Wakil Wali Kota Bandung Erwin meminta murid baru membangun kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual secara seimbang selama menempuh pendidikan. Ia menilai ketiganya diperlukan agar pelajar tidak hanya unggul dalam penguasaan ilmu, tetapi juga siap hidup di tengah masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan saat penutupan MPLS kelas X tahun pelajaran 2026/2027 di SMAN 28 Bandung. Erwin menegaskan sekolah merupakan ruang pembentukan diri bagi calon pemimpin dan berbagai profesi masa depan.
Kecerdasan intelektual berkaitan dengan kemampuan berpikir dan penguasaan pengetahuan. Namun, kemampuan itu perlu disertai kecakapan mengelola perasaan, berempati, serta bekerja sama dengan orang lain.
| Kualitas Utama | Penekanan Pembelajaran |
|---|---|
| Intelektual | Kecerdasan berpikir dan penguasaan ilmu pengetahuan |
| Emosional | Pengelolaan perasaan, empati, dan kerja sama |
| Spiritual | Kedekatan dengan Tuhan sebagai kompas moral |
Aspek spiritual, menurut Erwin, menjadi kompas moral yang perlu diperkuat dalam keseharian pelajar. Ia meminta keluarga dan sekolah bersama-sama memberi perhatian pada pendidikan spiritual siswa.
Pondasi Agama dan Pergaulan Positif
Erwin membagikan konsep Lima Kesadaran sebagai pegangan bagi peserta didik. Kesadaran beragama atau al wa’yu addini disebutnya sebagai dasar terpenting dalam pembentukan karakter.
Guru didorong untuk membiasakan peserta didik menjalankan ibadah di lingkungan pendidikan. Pondasi agama yang kuat diyakini dapat membantu menguatkan berbagai sisi kehidupan siswa.
Selain itu, murid diminta terus menuntut ilmu dan memilih pergaulan yang positif. Sikap tersebut dipandang penting untuk menjaga proses belajar tetap sehat, baik di sekolah maupun di lingkungan tempat tinggal.
Erwin juga mendorong siswa aktif dalam Organisasi Siswa Intra Sekolah dan organisasi kepemudaan. Kegiatan organisasi dapat menjadi sarana belajar kepemimpinan, komunikasi, dan tanggung jawab bersama.
Jangan Menjadi Kutu Buku
Pesan untuk aktif berorganisasi berkaitan dengan peringatan Erwin agar pelajar tidak terpaku menjadi kutu buku. Nilai akademik penting, tetapi tidak cukup sebagai satu-satunya bekal untuk menghadapi masa depan.
Siswa perlu membangun kemampuan berinteraksi dan menghargai orang lain sejak awal masa sekolah. Proses itu juga mendukung kesiapan mereka untuk mengambil peran sebagai pemimpin, pengusaha, ilmuwan, atau tenaga medis.
Erwin menyatakan generasi muda harus mampu menjawab perubahan zaman. Perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau AI, menjadi tantangan yang harus dihadapi dengan sikap inovatif.
“Pemuda-pemudi hari ini adalah calon pemimpin di masa depan. Kalau kalian ingin menjadi pemimpin, pengusaha, ilmuwan, atau dokter, kalian harus menjadi generasi yang sesuai dengan zamannya,” kata Erwin.
Awal Pendidikan yang Tertib
Pemerintah Kota Bandung mengapresiasi pelaksanaan MPLS di SMAN 28 Bandung yang berjalan tertib dan edukatif. Kegiatan tersebut disebut berlangsung tanpa praktik perpeloncoan.
Kepala SMAN 28 Bandung Ai Sumiati melaporkan MPLS tahun pelajaran 2026/2027 berjalan lancar tanpa kendala berarti. Sebanyak 252 murid baru mengikuti kegiatan itu dan seluruhnya dinyatakan lulus.
Kehadiran, keaktifan, dan kedisiplinan siswa menjadi catatan positif sepanjang rangkaian MPLS. Setelah masa pengenalan berakhir, para murid diharapkan menjalani proses pendidikan secara sungguh-sungguh demi meraih cita-cita dan membanggakan orang tua.






