Ribuan pekerja SK Hynix membentuk serikat baru ketika skema bonus tunai yang telah disepakati berpotensi berubah menjadi pembayaran saham. Perubahan ini menjadi sensitif karena nilai kompensasi pekerja akan ikut bergantung pada pergerakan pasar saham.
Serikat baru tersebut telah menghimpun hampir 2.500 anggota dari sekitar 35.000 pekerja SK Hynix di Korea Selatan. Mereka menargetkan status serikat mayoritas agar memiliki pengaruh terbesar dalam perundingan kolektif dengan manajemen.
Bonus Laba Menjadi Pusat Konflik
Pada tahun lalu, SK Hynix menyepakati bonus tunai senilai 10% dari laba operasional tahunan untuk karyawan. Kesepakatan itu disebut berlaku selama 10 tahun, sehingga usulan perubahan bentuk pembayaran memicu perhatian besar di kalangan pekerja.
Manajemen kini mengusulkan agar sebagian besar bonus tersebut dibayarkan dalam saham perusahaan. Model ini serupa dengan pendekatan yang telah dipakai Samsung Electronics untuk bonus pekerja di divisi semikonduktornya.
| Perusahaan | Alokasi Bonus | Bentuk Pembayaran | Ketentuan |
|---|---|---|---|
| SK Hynix | 10% laba operasional tahunan | Semula tunai, kemudian diusulkan sebagian besar saham | Kesepakatan awal berlaku 10 tahun |
| Samsung Electronics | 10,5% laba operasional divisi semikonduktor | Saham perusahaan | Sejumlah besar saham memiliki masa penguncian |
Bonus berbasis saham dapat mengaitkan langsung kompensasi pekerja dengan nilai perusahaan di pasar. Namun, skema tersebut juga membuat penerimaan pekerja menghadapi risiko volatilitas pasar saham Korea Selatan.
Profesor Manajemen Sogang University, Kim Yong-jin, menilai kekhawatiran pekerja terhadap kompensasi berbentuk saham memiliki dasar yang kuat. Meski demikian, ia mencatat bonus berbasis ekuitas merupakan praktik yang lazim digunakan di Amerika Serikat.
Serikat Lintas Divisi
Serikat baru SK Hynix resmi dibentuk pada Kamis (13/8) waktu setempat setelah memperoleh izin pemerintah. Keanggotaannya mencakup pekerja pabrik di Icheon dan Cheongju, serta pekerja teknis dan staf perkantoran.
Model serikat ini berbeda dari organisasi pekerja yang telah ada sebelumnya karena tidak dibatasi oleh jenis pekerjaan atau lokasi pabrik. Struktur lintas divisi itu ditujukan untuk menyatukan kepentingan pekerja saat negosiasi upah tahunan berlangsung.
Target utama organisasi tersebut ialah merekrut lebih dari separuh tenaga kerja perusahaan di Korea Selatan. Status mayoritas penting karena dapat menentukan serikat mana yang memegang posisi paling kuat dalam pembicaraan kolektif.
Profesor Hukum Jaminan Sosial dari Korea University’s School of Law, Park Ji-soon, menilai kehadiran serikat baru dapat memicu persaingan perekrutan anggota. Persaingan itu berpusat pada perebutan status mayoritas dan kendali atas agenda perundingan dengan perusahaan.
Tekanan dari Investor dan Kebutuhan AI
Perselisihan bonus muncul saat kinerja SK Hynix terdorong oleh meningkatnya kebutuhan infrastruktur AI. Pertumbuhan permintaan chip memori memperbesar sorotan terhadap cara perusahaan membagi manfaat dari lonjakan bisnis tersebut.
Menurut CNBC Indonesia, sebagian pemegang saham turut mempertanyakan alokasi 10% laba operasional bagi pekerja. Mereka menilai kebijakan itu dapat memengaruhi dana investasi perusahaan dan imbal hasil bagi pemegang saham.
Park Ji-soon juga menilai peralihan bonus ke saham dapat memunculkan tuntutan kompensasi lain dari pekerja. Salah satu isu yang berpotensi mengemuka ialah fasilitas pinjaman perumahan yang setara dengan karyawan Samsung Electronics.
Samsung sebelumnya mencapai kesepakatan dengan serikat pekerjanya pada Mei lalu. Kesepakatan itu meredakan ancaman mogok massal yang berpotensi mengganggu rantai pasokan chip global.
Bagi SK Hynix, perundingan yang berlangsung bukan hanya soal format bonus tahunan. Hasilnya akan menentukan keseimbangan antara kompensasi pekerja, kebutuhan investasi, dan kepentingan pemegang saham di tengah ekspansi bisnis AI.






