Bunyi Alam Tak Selalu Aman, Paduan Jangkrik Dapat Merusak Sel Pendengaran

Bunyi dari alam tidak selalu aman bagi telinga, terutama ketika terdengar kuat dan berlangsung lama. Paduan ribuan jangkrik dapat menghasilkan intensitas di atas 85 desibel, tingkat yang berisiko mengganggu pendengaran.

Bahaya utama muncul pada sel rambut di dalam koklea, bagian telinga yang berperan dalam proses pendengaran. Sel tersebut dapat membengkak akibat suara keras dan berisiko mengalami kerusakan yang tidak bisa dipulihkan bila paparan terus berulang.

Li Ji, dokter senior departemen otolaringologi Rumah Sakit Afiliasi No. 1 Universitas Ningbo, menjelaskan bahwa paparan singkat dapat memicu edema pada sel rambut koklea. Pembengkakan masih mungkin pulih bila telinga diistirahatkan dari lingkungan bising.

Namun, kebisingan yang berlangsung terus-menerus dapat menimbulkan nekrosis atau kematian jaringan. Sel rambut koklea yang telah mati tidak dapat beregenerasi kembali.

Gangguan Sementara Bisa Pulih, Kerusakan Menetap Tidak

Seorang mahasiswa berusia 18 tahun bernama Yang mengalami gangguan sementara setelah berkemah di hutan lebat di Ningbo, Provinsi Zhejiang, China timur. Ia berada di tengah bunyi jangkrik yang sangat keras selama sekitar empat jam tanpa pelindung telinga.

Pada malam hari, Yang merasakan telinganya penuh dan membengkak. Ia juga kesulitan menangkap suara bernada tinggi, termasuk kicauan burung serta notifikasi telepon seluler.

Pemeriksaan medis menyatakan keluhan Yang terjadi akibat paparan kebisingan yang berlebihan. Menurut laporan Kompas.com yang mengutip SCMP, pendengarannya pulih sepenuhnya setelah perawatan dan menghindari area bising selama dua minggu.

Kasus ini menunjukkan bahwa sel rambut yang belum rusak berat masih memiliki kesempatan untuk kembali berfungsi setelah mendapat waktu pemulihan. Penanganan berbeda diperlukan apabila kerusakan telah menjadi permanen.

KasusRiwayat PaparanHasil Akhir
Yang, 18 tahunSuara jangkrik keras selama sekitar 4 jamPendengaran pulih sepenuhnya setelah perawatan
Liu, 60 tahunPaduan suara jangkrik setiap musim panas selama 12 tahunTelinga berdenging kronis dan gangguan permanen

Suara Satu Jangkrik Berbeda dengan Paduan Ribuan Jangkrik

Menurut Li Ji, seekor jangkrik mengeluarkan suara sekitar 70 desibel dan masih dianggap aman bagi pendengaran manusia. Risiko meningkat ketika banyak jangkrik berbunyi serentak di lokasi yang sama.

Gabungan suara jangkrik tersebut dapat melampaui 85 desibel. Li Ji menyebut kasus berkaitan dengan kebisingan jangkrik kerap muncul setiap musim panas.

Contoh dampak jangka panjang terlihat pada Liu, tukang kebun berusia 60 tahun. Ia memangkas pohon setiap hari pada Juni hingga Agustus selama 12 tahun di area dengan paduan suara jangkrik.

Liu akhirnya mengalami telinga berdenging kronis dan gangguan pendengaran permanen. Ia kesulitan mendengar suara bernada rendah maupun suara wanita.

Durasi dan Frekuensi Menentukan Risiko

Perbedaan antara Yang dan Liu menegaskan bahwa dampak kebisingan tidak hanya bergantung pada seberapa keras suara terdengar. Lamanya paparan serta seberapa sering telinga menghadapi suara kuat menjadi faktor penting.

Gangguan sementara dapat membaik ketika seseorang segera menjauhi kebisingan dan memberi waktu istirahat bagi telinga. Sebaliknya, paparan berulang dapat meninggalkan kerusakan menetap yang tidak dapat disembuhkan.

Lingkungan dengan paduan jangkrik tetap dapat dinikmati dengan kewaspadaan yang memadai. Menghindari paparan berkepanjangan dan memakai pelindung telinga saat diperlukan dapat membantu mengurangi risiko.

Baca Juga