Serikat,” kata Araghchi. Ia tidak memerinci isi persyaratan itu.
Komunikasi Tidak Langsung Tetap Berjalan
Di jalur diplomatik, Iran belum membuat keputusan untuk kembali melakukan negosiasi tidak langsung dengan Amerika Serikat. Qatar dan Pakistan masih memfasilitasi pertukaran pesan serta berkomunikasi dengan pihak Iran.
Araghchi menegaskan aktivitas tersebut tidak dapat diperlakukan sebagai proses perundingan resmi. “Qatar dan Pakistan memang masih terus memfasilitasi pertukaran pesan dan berkomunikasi dengan kami. Namun, itu tidak bisa disamakan dengan negosiasi,” ujarnya.
Investor Daily melaporkan pernyataan Araghchi pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Penjelasan itu menunjukkan bahwa keberadaan perantara belum berarti Iran dan Amerika Serikat telah kembali ke meja perundingan.
Iran Bantah Narasi Gencatan Senjata 60 Hari
Araghchi juga membantah kabar mengenai perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari. Menurutnya, penyebutan itu tidak sesuai dengan maksud Memorandum Islamabad yang dimediasi Pakistan pada Juni 2026.
Iran memandang Memorandum Islamabad sebagai dokumen untuk mengakhiri konfrontasi militer secara permanen. Karena itu, Teheran menolak menggambarkannya sebagai dasar untuk memperpanjang gencatan senjata dengan jangka waktu tertentu.
“Yang tercantum dalam Memorandum Islamabad adalah berakhirnya perang, bukan gencatan senjata. Amerika Serikat melanggar memorandum tersebut sehingga pertempuran kembali pecah,” tegas Araghchi.
Ia menerangkan bahwa periode 60 hari dalam dokumen awal dipakai untuk diplomasi intensif dalam merumuskan kesepakatan akhir. Periode itu, menurut Iran, memiliki fungsi yang berbeda dari penghentian pertempuran sementara.
Rancangan jalur baru di Selat Hormuz dengan demikian berjalan bersamaan dengan komunikasi diplomatik yang belum menjadi negosiasi. Keputusan mengenai akses penuh selat tetap ditempatkan Iran pada dua hal, yaitu kesiapan rute dan pemenuhan syarat oleh Amerika Serikat.






