Biaya pribadi hingga Rp5,8 juta menjadi salah satu beban yang dirasakan peserta kontingen Nusa Tenggara Barat selama Jamnas 2026. Dana dari sekolah disebut belum cukup untuk membiayai seluruh kebutuhan selama kegiatan berlangsung di Buperta Cibubur.
Syafira Arthalita Abrar mengaku masih memikirkan kecukupan uang hingga akhir kegiatan. Namun, Sherly Olivia Putri menilai biaya tambahan tersebut sepadan dengan pengalaman yang diperoleh dalam jambore nasional.
Tantangan peserta tidak hanya berkaitan dengan pengeluaran. Cuaca panas Jakarta juga terasa berbeda bagi peserta dari Nusa Tenggara Barat yang terbiasa dengan kondisi di daerah asalnya.
Sherly, sebagaimana dilaporkan detik.com, menyebut panas di Jakarta menjadi salah satu penyesuaian selama berada di Cibubur. Meski demikian, keseruan agenda perkemahan membuat peserta tetap menikmati rangkaian acara.
Pengalaman yang Dialami Peserta
| Persoalan | Peserta atau Kontingen | Detail |
|---|---|---|
| Biaya tambahan | Nusa Tenggara Barat | Pengeluaran pribadi Syafira disebut mencapai Rp5,8 juta. |
| Cuaca panas | Nusa Tenggara Barat | Panas Jakarta dirasakan berbeda dari kondisi daerah asal. |
| Kapal terbakar | Nusa Tenggara Barat | Kapal yang pernah ditumpangi terbakar dalam perjalanan kembali ke Lombok. |
| Perjalanan dan waktu pagi | Aceh | Bus ditempuh empat hari, disertai penyesuaian matahari dan jadwal salat. |
Di tengah persoalan biaya dan cuaca, Syafira serta Sherly juga mengalami kejadian yang lebih menegangkan. Keduanya mendapat kabar kapal yang sebelumnya mereka tumpangi dari Lombok menuju Bali terbakar hebat di tengah laut.
Kebakaran terjadi setelah mereka tiba di Buperta Cibubur dan kapal tersebut berlayar kembali ke Lombok. Syafira mengatakan kabar itu membuat rombongan mereka bersyukur karena telah sampai di lokasi kegiatan dengan selamat.
“Kami sujud syukur sekali. Kapal yang kami tumpangi dari Lombok ke Bali itu, setelah kami sampai di Buperta dan kapal itu mau balik lagi ke Lombok, ternyata kapalnya kebakaran di tengah laut,” ujar Syafira.
Pengalaman berbeda dialami Syaila dari kontingen Aceh. Ia bersama rombongan harus menempuh perjalanan darat menggunakan bus selama empat hari untuk mencapai Jakarta.
Perjalanan panjang itu membuat Syaila kelelahan, tetapi ia tetap menganggap keikutsertaan dalam Jamnas 2026 sebagai pengalaman yang berharga. Sesampainya di Cibubur, ia kembali menghadapi penyesuaian terhadap ritme pagi yang tidak sama dengan Aceh.
Syaila menyebut perubahan waktu terbit matahari dan jadwal salat sebagai culture shock. Menurutnya, pukul 06.00 di Aceh masih sangat gelap, sedangkan suasana di Jakarta sudah mulai terang.
“Ada culture shock soal jam shalat dan matahari. Di sini matahari lebih duluan daripada di sana. Di Aceh jam 6 pagi itu masih gelap banget, kalau di sini sudah mulai terang,” ujar Syaila di Lapangan Utama Buperta Cibubur pada Jumat, 14 Agustus 2026.
Jambore Nasional Berlangsung Sepekan
Jamnas 2026 diikuti sekitar 21.000 siswa dari berbagai provinsi. Kegiatan ini tidak hanya berisi aktivitas kepramukaan, tetapi juga pendidikan, permainan, wisata, dan hiburan.
Jambore dibuka pada 14 Agustus 2026, yang bertepatan dengan Hari Pramuka ke-65. Agenda Pramuka Indonesia tersebut dijadwalkan berlangsung sampai 21 Agustus 2026 di Buperta Cibubur, Jakarta Timur.
Di sela kegiatan, Syafira menantikan penampilan Raim Laode, Ghea Indrawari, Arsy Widianto, dan Sheila on 7. Ia juga berharap Presiden Prabowo dapat hadir serta menyampaikan keinginan agar biaya keikutsertaan Jambore Dunia pada masa mendatang dapat digratiskan.






