Gelombang 0,94 Meter di Maurole Jadi Tertinggi, Tsunami Terpantau hingga Sulawesi

Maurole di Nusa Tenggara Timur mencatat gelombang tsunami tertinggi, yaitu 0,94 meter, setelah gempa bumi magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Mbay. Pengukuran tersebut dilakukan pada pukul 05.27 WIB dan menjadi yang terbesar dari enam lokasi pemantauan.

Gelombang juga terdeteksi di pesisir Sulawesi, termasuk Bulukumba yang mencatat 0,54 meter. Temuan ini menunjukkan perubahan muka air laut tidak hanya tercatat di wilayah Nusa Tenggara Timur.

Sulawesi Merekam Gelombang Setelah NTT

Baubau, Sulawesi Tenggara, mencatat kenaikan muka air laut setinggi 0,30 meter pada pukul 05.47 WIB. BMKG menyampaikan dalam unggahan akun X, “Tsunami akibat gempa telah terdeteksi di Baubau (05.47 WIB) 0,30 m.”

Bulukumba di Sulawesi Selatan mencatat angka lebih tinggi, yakni 0,54 meter pada pukul 05.58 WIB. Dalam catatan yang sama, BMKG menulis, “Bulukumba (05.58 WIB) 0,54 meter.”

Dua pengukuran itu menempatkan Bulukumba sebagai lokasi dengan catatan tertinggi kedua setelah Maurole. Baubau berada di bawah Bulukumba, tetapi tetap mengonfirmasi gelombang terpantau di pesisir Pulau Sulawesi.

Urutan Deteksi di Enam Titik

Kawapante menjadi titik pertama dalam data yang dirilis BMKG. Lokasi itu mendeteksi gelombang 0,38 meter pada pukul 05.16 WIB.

Flores Timur menyusul pada pukul 05.24 WIB dengan pengukuran 0,25 meter. Tiga menit sesudahnya, Maurole mencatat gelombang 0,94 meter.

LokasiWaktuKetinggian tsunami
Kawapante05.16 WIB0,38 meter
Flores Timur05.24 WIB0,25 meter
Maurole05.27 WIB0,94 meter
Bakalang05.41 WIB0,14 meter
Baubau05.47 WIB0,30 meter
Bulukumba05.58 WIB0,54 meter

Bakalang tercatat pada pukul 05.41 WIB dengan ketinggian 0,14 meter. Nilai tersebut menjadi yang paling rendah dari enam pengukuran yang disampaikan BMKG.

Catatan Resmi Maurole

BMKG mengumumkan pengukuran tertinggi melalui unggahan resminya di akun X. Lembaga itu menyatakan, “Tsunami di Maurole (05.27 WIB) 0,94 meter.”

Data tsunami Maurole memperlihatkan perbedaan tinggi gelombang pada setiap titik pemantauan. Perbedaan itu juga tampak dari rentang waktu deteksi, yang berlangsung antara pukul 05.16 WIB dan 05.58 WIB.

Gempa M 7,7 yang berpusat di Mbay terjadi pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Setelah kejadian tersebut, catatan di Kawapante, Flores Timur, Maurole, Bakalang, Baubau, dan Bulukumba merekam kenaikan muka air laut dengan angka yang berbeda.

Maurole tetap menjadi titik dengan pengukuran tertinggi dalam laporan itu, sedangkan Bakalang terendah. Di luar Nusa Tenggara Timur, Baubau dan Bulukumba menjadi dua lokasi Sulawesi yang tercatat dalam rangkaian deteksi tersebut.

Baca Juga