Optimisme pasar terhadap target pertumbuhan ekonomi 6% dalam RAPBN 2027 belum serta-merta menghapus kewaspadaan investor asing. Persepsi risiko dan kredibilitas kebijakan tetap menjadi faktor penting bagi arah IHSG setelah respons positif awal.
Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi menyoroti bahwa IHSG sebelumnya baru mendapat tekanan dari sentimen MSCI. Kondisi tersebut membuat pasar membutuhkan rekam jejak pelaksanaan kebijakan sebelum memperpanjang optimisme.
Pasar membedakan respons jangka pendek dan panjang
Target pertumbuhan ekonomi 6% dipandang dapat mengangkat sentimen saham dalam waktu dekat. Pemerintah mengirimkan sinyal kepercayaan terhadap arah ekonomi nasional melalui sasaran makro yang dipasang dalam RAPBN 2027.
Wafi menilai pasar dapat merespons positif pada tahap awal, tetapi akan semakin cermat dalam jangka panjang. Investor akan menguji apakah target tersebut disertai program yang memadai, bukan sekadar menjadi angka aspiratif.
Risiko pertama terletak pada jarak antara target pertumbuhan 6% dan realisasi pertumbuhan ekonomi pada tahun berjalan. Jarak itu menjadikan sasaran baru sebagai lompatan ambisius yang memerlukan pembuktian.
Risiko kedua berkaitan dengan struktur anggaran pemerintah. Rencana belanja yang besar perlu ditopang kualitas pengeluaran agar mampu memperkuat produktivitas dan investasi.
| Indikator | Target RAPBN 2027 | Risiko yang Dicermati |
|---|---|---|
| Pertumbuhan ekonomi | 6% | Realisasi harus mengejar target ambisius |
| Inflasi | 2,5% | Stabilitas makro perlu terjaga |
| Imbal hasil SBN 10 tahun | 6,9% | Menjadi perhatian pasar keuangan |
| Belanja negara | Rp4.097,2 triliun | Efektivitas belanja harus terbukti |
| Pendapatan negara | Rp3.426 triliun | Defisit tetap signifikan |
Defisit menuntut belanja yang produktif
Belanja negara dalam RAPBN 2027 ditargetkan Rp4.097,2 triliun, sedangkan pendapatan negara diproyeksikan Rp3.426 triliun. Selisih itu menjadi perhatian karena mencerminkan defisit anggaran yang cukup besar.
Pasar akan melihat kemampuan pemerintah mengarahkan belanja menjadi aktivitas ekonomi nyata. Dampaknya dinilai perlu tercermin pada konsumsi, investasi, penyaluran kredit, dan pendapatan perusahaan.
Nafan Aji Gusta, analis pasar senior Mirae Asset Sekuritas, melihat target pertumbuhan 6% sebagai sentimen positif bagi pasar saham dalam jangka pendek. Sasaran tersebut juga memberi gambaran pergeseran pendorong ekonomi ke investasi, industrialisasi, hilirisasi, produktivitas, dan peningkatan nilai tambah.
Stabilitas makro menjadi pesan utama
Pemerintah turut memasang target inflasi 2,5% dan imbal hasil SBN tenor 10 tahun sebesar 6,9%. Kombinasi indikator ini menunjukkan upaya menjaga pertumbuhan sambil mempertahankan stabilitas ekonomi.
Meski demikian, pasar akan tetap selektif dalam membaca target tersebut. Investor membutuhkan perkembangan ekonomi riil yang konsisten untuk menguatkan keyakinan terhadap arah kebijakan.
Penguatan IHSG setelah penyampaian RAPBN 2027 dapat menjadi awal sentimen positif. Keberlanjutannya akan bergantung pada kualitas belanja, pencapaian target ekonomi, dan kemampuan pemerintah meredam kekhawatiran investor asing.






