Tingkat pemanfaatan FABA di Bangka Belitung rata-rata telah mencapai hampir 90 persen, menurut Direktur Manajemen Pembangkitan PLN Rizal Calvary Marimbo. Dalam beberapa tahun terakhir, pemanfaatan material sisa pembakaran batu bara itu bahkan disebut mampu melampaui produksi tahunan.
Angka tersebut menunjukkan FABA dari PLTU Air Anyir tidak lagi semata dipandang sebagai residu pembangkitan. Material ini diarahkan untuk sektor pertanian, konstruksi, konservasi pesisir, hingga stabilisasi lahan pascatambang.
Nilai Guna FABA Meluas
Di sektor konstruksi, FABA digunakan sebagai bahan baku batako dan paving block. Untuk kawasan pesisir Bangka, material itu juga dimanfaatkan sebagai media konservasi terumbu karang dan fish shelter.
FABA turut digunakan sebagai material stabilisasi pada kegiatan reklamasi. Pemanfaatan tersebut mendukung upaya pemulihan lahan pascatambang di Bangka Belitung.
| Bidang | Pemanfaatan FABA | Manfaat |
|---|---|---|
| Pertanian | Pupuk dan pembenah tanah | Membantu unsur hara dan meningkatkan pH tanah asam |
| Konstruksi | Batako dan paving block | Menjadi bahan baku produk bangunan |
| Pesisir | Media terumbu karang dan fish shelter | Mendukung konservasi pesisir Bangka |
| Reklamasi | Stabilisasi lahan | Mendukung pemulihan lahan pascatambang |
Rizal mengatakan PLN berupaya memastikan seluruh proses bisnis pembangkitan memberi manfaat yang lebih luas. “PLN tidak hanya memastikan pembangkit mampu menghasilkan listrik yang andal, tetapi juga bagaimana seluruh proses bisnisnya dapat memberikan manfaat yang lebih luas,” ujar Rizal.
Potensi yang paling dekat dirasakan masyarakat berada pada pengolahan FABA menjadi pupuk dan pembenah tanah. Pemanfaatan itu membantu petani Bangka Belitung memangkas biaya produksi hingga 58,3 persen.
Mengurangi Biaya di Lahan Asam
Penghematan biaya terutama terjadi pada kebutuhan perbaikan unsur hara dan pengapuran lahan. FABA digunakan untuk membantu meningkatkan pH tanah yang umumnya bersifat asam agar lebih mendukung budidaya pertanian.
General Manager PLN Unit Induk Pembangkitan Dwipantara, Rita Triani, menyatakan karakteristik lahan di Bangka Belitung membuka peluang besar untuk penggunaan material tersebut. FABA dari PLTU Air Anyir telah diolah dan disalurkan kepada petani di sejumlah wilayah.
PLN menggandeng Formap Babel selama lebih dari tiga tahun dalam pengembangan pupuk berbasis FABA. Penyerapan material itu mencapai sekitar 100 ton per bulan.
Sepanjang 2026, program tersebut menghasilkan lebih dari 25 ribu karung pupuk FABA. Ketua Umum Formap Babel, Arif, menyatakan produk itu sudah digunakan masyarakat pada ribuan hektare lahan.
Arif menyebut petani menilai pupuk hasil olahan tersebut dibutuhkan dan memberikan hasil yang baik. Pemanfaatannya di sektor pertanian juga memiliki dasar standar melalui SNI 9387:2025.
SNI 9387:2025 mengatur FABA sebagai pembenah tanah dan bahan baku pupuk tanaman. Standar itu menjadi acuan agar penggunaan material berlangsung aman, terukur, serta berkelanjutan.
Didorong Menjadi Program Lebih Luas
Ketua Komisi XII DPR RI Bambang Patijaya mengapresiasi inovasi tersebut saat mengunjungi PLTU Air Anyir. Ia menilai pengembangan FABA dapat menghubungkan pemulihan lahan pascatambang, produktivitas pertanian, dan aktivitas ekonomi baru.
“FABA yang tadinya merupakan residu, ternyata bisa kita gunakan untuk pupuk,” kata Bambang seperti diberitakan CNBC Indonesia. Ia menilai pupuk olahan FABA berbiaya murah dan relevan untuk pemberdayaan masyarakat serta ketahanan pangan.
PLN juga membina kelompok FABA KITE LESTARI yang mengolah limbah organik menjadi pupuk siap pakai. Kegiatan tersebut melibatkan 25 penerima manfaat, yang mayoritas berusia di atas 40 tahun, dan membuka peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar pembangkit.






