Situasi Iran akan menjadi salah satu agenda utama dalam pertemuan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dengan Presiden AS Donald Trump pekan depan. Netanyahu mengatakan kedua pihak akan membahas seluruh isu strategis yang sedang menjadi perhatian Israel dan Amerika Serikat.
Pembicaraan itu juga akan menyoroti Mahkamah Pidana Internasional atau ICC, setelah Netanyahu menyebut Washington berniat mengambil tindakan terhadap lembaga tersebut. Ia tidak menjelaskan bentuk tindakan yang mungkin ditempuh pemerintah AS.
Pertemuan Berfokus pada Isu Strategis
Netanyahu menyampaikan agenda pertemuan itu saat membuka rapat kabinet mingguan pada Minggu (26/7/2026). Ia menempatkan Iran sebagai isu yang memerlukan pembahasan langsung dengan Trump.
“Kami akan membahas semua isu yang saat ini menjadi agenda, termasuk situasi di Iran,” ujar Netanyahu, seperti dikutip Times of Israel. Keterangan itu tidak memuat rincian lebih jauh mengenai materi pembicaraan kedua pemimpin.
Selain Iran, isu ICC mengemuka dalam pernyataan Netanyahu di rapat kabinet tersebut. Ia menilai keberadaan lembaga itu mengancam hak negara demokratis yang berdaulat dalam menjalankan kedaulatannya.
“Amerika Serikat berniat mengambil tindakan terhadap Mahkamah Pidana Internasional, yang membahayakan keadilan di seluruh dunia dan juga mengancam hak negara-negara demokratis yang berdaulat untuk menjalankan kedaulatannya,” kata Netanyahu. Pernyataan itu disampaikan tanpa penjelasan mengenai langkah spesifik dari Washington.
| Pokok Agenda | Keterangan | Status yang Disampaikan |
|---|---|---|
| Situasi Iran | Isu strategis Israel dan AS | Akan dibahas Netanyahu dan Trump |
| ICC | Netanyahu menilai lembaga itu mengancam kedaulatan | AS disebut berniat bertindak |
| Tepi Barat | Operasi penggeledahan dan penangkapan | Pemerintah siap memperluas tindakan |
Telepon dengan Marco Rubio
Netanyahu sebelumnya berbicara melalui telepon dengan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pada Sabtu (25/7/2026) malam. Beritasatu.com menyebut Rubio dalam percakapan tersebut menegaskan niat pemerintah AS untuk mengambil tindakan terhadap ICC.
Informasi itu memperkuat posisi ICC sebagai salah satu topik dalam komunikasi Israel dengan pemerintahan AS. Namun, bentuk kebijakan yang dimaksud tidak dijelaskan dalam pernyataan Netanyahu maupun keterangan mengenai percakapannya dengan Rubio.
Netanyahu kembali menyoal surat perintah penangkapan yang sebelumnya dikeluarkan ICC terhadap dirinya dan mantan Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant. Ia menuduh lembaga tersebut telah bertindak melampaui kewenangannya.
Ia turut melontarkan tuduhan terhadap mantan Kepala Jaksa ICC Karim Khan. Netanyahu menyatakan surat perintah itu diterbitkan untuk mengalihkan perhatian dari persoalan yang dihadapi Khan sendiri.
“Hal itu memperlihatkan motif sebenarnya serta kurangnya keadilan dan adanya korupsi mendalam, bukan hanya di Kantor Jaksa, tetapi juga di Mahkamah Pidana Internasional secara keseluruhan,” ujar Netanyahu. Tuduhan itu disampaikan dalam rangkaian kritiknya terhadap proses di ICC.
Keamanan Tepi Barat Menjadi Latar
Di dalam negeri, Netanyahu juga membahas operasi militer Israel di Tepi Barat setelah bentrokan mematikan pada Jumat (24/7/2026). Pemerintah, katanya, telah memerintahkan militer memasuki sejumlah desa untuk melakukan penggeledahan.
Operasi tersebut mencakup penyitaan senjata serta penangkapan pihak-pihak yang diduga terlibat dalam bentrokan. Netanyahu menegaskan pemerintah siap mengambil tindakan lebih luas terhadap basis kelompok yang disebutnya teroris.
Di luar rangkaian isu tersebut, Netanyahu mengatakan akan menghadiri pemakaman Senator AS Lindsey Graham. Ia menyebut Graham sebagai salah satu sahabat terbesar Israel sejak negara itu didirikan.
“Lindsey Graham adalah salah satu sahabat terbesar Israel sejak negara ini didirikan. Sudah sepantasnya kami memberikan penghormatan terakhir kepadanya,” kata Netanyahu.






