Minyak Brent berada di 88,98 dolar AS per barel setelah naik hanya 7 sen dolar AS pada perdagangan Kamis (13/8/2026). Penguatan tipis itu terjadi ketika pasar menghadapi risiko keamanan di jalur laut Timur Tengah dan menanti kejelasan diplomasi Selat Hormuz.
WTI AS juga bertambah 7 sen dolar AS menjadi 83,27 dolar AS per barel. Pergerakan yang nyaris datar menunjukkan ancaman terhadap pasokan belum mereda, tetapi belum pula memicu perubahan sentimen yang lebih besar.
Harga Minyak di Tengah Risiko Pelayaran
| Jenis Minyak | Harga per Barel | Perubahan |
|---|---|---|
| Brent | 88,98 dolar AS | Naik 7 sen dolar AS |
| WTI AS | 83,27 dolar AS | Naik 7 sen dolar AS |
Data harga tersebut dikutip Suara.com dari CNBC. Pasar saat ini mencermati keamanan Laut Merah dan Teluk Oman, dua rute penting yang berada dalam bayang-bayang konflik Timur Tengah hampir enam bulan.
Harga minyak yang tidak bergerak jauh memperlihatkan investor masih mengukur dampak nyata terhadap aliran pasokan. Perhatian juga tertuju pada kemungkinan tercapainya kesepakatan AS dan Iran mengenai jalur perairan strategis.
Harapan Pembukaan Selat Hormuz
Pakistan menyatakan optimisme bahwa AS dan Iran dapat mencapai kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz. Meski demikian, pasar belum menganggap optimisme tersebut sebagai kepastian yang cukup untuk mengubah arah perdagangan.
Ekonom Senior Interactive Brokers, José Torres, mengatakan kekhawatiran gangguan pasokan dari kawasan masih membayangi perdagangan minyak. Sentimen itu tetap bertahan walaupun negosiasi AS dan Iran disebut menunjukkan sinyal kemajuan.
Menurut Torres, investor sudah menanti kejelasan mengenai kesepakatan tersebut selama beberapa pekan. Kemajuan yang nyata dibutuhkan untuk menekan imbal hasil dan membantu mendorong reli pasar saham.
Situasi ini membuat pasar menghadapi dua arah yang berbeda. Harapan diplomasi dapat menahan tekanan harga, sedangkan gangguan keamanan pelayaran berpotensi menjaga premi risiko tetap tinggi.
Insiden di Dua Jalur Strategis
Risiko tersebut menguat setelah kelompok militan Houthi yang didukung Iran menyerang kapal kargo di Selat Bab el-Mandeb pada Selasa. Enam orang tewas dalam serangan itu, yang menjadi fatalitas pertama pada serangan pelayaran di Laut Merah selama lebih dari satu tahun terakhir.
Insiden terhadap kapal niaga di Selat Bab el-Mandeb menempatkan keselamatan pelayaran sebagai perhatian utama. Lokasi tersebut menjadi titik penting dalam kekhawatiran pasar atas kelancaran pergerakan kapal di kawasan.
Beberapa jam setelah serangan di Selat Bab el-Mandeb, pasukan AS menembakkan rudal ke arah sebuah kapal kontainer di Teluk Oman. Kapal itu diduga mencoba menerobos blokade Washington terhadap pelabuhan Iran.
Rangkaian kejadian tersebut memperlihatkan tekanan keamanan tidak hanya terpusat pada satu rute. Arah harga minyak selanjutnya akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan di Laut Merah, Teluk Oman, dan diplomasi mengenai Selat Hormuz.






