Saat Terapi Amiloid Dominan, Diranersen Menyerang Tau dan Perlambat Penurunan Kognitif

Diranersen menawarkan jalur berbeda dalam penanganan Alzheimer dengan menekan produksi protein tau di dalam sel otak. Dalam uji klinis awal, pendekatan ini menunjukkan perlambatan penurunan kognitif hingga 26 persen pada salah satu indikator.

Temuan tersebut menarik karena pengembangan terapi Alzheimer selama ini banyak berpusat pada protein amiloid. Diranersen tidak bertujuan membersihkan tau yang sudah terbentuk, melainkan mengurangi produksinya sebelum penumpukan abnormal semakin luas.

Protein tau normal berperan menjaga struktur sel saraf serta mendukung kerja sel tersebut. Pada penderita Alzheimer, protein ini dapat berubah bentuk dan membentuk kusut atau gumpalan di dalam sel otak.

Penumpukan tau abnormal berkaitan erat dengan kemunduran memori, kemampuan berpikir, dan fungsi kognitif. Karena hubungan itu, pengurangan pembentukan tau dinilai berpotensi menahan kerusakan saraf lebih awal.

Dosis Rendah Memberi Sinyal Paling Kuat

Uji klinis diranersen melibatkan sekitar 400 peserta dengan Alzheimer tahap sangat dini atau gangguan kognitif ringan akibat Alzheimer. Peserta dibagi secara acak untuk menerima diranersen atau plasebo.

Peneliti semula memperkirakan dosis tinggi akan menghasilkan manfaat terbesar. Sebaliknya, dosis terendah yang diberikan setiap enam bulan menjadi regimen dengan hasil paling menjanjikan.

Peserta penerima diranersen secara umum mengalami penurunan memori dan kemampuan berpikir yang lebih lambat dibandingkan kelompok plasebo. Meski begitu, penelitian tersebut belum sepenuhnya memenuhi target utama yang ditetapkan peneliti.

AspekDiranersenTerapi Antiamiloid
Protein sasaranTauAmiloid
StrategiMenurunkan produksi tau di sel otakMenargetkan timbunan amiloid
Temuan awalPerlambatan hingga 26 persen pada salah satu indikatorObat yang disetujui telah menunjukkan manfaat perlambatan
KeamananTidak ditemukan pembengkakan otakBeberapa terapi pernah dikaitkan dengan pembengkakan otak

Pengobatan Diberikan Lewat Cairan Sumsum Tulang Belakang

Diranersen diberikan melalui suntikan ke cairan di sekitar sumsum tulang belakang agar dapat mencapai otak secara langsung. Hasil uji ini dipresentasikan dalam Alzheimer’s Association International Conference di London.

Penelitian juga mencatat beberapa keluhan pada peserta. Sejumlah peserta mengalami kebingungan sementara selama beberapa hari setelah pengobatan serta rasa tidak nyaman di area penyuntikan.

Di sisi lain, peneliti tidak menemukan tanda pembengkakan otak. Efek tersebut pernah menjadi perhatian dalam penggunaan beberapa terapi yang berbasis antiamiloid.

Alzheimer Memerlukan Lebih dari Satu Pendekatan

Amiloid dapat menumpuk jauh sebelum gejala penurunan daya ingat muncul. Sementara itu, tau abnormal berkaitan dekat dengan memburuknya fungsi kognitif saat penyakit berkembang.

Perbedaan peran kedua protein itu menunjukkan bahwa Alzheimer melibatkan proses biologis yang saling berhubungan. Karena itu, satu mekanisme terapi saja mungkin tidak cukup untuk menangani seluruh aspek penyakit.

Minat terhadap terapi yang menyasar tau kembali tumbuh setelah sejumlah pendekatan sebelumnya belum memperlihatkan manfaat yang konsisten. Beberapa tim juga mengembangkan vaksin untuk membantu sistem kekebalan mengenali dan melawan tau abnormal.

Penelitian lain berupaya meningkatkan kemampuan obat menembus sawar darah otak agar mencapai jaringan sasaran secara lebih efektif. Kajian mengenai obat penurun kolesterol bagi individu dengan gen APOE4 juga masih berlangsung sebagai bagian dari pencarian strategi lain.

Diranersen masih berada pada tahap pengembangan dan belum menggantikan terapi yang telah tersedia. Studi yang lebih besar dengan masa pengamatan lebih panjang diperlukan untuk memastikan manfaat, keamanan, dan ketahanan efek obat ini.

Baca Juga