Anak Fosil Purba Ini Terlalu Besar untuk Pola Bertelur, Asal Vivipar Dipertanyakan

Ukuran anak Chiniquodon theotonicus saat lahir diperkirakan mencapai sekitar 14 persen dari ukuran tubuh dewasanya. Angka itu jauh melampaui pola umum hewan bertelur modern dan memunculkan dugaan bahwa hewan purba ini mungkin melahirkan anak hidup.

Fosil yang diteliti berusia sekitar 236 juta tahun dan ditemukan di Argentina. Bila dugaan tersebut benar, sejarah vivipar pada garis evolusi mamalia dapat dimundurkan sekitar 90 hingga 95 juta tahun.

Perkiraan berat anak berasal dari analisis tulang kaki individu fosil yang diperkirakan berbobot sekitar 12 kilogram ketika mati. Peneliti menghitung bahwa hewan itu kemungkinan memiliki berat sekitar 1,7 kilogram pada masa kelahiran.

Perbandingan rasio menunjukkan perbedaan tajam

Rasio berat lahir sebesar 14 persen lebih dekat dengan mamalia plasental modern daripada reptil dan burung bertelur. Pada mamalia plasental, berat lahir dapat mencapai hingga 18,77 persen dari ukuran tubuh dewasanya.

Sebaliknya, anak hewan bertelur modern umumnya hanya memiliki berat sekitar 0,1 hingga 4,5 persen dari berat induk atau ukuran dewasa. Selisih itu menjadi alasan penting mengapa cara berkembang biak C. theotonicus kembali diperdebatkan.

DataNilaiArti
Berat lahir C. theotonicusSekitar 1,7 kgPerkiraan berdasarkan analisis tulang
Berat individu fosil ketika matiSekitar 12 kgUkuran spesimen yang diteliti
Rasio berat lahir fosilSekitar 14 persenMendekati mamalia plasental
Rasio hewan bertelur modern0,1–4,5 persenLebih rendah dibanding fosil

Ukuran bayi hewan purba itu bahkan diperkirakan hampir menyerupai bayi duiker teluk, antelop kecil dari Afrika. Perbandingan ini tidak membuktikan kelahiran hidup secara pasti, tetapi menambah bobot pada penafsiran yang diajukan tim peneliti.

Petunjuk berasal dari batas pertumbuhan tulang

Dasar lain dari dugaan tersebut ialah sebuah garis gelap sangat kecil di dalam tulang kaki fosil. Garis itu dikenali sebagai garis neonatal, penanda yang bisa terbentuk saat tubuh mengalami tekanan metabolik besar pada masa kelahiran.

Dalam tulang, garis neonatal dapat menandai batas antara jaringan yang tumbuh sebelum dan sesudah hewan lahir. Posisi penanda itulah yang dipakai tim untuk memperkirakan ukuran tubuh Chiniquodon theotonicus pada awal kehidupannya.

Fosil itu ditemukan di Taman Nasional Talampaya pada 2011. Penemuan garis neonatal muncul kemudian ketika mahasiswa pascasarjana Universitas Buenos Aires memeriksa irisan tipis tulang menggunakan mikroskop.

C. theotonicus merupakan sinodon, kelompok hewan purba dengan sejumlah ciri yang mendekati mamalia. Posisi evolusioner tersebut menjadikan temuan dari spesies ini penting dalam pembahasan asal-usul reproduksi mamalia.

Temuan belum menutup perdebatan

Studi yang dipimpin paleontolog Leandro Gaetano telah dipublikasikan dalam jurnal Frontiers in Mammal Science. Para peneliti tetap menekankan bahwa garis neonatal dan rasio ukuran tubuh belum menjadi bukti langsung bahwa spesies ini benar-benar melahirkan.

Perkiraan lama menempatkan kelahiran hidup pada garis mamalia sekitar 160 juta tahun lalu. Periode itu dikaitkan dengan kemunculan mamalia therian, yang meliputi mamalia berkantung dan mamalia plasental.

Catatan fosil lain menunjukkan adanya kemungkinan reproduksi bertelur pada beberapa kerabat awal mamalia. Fosil Lystrosaurus pernah ditemukan bersama embrio di dalam cangkang telur.

Selain itu, Kayentatherium wellesi ditemukan bersama 38 anak yang lebih menyerupai satu kelompok telur daripada kelahiran mamalia modern. Bukti yang beragam ini membuat pertanyaan tentang apakah vivipar berevolusi sekali atau muncul beberapa kali tetap belum terjawab.

Baca Juga