El Nino Belum Reda, Margin Usaha Menipis dan Harga Pangan Bisa Naik

Margin pelaku usaha berisiko terus menyusut karena kenaikan biaya produksi belum sepenuhnya diteruskan ke harga jual. Jika kemampuan menahan beban itu habis, masyarakat dapat menghadapi kenaikan harga pangan.

Ancaman tersebut berlangsung ketika El Nino diperkirakan masih terjadi hingga semester pertama tahun depan. Risiko cuaca ekstrem dapat menekan produksi pangan dan memperberat tekanan pada ketersediaan barang.

Produsen Masih Menahan Kenaikan Biaya

Chief Economist BNI Leo Putera Rinaldy menyebut pelaku usaha selama ini menanggung sebagian lonjakan biaya untuk menjaga pangsa pasar. Pilihan itu membuat harga di tingkat konsumen belum naik secepat biaya yang muncul pada produsen.

Namun, margin usaha memiliki batas dalam menyerap kenaikan tersebut. Ketika batas itu tercapai, biaya dapat diteruskan kepada konsumen melalui kenaikan harga barang.

Perbedaan tekanan itu terlihat dari inflasi konsumen dan inflasi produsen. CPI tercatat masih di bawah 3% secara tahunan, sedangkan WPI sebagai proksi inflasi produsen telah mencapai 5,6%.

Ukuran InflasiLaju TahunanMakna
CPIDi bawah 3%Perubahan harga yang dirasakan konsumen
WPI5,6%Tekanan biaya di tingkat produsen

Gap antara kedua indikator menunjukkan kenaikan biaya produsen lebih cepat daripada harga akhir yang dibayar masyarakat. Kondisi ini perlu dipantau karena dapat menjadi tekanan lanjutan bagi harga pangan.

Puncak Risiko pada Agustus-September

Leo memperkirakan puncak El Nino terjadi pada Agustus hingga September. Perkiraan tersebut merujuk pada Nino Index dari BMKG serta salah satu contoh proyeksi Columbia University.

Gangguan cuaca dapat memengaruhi produksi pangan dan memperketat pasokan. Pada saat yang sama, kenaikan biaya produksi dapat memperbesar kemungkinan tekanan harga berpindah ke tingkat konsumen.

Situasi itu membuat pengendalian inflasi tidak cukup hanya berfokus pada harga yang terlihat di pasar. Pemerintah perlu mengawasi tekanan biaya sejak tahap produksi hingga distribusi.

Menjaga Pasokan Sebelum Harga Bergerak

Leo menilai kebijakan dari sisi pasokan menjadi kunci untuk meredam risiko kenaikan harga. Pemerintah perlu memastikan ketersediaan pangan tetap terjaga dan distribusi berjalan lancar.

Stimulus pasokan juga dipandang penting untuk membantu mencegah kenaikan biaya di sektor swasta diteruskan ke konsumen. Upaya ini relevan selama El Nino masih menimbulkan risiko terhadap produksi pangan.

CNBC Indonesia mengutip Leo yang menekankan perlunya pemantauan terhadap perkembangan biaya produksi. Pengawasan itu diharapkan memberi ruang bagi kebijakan untuk menahan tekanan sebelum berubah menjadi kenaikan harga di tingkat rumah tangga.

Kelancaran rantai pasok akan menentukan kemampuan pasar menjaga ketersediaan pangan. Ketika produksi, distribusi, dan biaya usaha dapat dikendalikan, risiko kenaikan harga bagi konsumen dapat ditekan.

Baca Juga