Iran melalui Korps Garda Revolusi Iran atau IRGC memperingatkan warga sipil agar menjauh sedikitnya 500 meter dari bangunan yang disebut menjadi lokasi persembunyian pasukan Amerika Serikat. Peringatan itu berfokus pada bangunan di kawasan perkotaan di negara-negara tempat militer AS ditempatkan.
IRGC menyebut sejumlah perwira dan personel Amerika telah meninggalkan pangkalan mereka karena khawatir menjadi target serangan. Mereka, menurut IRGC, berpindah ke gedung-gedung perkotaan untuk mengarahkan operasi militer.
Informasi mengenai perpindahan tersebut belum dapat diverifikasi secara independen. IRGC juga tidak membeberkan lokasi spesifik atau identitas bangunan yang dimaksud dalam peringatannya.
Melalui pernyataan yang dikutip Turkiye Today, IRGC meminta masyarakat umum segera menjauh demi keselamatan. “Kami memperingatkan masyarakat umum di negara-negara tempat tentara Amerika ditempatkan agar segera menjauh setidaknya 500 meter dari lokasi tempat tentara Amerika bersembunyi demi keselamatan mereka,” kata kelompok itu.
Ancaman Disertai Ajakan Melapor
IRGC turut meminta warga melaporkan lokasi baru keberadaan pasukan AS melalui kanal resmi Telegram dan situs web mereka. Langkah itu disebut memperluas pengawasan terhadap pergerakan militer Amerika di kawasan.
Peringatan kepada warga sipil disampaikan ketika Iran meningkatkan retorika terhadap Amerika Serikat. IRGC menyatakan akan menyerang lokasi yang disebut digunakan personel AS jika Washington meneruskan operasi militernya terhadap Iran.
Ketegangan juga berlangsung ketika militer AS disebut terus melakukan serangan malam hari terhadap sasaran militer Iran. Presiden AS Donald Trump pada saat yang sama menyatakan tengah mempertimbangkan serangan baru dalam skala besar terhadap Iran.
Klaim Serangan yang Belum Terverifikasi
Dalam pernyataan operasional ke-47, IRGC mengklaim telah menyerang Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait menggunakan drone berat. Kelompok tersebut menyebut sebuah gudang amunisi berukuran besar hancur dalam operasi itu.
IRGC juga menyatakan enam bangunan barak hancur dan tiga bangunan lain mengalami kerusakan berat. Mereka mengklaim banyak personel militer AS tewas atau terluka, tetapi dampak serangan tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
| Lokasi | Sasaran yang Disebut | Pernyataan IRGC |
|---|---|---|
| Kuwait | Pangkalan Udara Ali Al Salem | Drone berat disebut menghancurkan gudang amunisi besar, enam barak, serta merusak tiga bangunan lain. |
| Bahrain | Sisa bangunan pusat data Amazon | Disebut dihancurkan dalam gelombang ke-27 Operasi Nasr 2. |
IRGC menuduh pemerintah AS menyembunyikan angka korban sebenarnya dan mengatakan korban tewas telah mencapai ratusan orang dalam lima bulan terakhir. Data Defense Casualty Analysis System milik Pentagon yang dikutip Sky News justru mencatat 14 personel militer AS tewas.
Hingga informasi itu diberitakan Kompas.com, belum ada tanggapan resmi dari Pentagon maupun otoritas Kuwait mengenai klaim serangan di Ali Al Salem. Perbedaan besar antara klaim IRGC dan data Pentagon membuat angka korban tidak dapat dipastikan dari laporan yang tersedia.
Tuduhan terhadap Pusat Data Amazon
IRGC dalam pernyataan lain menyebut sisa bangunan pusat data Amazon di Bahrain menjadi sasaran gelombang ke-27 Operasi Nasr 2. Iran menuduh fasilitas tersebut membantu kebutuhan informasi militer Amerika Serikat.
Kelompok itu sebelumnya juga mengaku menyerang fasilitas yang sama pada Rabu, 22 Juli 2026. Amazon dan pemerintah Bahrain belum memberikan tanggapan atas klaim tersebut.
IRGC juga menuduh Washington menyerang infrastruktur sipil Iran, termasuk jembatan, dermaga nelayan, kapal sipil, kendaraan, serta jalur kereta api. Tuduhan itu turut mencakup korban di kalangan peziarah Arbaeen di perbatasan Irak dan belum disertai verifikasi independen.
IRGC menegaskan operasi yang mereka sebut sebagai “operasi penghukuman” akan berlanjut. Dengan belum jelasnya lokasi yang dimaksud dalam peringatan 500 meter itu, warga sipil di sekitar basis militer AS menghadapi situasi yang semakin sulit dipastikan.






