Sebanyak 79 warga telah dievakuasi setelah gempa berkekuatan M 7,7 mengguncang Nusa Tenggara Timur. Namun, operasi belum selesai karena satu korban masih dilaporkan tertimbun dan sedikitnya 47 orang meninggal dunia.
Tim gabungan mengerahkan 281 personel dari TNI, Polri, BPBD, dan PMI untuk menjangkau wilayah terdampak. Pencarian dilakukan dalam masa 72 jam pertama pascagempa yang menjadi waktu penting bagi proses penyelamatan korban.
Jalur udara, laut, dan pemantauan dari drone
Basarnas memperkuat operasi dengan mengirim helikopter ke Bandara Ngurah Rai serta menerbangkan drone untuk memantau kondisi di lapangan. Dukungan juga datang dari KN Puntadewa yang bergerak dari Maumere dan telah tiba di Pelabuhan Waingapu.
Pengerahan armada dilakukan untuk menopang kegiatan Evakuasi Korban Gempa di tengah sebaran dampak yang luas. Petugas menghadapi kebutuhan pencarian, layanan medis, dan distribusi logistik secara bersamaan.
Gempa terjadi pada Sabtu, 15 Agustus 2026, dengan pusat di laut sekitar 38 kilometer timur laut Mbay, Nagekeo. Gempa dangkal itu berkedalaman 15 kilometer dan sempat memicu gelombang tsunami di 10 titik dari NTT hingga Sulawesi Selatan.
Korban meninggal tersebar di lima kabupaten
Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB menyatakan pendataan korban masih berlanjut di seluruh wilayah terdampak. Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, melaporkan total korban meninggal telah mencapai 47 orang.
“Total jumlah korban meninggal dunia mencapai 47 orang. Sebaran korban tersebut teridentifikasi di Kabupaten Manggarai 24 orang, Manggarai Timur 17 orang, Sikka 3 orang, Ngada 1 orang dan Ende 1 orang,” kata Berton.
Rincian Basarnas mencatat dampak korban di lokasi operasi dengan angka yang mencakup korban meninggal dan luka-luka. Manggarai Timur tercatat 11 orang meninggal serta 24 orang luka-luka, sedangkan Manggarai mencatat 24 orang meninggal dan 22 orang luka-luka.
| Wilayah | Meninggal | Luka-luka |
|---|---|---|
| Manggarai Timur | 11 orang | 24 orang |
| Sikka | 3 orang | 2 orang |
| Manggarai Barat | 1 orang | 2 orang |
| Manggarai | 24 orang | 22 orang |
| Nagekeo | 1 orang | Tidak disebutkan |
Fasilitas warga ikut terdampak
Dampak Gempa M 7,7 NTT juga terlihat pada permukiman dan fasilitas umum. BNPB mencatat 157 rumah rusak berat, 41 rumah rusak sedang, dan 148 rumah rusak ringan.
Selain rumah warga, 87 fasilitas pendidikan, 18 fasilitas kesehatan, lima tempat ibadah, dan enam bangunan perkantoran terdampak. Data tersebut menunjukkan pemulihan tidak hanya menyangkut hunian, tetapi juga layanan dasar masyarakat.
Pengungsi menerima bantuan logistik
Kementerian Sosial menyalurkan logistik senilai Rp4,5 miliar dan 50.000 paket sembako dari Presiden. Bantuan ditujukan bagi pengungsi di Lapangan Umum Mbay, Maumere, Borong, dan Ruteng.
Kebutuhan air bersih, tenda, serta layanan medis masih dihimpun melalui posko utama di Kantor BPBD NTT. Pemerintah menyatakan bantuan akan disesuaikan dengan kondisi lapangan dan perkembangan hasil pendataan.
Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan Budiman Sudjatmiko mengatakan Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan kementerian, lembaga, TNI, dan Polri bergerak cepat dan serentak. Penanganan darurat serta pemulihan pascabencana disiapkan untuk menjawab kebutuhan warga terdampak.






