China dan Indonesia Perluas Kemitraan, Teknologi hingga Energi Bersih Jadi Andalan

Indonesia dan China memperluas kemitraan ekonomi melalui kesepakatan bisnis senilai sekitar US$ 2 miliar atau Rp 35,87 triliun. Teknologi masa depan, energi terbarukan, dan kesehatan menjadi sektor utama dalam agenda tersebut.

Kesepakatan itu tercapai dalam forum bisnis di Jakarta yang menghadirkan sekitar 30 perusahaan dari China. Pertemuan tersebut membuka peluang baru bagi perusahaan Indonesia untuk menjalin kemitraan dan investasi.

Teknologi dan Energi Bersih Didorong Bersama

Duta Besar Republik Indonesia untuk China, Djauhari Oratmangun, mengatakan peserta forum bergerak pada bidang teknologi masa depan dan inovasi teknologi. Perusahaan yang hadir juga mencakup pelaku usaha energi terbarukan serta sektor kesehatan.

Menurut Djauhari, forum tersebut diarahkan untuk membuka peluang investasi dan kerja sama bisnis baru. Nilai kesepakatan yang dihasilkan berada di kisaran US$ 2 miliar.

Arah kemitraan ini menunjukkan bahwa Kerja Sama Indonesia-China tidak hanya bergantung pada arus perdagangan barang. Hubungan ekonomi kedua negara juga berkembang melalui penanaman modal, mata uang lokal, dan pembayaran digital.

Perdagangan Masih Menjadi Penopang

Data yang dipaparkan Djauhari menunjukkan nilai perdagangan Indonesia dan China mencapai sekitar US$ 101 miliar sejak awal tahun hingga Juni. Indonesia membukukan surplus US$ 5,6 miliar berdasarkan data kepabeanan China.

Angka itu memperlihatkan aktivitas perdagangan kedua negara tetap kuat pada tahun berjalan. Pada tahun sebelumnya, nilai perdagangan Indonesia dan China disebut berada di kisaran US$ 168 miliar.

IndikatorNilai atau PerkembanganPeriode
Kesepakatan bisnisSekitar US$ 2 miliar atau Rp 35,87 triliunForum bisnis di Jakarta
Perdagangan Indonesia-ChinaSekitar US$ 101 miliarJanuari-Juni
Surplus IndonesiaUS$ 5,6 miliarJanuari-Juni
Transaksi rupiah-yuanMeningkat di atas 200%Januari-Juni 2026

Di sisi modal, nilai Investasi China di Indonesia telah mendekati US$ 10 miliar sampai Juni. Djauhari berharap pertumbuhan investasi tersebut berlanjut hingga akhir tahun.

QRIS Menambah Kemudahan Transaksi

Penggunaan rupiah dan yuan untuk transaksi perdagangan juga terus didorong oleh kedua negara. Finance.detik.com mencatat transaksi dengan mata uang lokal meningkat lebih dari 200% pada Januari hingga Juni 2026.

Perkembangan lain hadir melalui integrasi pembayaran digital. Djauhari menyatakan QRIS di China sudah dapat dipakai di seluruh wilayah daratan China sejak Mei.

Pengguna dari Indonesia dapat melakukan transaksi di China tanpa harus membawa uang tunai. Kemudahan ini melengkapi upaya memperluas konektivitas ekonomi di luar perdagangan konvensional.

Ketua Umum Apindo Shinta Kamdani menyatakan pelaku usaha Indonesia terbuka untuk bekerja sama dengan perusahaan China. Ia menilai tantangan dan peluang dari investasi yang masuk perlu diidentifikasi agar kemitraan dengan dunia usaha dalam negeri berjalan lebih kuat.

Baca Juga