Inflasi Masih di Bawah Target, Mengapa BOJ Tetap Dibayangi Kenaikan Bunga?

Bank of Japan diperkirakan menahan suku bunga dalam rapat kebijakan pada 31 Juli 2026, meski tekanan untuk melanjutkan normalisasi moneter belum hilang. Inflasi inti masih berada di bawah target 2 persen, tetapi pelemahan yen dan kenaikan biaya impor dapat mengubah perhitungan bank sentral.

Pasar kini menunggu proyeksi ekonomi kuartalan BOJ sebagai petunjuk arah kebijakan untuk sisa 2026. Dokumen tersebut akan dinilai bersama perkembangan inflasi, harga energi, dan dampak kenaikan bunga yang dilakukan pada bulan lalu.

Target inflasi belum tercapai

Inflasi inti Jepang naik menjadi 1,6 persen secara tahunan pada Juni 2026, dari 1,4 persen pada Mei. Angka yang tidak memasukkan harga pangan segar itu sesuai dengan proyeksi ekonom dalam survei Bloomberg.

Menurut data Kementerian Dalam Negeri Jepang, inflasi umum mencapai 1,7 persen pada Juni. Inflasi tanpa pangan segar dan energi, yang menjadi salah satu indikator tekanan harga mendasar bagi BOJ, juga berada di level 1,7 persen.

Ukuran InflasiJuni 2026Keterangan
Inflasi inti1,6 persenNaik dari 1,4 persen pada Mei
Inflasi umum1,7 persenMencakup seluruh komponen
Inflasi tanpa pangan segar dan energi1,7 persenMengukur tekanan mendasar
Harga berasTurun 8,7 persenPenurunan terdalam sejak 2015

Inflasi inti yang berada di bawah 2 persen selama lima bulan beruntun menjadi argumen untuk mempertahankan sikap hati-hati. BOJ perlu memastikan kenaikan harga berlangsung cukup kuat sebelum kembali mengetatkan kebijakan.

Tekanan inflasi Juni terutama datang dari energi, walau harga energi masih menurun karena subsidi pemerintah. Laju penurunannya melambat dibandingkan bulan sebelumnya sehingga pengaruhnya dalam meredam inflasi ikut melemah.

Harga barang tahan lama dan layanan kesehatan mengalami kenaikan, sedangkan harga jasa tumbuh 1 persen secara tahunan. Kenaikan harga pangan di luar produk segar justru melambat ke tingkat terendah dalam hampir dua tahun.

Yen melemah memperbesar risiko impor

Pelemahan yen yang sempat mendekati 164 per dolar AS meningkatkan biaya pembelian energi, pangan, dan bahan baku dari luar negeri. Ketergantungan Jepang pada impor membuat perubahan kurs cepat terasa pada biaya operasional perusahaan.

Indeks harga produsen melonjak 7,1 persen pada Juni, menjadi pertumbuhan tercepat sejak Maret 2023. Banyak perusahaan masih menahan sebagian beban tersebut, sehingga kenaikan harga di tingkat konsumen berpotensi belum sepenuhnya tercermin.

Teikoku Databank melaporkan rencana kenaikan harga produk pada bulan ini meningkat hampir 22 persen secara tahunan. Biaya makan di luar rumah juga tetap naik stabil, sementara perusahaan makanan dan minuman menghadapi mahalnya bahan baku serta kekurangan tenaga kerja.

Kombinasi panas ekstrem, harga bahan bakar yang lebih tinggi, dan yen lemah ikut mendorong harga listrik spot Jepang. Harga listrik tersebut mencapai posisi tertinggi dalam lebih dari tiga tahun.

Pasar melihat peluang kenaikan pada Oktober atau Desember

BOJ menaikkan suku bunga ke level tertinggi sejak 1995 pada bulan lalu, tetapi belum ada kepastian mengenai waktu penyesuaian berikutnya. Bank sentral juga menghadapi preferensi pemerintahan Perdana Menteri Sanae Takaichi yang masih mendukung kebijakan moneter akomodatif.

Survei pengamat BOJ pada pekan ini menunjukkan sekitar separuh responden memperkirakan kenaikan bunga berikutnya pada Desember 2026. Sekitar 40 persen responden memprediksi keputusan itu dapat diambil pada Oktober.

Kepala Riset Ekonomi NLI Research Institute Taro Saito menilai data terbaru belum memaksa BOJ untuk segera menaikkan suku bunga. “Namun, pelemahan yen belakangan ini membuka kemungkinan mereka harus bertindak lebih cepat daripada yang diperkirakan,” ujarnya.

Dengan demikian, pergerakan yen akan menjadi faktor yang semakin penting setelah rapat kebijakan akhir Juli. Jika biaya impor terus meningkat, BOJ dapat menghadapi tekanan untuk merespons lebih cepat meski inflasi inti belum mencapai targetnya.

Baca Juga