Iran memperingatkan bahwa setiap tindakan Amerika Serikat akan segera mendapat balasan tegas. Peringatan itu disampaikan bersamaan dengan bantahan Teheran terhadap kabar gencatan senjata selama 10 hari dan negosiasi langsung antara kedua negara.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menyatakan kondisi yang relatif lebih tenang dalam beberapa hari terakhir terjadi karena kehati-hatian Angkatan Bersenjata Iran. Ia menilai seluruh tanggung jawab atas situasi yang berkembang berada di tangan Washington.
Teheran Soroti Serangan di Jalur Mashhad dan Shalamcheh
Baqaei turut menyinggung serangan terbaru terhadap jalur menuju Mashhad dan Shalamcheh. Menurutnya, serangan tersebut mencerminkan permusuhan Amerika Serikat terhadap nilai-nilai yang dianggap suci oleh rakyat Iran dan merupakan contoh kejahatan perang.
Ia juga menyamakan pendekatan Amerika Serikat dengan perilaku kelompok mafia. Baqaei menilai peluang membangun proses yang rasional akan sulit terbuka selama pendekatan itu tetap digunakan.
Fokus pemerintah Iran kini diarahkan pada pertahanan, sebagaimana dilaporkan IRNA yang dikutip Liputan6.com. Sikap itu dipertahankan di tengah tuduhan Teheran bahwa Washington telah melanggar kesepakatan yang sebelumnya disusun kedua pihak.
Iran Menolak Kabar Jeda Konflik dan Pembicaraan Langsung
Dalam konferensi pers di Teheran pada Senin (27/7/2026), Baqaei membantah spekulasi mengenai kemungkinan gencatan senjata 10 hari. Ia juga menyangkal laporan bahwa Iran mengajukan permintaan untuk berbicara langsung dengan Amerika Serikat.
Baqaei menyebut klaim soal usulan dialog langsung itu sebagai rekayasa. Dengan bantahan tersebut, Iran menegaskan tidak ada perundingan langsung yang berlangsung antara Teheran dan Washington.
Komunikasi yang diakui Iran saat ini hanya berbentuk pembicaraan bilateral dengan Oman. Pembahasan itu berkaitan dengan Selat Hormuz, bukan dengan proses negosiasi antara Iran dan Amerika Serikat.
Tuduhan Pelanggaran Kesepakatan Menjadi Dasar Sikap Iran
Menurut Baqaei, penolakan Iran berhubungan langsung dengan nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU). Ia menuduh Amerika Serikat melanggar seluruh isi MoU dalam waktu kurang dari 23 hari sejak kesepakatan itu ditandatangani.
| Rangkaian yang Disampaikan Iran | Waktu | Implikasi Menurut Teheran |
|---|---|---|
| Pelanggaran seluruh isi MoU | Kurang dari 23 hari | Iran menangguhkan pelaksanaan komitmennya. |
| Serangan besar-besaran AS | Hari ke-22 | Disebut mendahului tenggat 30 hari bagi Iran. |
Baqaei secara khusus menyatakan serangan besar-besaran Amerika Serikat dimulai pada hari ke-22. Iran menilai langkah itu dilakukan ketika tenggat 30 hari untuk menjalankan komitmennya belum berakhir.
Teheran kemudian menyatakan tidak akan berkompromi atas prinsip dan keamanan nasional. Dalam pandangan Iran, persoalan yang menghambat hubungan kedua pihak bukan semata-mata bentuk dialog, melainkan dugaan pelanggaran terhadap kesepakatan tersebut.
Aktivitas Kapal di Selat Hormuz Ikut Dipersoalkan
Baqaei menuduh Amerika Serikat bekerja sama dengan sejumlah negara regional untuk mengalihkan kapal komersial dari jalur utara yang dianggap aman menuju jalur selatan yang dinilai tidak aman. Ia mengaitkan tuduhan itu dengan perkembangan keamanan di Selat Hormuz.
Ia menyebut tiga kapal dari Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab mematikan sistem pelacakan pada hari yang sama. Tindakan tersebut dinilai Iran bertentangan dengan MoU dan menunjukkan adanya koordinasi dengan Amerika Serikat.
Baqaei juga menuduh kapal-kapal komersial tersebut digunakan untuk mengangkut perlengkapan militer, tanpa memerinci muatannya. Di tengah tuduhan itu, posisi resmi Iran tetap sama, yakni mengutamakan pertahanan dan hanya mengakui dialog dengan Oman mengenai Selat Hormuz.






