Energi di Sesar Flores Terus Menumpuk, Jejak Tsunami Besar Jadi Peringatan untuk NTT

Energi tektonik di kawasan Flores terus terakumulasi, dengan laju pergeseran sejumlah segmen mencapai 11,6 milimeter per tahun. Kondisi itu menempatkan Sesar Naik Flores sebagai salah satu sumber bahaya gempa utama di Kepulauan Nusa Tenggara.

Gempa magnitudo 7,7 pada Sabtu, 15 Agustus 2026, menunjukkan aktivitas sistem patahan tersebut masih nyata. BMKG menyatakan gempa di Nusa Tenggara Timur itu tidak terkait megathrust, melainkan berasal dari Flores Back Arc Thrust.

Deformasi Kerak Terlihat di Flores

Penelitian deformasi berbasis GPS observasi 2019-2023 oleh Institut Teknologi Sepuluh Nopember mencatat pergeseran horizontal di Flores yang dominan menuju timur laut. Kecepatannya berada pada kisaran 20 hingga 57 milimeter per tahun.

Data penelitian itu juga menunjukkan subsiden terbesar hingga minus 62 milimeter per tahun. Regangan kompresi sebesar 29,3 sampai 55,7 nstrain per tahun memperlihatkan adanya tekanan yang terus tersimpan di kerak bumi.

Akumulasi energi tidak selalu berarti waktu gempa dapat dipastikan. Namun, pelepasan energi secara tiba-tiba pada segmen patahan dapat memicu gempa kuat dan berisiko bagi daerah pesisir maupun bangunan di daratan.

Jalur Patahan di Bawah Laut

Sesar Naik Flores atau Sesar Naik Busur Belakang Flores berada di dasar laut dengan panjang sekitar 800 kilometer. Sistem ini membentang dari utara Bali dan Laut Utara Lombok hingga wilayah utara Pulau Flores.

Patahan terbentuk akibat tekanan tumbukan Lempeng Indo-Australia dengan Lempeng Eurasia di bawah busur Bali dan Nusa Tenggara. Tekanan tersebut menyebabkan pergerakan naik pada bidang patahan, yang dikenal sebagai mekanisme thrust fault.

Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto mengatakan analisis episenter serta kedalaman hiposenter mengarah pada aktivitas Flores Back Arc Thrust. “Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan naik (thrust fault),” kata Wijayanto dalam rilis resmi BMKG.

SegmenPanjangLaju PergeseranPotensi Magnitudo Maksimum
Bali84 km6,95 mm per tahun7,4
Lombok-Sumbawa310 km9,9 mm per tahun8,0
Flores Barat dan Tengahhingga 11,6 mm per tahun

Sistem ini terdiri atas banyak segmen, antara lain Bali, Lombok-Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Tengah, dan Wetar. Segmen Flores Barat dan Flores Tengah tercatat memiliki pergeseran lebih cepat daripada Bali serta Lombok-Sumbawa.

Tsunami Pernah Menjadi Dampak Terburuk

Catatan sejarah menunjukkan patahan ini disebut menyumbang sekitar 90 persen gempa di Kepulauan Nusa Tenggara. Sejumlah gempa besar yang berkaitan dengan sistem tersebut menimbulkan tsunami dan korban jiwa dalam jumlah besar.

PeristiwaMagnitudoDampak Tercatat
Bali Utara, 22 November 18157,0Tsunami dan sekitar 10.000 korban jiwa
Flores, 12 Desember 19927,8Tsunami hingga 50 meter dan lebih dari 2.500 korban jiwa
Lombok, Juli-Agustus 2018Rangkaian gempa dengan lebih dari 500 korban jiwa

Gempa Flores 1992 berkekuatan 7,8 diikuti tsunami yang menyapu pesisir Maumere dan Pulau Babi. Peristiwa itu menjadi pengingat bahwa ancaman dari patahan bawah laut tidak berhenti pada guncangan utama.

Peringatan Usai Gempa M 7,7

Gempa M 7,7 NTT sempat memicu peringatan dini tsunami yang kemudian diakhiri BMKG pada pukul 07.30 WIB. Pemantauan muka laut mencatat kenaikan 0,94 meter di Maurole dan 0,54 meter di Bulukumba.

Hingga pukul 07.00 WIB, tercatat 54 gempa susulan setelah guncangan utama. Masyarakat diminta tidak mendekati pantai, muara sungai, atau tepian sungai sebagai langkah kehati-hatian.

Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kupang Arief Tyastama menekankan warga tetap perlu menjauhi pesisir. Di luar ancaman pesisir, penguatan bangunan tahan gempa juga penting karena banyak korban bencana gempa terjadi akibat tertimpa reruntuhan.

Baca Juga