Saat Wisman Memasuki Musim Ramai, Gempa M 7,7 Merusak Hotel di Labuan Bajo

Sejumlah hotel di Labuan Bajo mengalami kerusakan fisik setelah gempa berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang Nusa Tenggara Timur. Dampaknya menjadi perhatian karena kawasan wisata tersebut sedang menghadapi periode kunjungan wisatawan mancanegara yang ramai.

Kerusakan dilaporkan berbeda-beda di tiap bangunan penginapan, dengan kisaran 10 hingga 30 persen. Meski demikian, pihak perhotelan menyatakan wisatawan dan pekerja hotel sejauh ini berada dalam kondisi aman.

Keselamatan Tamu Menjadi Perhatian Utama

Ketua DPD Indonesian Hotel General Manager Association Nusa Tenggara Barat, Lalu Kusnawan, mengatakan kondisi para wisatawan terkendali pascagempa. Penanganan di area penginapan diperlukan untuk memastikan keamanan seluruh tamu tetap terjaga.

“Wisatawan 100% aman sejauh ini, semoga tidak ada korban jiwa,” ujar Lalu Kusnawan. Pernyataan tersebut disampaikan ketika kekhawatiran muncul terhadap dampak gempa di tengah tingginya aktivitas pariwisata Labuan Bajo.

Keamanan bangunan menjadi hal penting bagi sektor akomodasi di destinasi tersebut. Hotel berperan sebagai tempat tinggal wisatawan, sehingga pemeriksaan kondisi fasilitas perlu menjadi bagian dari penanganan setelah guncangan besar.

Plafon Lobi Hotel Jayakarta Ambruk

Salah satu kerusakan yang dilaporkan terjadi di Hotel Jayakarta. Plafon pada area lobi ambruk, sementara sejumlah bagian dinding bangunan mengalami keretakan.

Lalu Kusnawan menyebut ada beberapa bangunan hotel yang terdampak. Namun, ia menegaskan keselamatan pekerja hotel masih dapat dikendalikan.

“Ada beberapa kerusakan di bangunan hotel, tapi sejauh ini rekan-rekan hotel semua selamat,” kata Lalu Kusnawan. Tingkat kerusakan yang mencapai 10 hingga 30 persen menunjukkan dampak gempa tidak sama pada setiap fasilitas penginapan.

Guncangan Berasal dari Nagekeo

Gempa terjadi pada Sabtu, 15 Agustus 2026, saat subuh dengan pusat di Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur. Lokasi pusat guncangan berada sekitar 30 kilometer di timur laut Nagekeo.

Dengan kedalaman 15 kilometer, gempa tersebut tergolong dangkal. Guncangannya kemudian berdampak hingga infrastruktur akomodasi di Labuan Bajo.

Informasi mengenai seluruh hotel yang terdampak belum dirinci. Namun, kerusakan pada fasilitas penginapan telah menempatkan sektor pariwisata Labuan Bajo sebagai salah satu perhatian dalam penanganan pascagempa.

Penanganan Cepat Dinilai Mendesak

Percepatan evakuasi dan penanganan dari pemerintah diharapkan segera dilakukan. Langkah tersebut dinilai krusial mengingat Labuan Bajo sedang berada dalam musim ramai wisatawan mancanegara.

“Semoga pemerintah gerak cepat dalam proses evakuasinya. Apalagi saat ini kondisi peak season wisman,” ujar Lalu Kusnawan. Respons cepat dibutuhkan agar kondisi di kawasan penginapan tetap aman bagi tamu maupun pekerja.

Pihak asosiasi hotel juga menyatakan keprihatinan terhadap musibah di Nusa Tenggara Timur. Penggalangan dana disiapkan sebagai bentuk bantuan untuk wilayah terdampak.

Lalu Kusnawan, yang juga disebut sebagai Ketua PHRI BPC Lombok Utara dan Ketua Gili Hotels Association, mengatakan Lombok pernah menghadapi bencana serupa. Pengalaman itu menjadi alasan solidaritas untuk membantu proses pemulihan di NTT.

“Kami turut prihatin atas musibah yang terjadi di NTT, dan kami akan melakukan penggalangan dana, Insyallah untuk membantu yang di NTT. Apalagi Lombok pernah mengalami kejadian serupa,” kata Lalu Kusnawan.

Baca Juga