El Nino Mengancam Pasokan Air, 28 Juta Warga Sudah Sulit Mendapat Air Layak

Ancaman El Nino datang ketika sekitar 28 juta warga Indonesia masih kesulitan memperoleh air minum layak setiap hari. Kondisi lebih kering berpotensi memperberat tekanan pasokan, terutama di daerah yang sejak awal memiliki layanan terbatas.

BMKG memperkirakan El Nino dapat berlangsung sekitar delapan hingga sembilan bulan, dari pertengahan 2026 hingga kuartal pertama 2027. Fenomena itu secara umum berhubungan dengan penurunan curah hujan dan kondisi yang lebih kering di Indonesia.

Water Indonesia 2026 menilai Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara dapat menghadapi tekanan lebih besar jika kemarau berlangsung panjang. Berkurangnya hujan juga berpotensi memengaruhi pertanian dan meningkatkan ancaman kebakaran hutan serta lahan.

Kebutuhan Dasar yang Belum Dekat

Di sejumlah wilayah, warga perlu berjalan berkilo-kilometer untuk mengambil satu hingga dua dirijen air bersih. Air tersebut dipakai untuk kebutuhan paling mendasar, mulai dari minum dan mandi hingga berwudhu, mengairi tanaman, serta merawat ternak.

Presiden Prabowo Subianto menyoroti situasi itu dalam pidato kenegaraan di Sidang Tahunan MPR serta Sidang Bersama DPR dan DPD di Kompleks Parlemen Senayan, Jumat (14/8/2026). “Untuk akses air bersih, mereka harus berjalan berkilo-kilo hanya untuk mengambil 1-2 dirijen air bersih,” kata Prabowo.

Data BNPB dan Kementerian PU per Maret 2025 juga mencatat 7,36% penduduk belum terlayani air minum layak. Angka tersebut menegaskan bahwa persoalan krisis air Indonesia masih berlangsung di tingkat rumah tangga.

Angka Nasional Tidak Menutup Ketimpangan

Capaian nasional akses air minum layak tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi setiap wilayah. Perbedaan antara kawasan perkotaan, perdesaan, dan daerah terpencil masih terlihat sangat tajam.

Wilayah/KelompokAkses Air Minum LayakKeterangan
DKI Jakarta99,96%Tertinggi dalam data yang disebutkan
Wilayah perkotaan96,56%Lebih tinggi daripada perdesaan
Wilayah perdesaan87,06%Belum menyamai perkotaan
Papua Pegunungan30,64%Terendah dalam data yang disebutkan

Selisih antara DKI Jakarta dan Papua Pegunungan menunjukkan besarnya tantangan pemerataan layanan. Ketersediaan sumber air harus diikuti infrastruktur distribusi agar air aman dapat diakses lebih dekat oleh warga.

Kondisi kering yang lebih panjang dapat menunda awal musim hujan. Sektor pertanian, khususnya padi, berpotensi tertekan pada periode Desember 2026 hingga Februari 2027.

Sanitasi dan Risiko pada Anak

Air yang terbatas tidak hanya memengaruhi aktivitas harian, tetapi juga sanitasi lingkungan. Kementerian Kesehatan RI menyatakan anak di daerah dengan akses air perpipaan minim lebih rentan mengalami infeksi pencernaan berulang, termasuk diare kronis.

Infeksi berulang dapat menghambat penyerapan nutrisi pada anak. Keadaan itu menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan risiko stunting ketika keluarga sulit mendapatkan air yang aman.

Saat ketersediaan air menyusut drastis, bakteri seperti E. coli dan polutan dapat menjadi lebih terkonsentrasi dalam air yang tersisa. Warga yang mengonsumsi air tanpa sumber alternatif menghadapi risiko kesehatan lebih besar.

Perluasan Layanan Desa

Pemerintah menyebut pembangunan titik air desa terus dilakukan untuk menjawab kebutuhan di wilayah kekurangan pasokan. Dalam delapan bulan pertama 2026, TNI telah membangun 3.000 titik air desa, menurut Prabowo.

Pembangunan tersebut menjadi langkah awal memperluas jangkauan layanan. Namun, tekanan kemarau dan ketimpangan akses menunjukkan pengelolaan air yang merata tetap mendesak dilakukan.

Baca Juga