Bukan Sekadar Menahan Rob, Giant Sea Wall Pantura Disiapkan untuk Air Bersih dan Industri

Pemerintah menyiapkan Giant Sea Wall Pantura dengan fungsi yang melampaui perlindungan dari rob. Infrastruktur itu juga diproyeksikan mendukung penyediaan air bersih, pertumbuhan ekonomi baru, dan keberlanjutan industri di pesisir utara Jawa.

Rencana tersebut menempatkan tanggul laut raksasa sebagai proyek perlindungan sekaligus pengembangan kapasitas nasional. Para insinyur Indonesia diharapkan terlibat dalam pengembangan teknologi untuk pembangunan infrastruktur berskala besar itu.

Presiden Prabowo Subianto menilai kawasan Pantura menyimpan kepentingan ekonomi yang besar dari Jawa Barat hingga Jawa Timur. Persentase besar industri Indonesia berada di koridor pesisir tersebut, sehingga perlindungannya dipandang menentukan masa depan industri nasional.

“Ini menyangkut hajat hidup puluhan juta rakyat kita yang hidup di Pantura,” ujar Prabowo. Pemerintah menilai ancaman terhadap pesisir tidak hanya berdampak pada permukiman, tetapi juga terhadap pusat-pusat kegiatan ekonomi yang berada di sekitarnya.

Rob dan Penurunan Muka Tanah

Ancaman rob serta penurunan muka tanah menjadi dasar percepatan pembangunan Tanggul Laut Pantura. Pemerintah memandang proyek ini sebagai perlindungan jangka panjang bagi kawasan pesisir utara Jawa yang rentan terhadap masuknya air laut.

Prabowo menyatakan keputusan memulai proyek tidak bisa terus ditunda, walaupun pembangunan membutuhkan waktu panjang. Tahap awal yang dimulai pada masa kepemimpinannya sebagai presiden ke-8 akan menjadi dasar perlindungan warga pesisir dan kawasan industri.

Apabila dibangun hingga tuntas, proyek ini diperkirakan memerlukan waktu sekitar 15 hingga 20 tahun. Pemerintah menyiapkan pembagian konstruksi agar pekerjaan dapat berlangsung lebih efisien di berbagai wilayah.

15 Jalur Pengerjaan

Konstruksi Giant Sea Wall Pantura akan dibagi menjadi 15 segmen dari Banten sampai Gresik, Jawa Timur. Pembagian ini dimaksudkan agar pembangunan dapat dilakukan secara paralel dan tidak bertumpu pada satu jalur.

Prabowo menyebut pelaksanaan serentak berpeluang mengurangi durasi penyelesaian yang sebelumnya diperkirakan sampai 20 tahun. “Pembangunan ini kita bagi ke 15 segmen dari Banten sampai Jawa Timur, Gresik,” kata Prabowo.

Keterangan mengenai proyek tersebut disampaikan Prabowo saat menyampaikan keterangan pemerintah atas RUU APBN Tahun Anggaran 2027. Acara itu berlangsung di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, pada Jumat (14/8/2026).

Pembiayaan dan Riset Teknologi

Pemerintah merencanakan pemanfaatan Danantara Development and Management Fund untuk membiayai proyek strategis tersebut. Dana kedaulatan Indonesia itu disiapkan sebagai salah satu instrumen bagi agenda transformasi nasional.

Instrumen pembiayaan yang sama juga diarahkan untuk program strategis lain, termasuk pengembangan mobil nasional yang dijadwalkan mulai berjalan pada 2028. Agenda pengembangan motor nasional turut masuk dalam rencana tersebut.

Badan Riset dan Inovasi Nasional disiapkan memberi dukungan melalui terobosan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan proyek. Keterlibatan lembaga itu diharapkan memperkuat aspek teknis pembangunan tanggul laut di sepanjang Pantura.

Belajar dari Belanda

Pemerintah menjadikan pengalaman Belanda sebagai salah satu acuan dalam membangun perlindungan pesisir jangka panjang. Prabowo menyoroti langkah Belanda yang membangun infrastruktur pengaman tanpa menunggu bencana terjadi.

Giant Sea Wall di Belanda kini melindungi jutaan penduduk dan menjadi simbol kemampuan teknologi nasional negara tersebut. Contoh itu menjadi pijakan pemerintah untuk memulai pembangunan di Pantura meski penyelesaiannya akan berlangsung lintas masa pemerintahan.

Baca Juga