Berulang Kali Tak Lolos PTN, Mahmudah dan Rikah Menang lewat Jalur PBUTM UGM

Mahmudah Lathif dan Muzdrickah Lathif atau Rikah tidak berhenti setelah berkali-kali gagal masuk perguruan tinggi negeri. Putri kembar asal Ponorogo itu akhirnya diterima di Universitas Gadjah Mada melalui jalur Penelusuran Bibit Unggul Tidak Mampu atau PBUTM.

Rikah memperkirakan mereka melewati sedikitnya tujuh kegagalan dalam sejumlah jalur seleksi. Saat pengumuman PBUTM tiba, keduanya lolos bersama dan memperoleh subsidi UKT sebesar 100 persen.

“Kami merasa down pastinya, tapi akhirnya kami bangkit. Kami yakin bahwa masih ada banyak jalan lain yang terbuka,” kata Rikah.

Sebelumnya, mereka tidak lolos Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi. Mahmudah dan Rikah sebenarnya sempat diterima di kampus di Malang, tetapi tetap melanjutkan usaha karena ingin berkuliah di UGM.

Dua Bidang Studi Berbeda

Kelulusan melalui PBUTM mengantarkan keduanya ke Sekolah Vokasi UGM. Meski selalu bersekolah bersama sejak kecil, mereka memilih jalur keilmuan yang berbeda di jenjang diploma empat.

MahasiswaProgram StudiUnit Pendidikan
Mahmudah LathifD4 Manajemen dan Penilaian PropertiSekolah Vokasi UGM
Muzdrickah Lathif (Rikah)D4 Teknologi VeterinerSekolah Vokasi UGM

Mahmudah menyebut kelulusan tersebut sebagai hasil dari penantian panjang, kebiasaan belajar, dan pencapaian yang dikumpulkan. “Setelah penantian yang panjang, perjuangan saya untuk banyak belajar dan prestasi yang saya kumpulkan, akhirnya itu membuahkan hasil,” ujar Mahmudah.

Rikah ingin agar pendidikan teknologi veteriner tidak berhenti sebagai capaian pribadi. Ia berencana membentuk komunitas penyuluhan ternak untuk warga desa setelah menyelesaikan kuliah.

Berprestasi Sejak Masa Sekolah

Kedua saudari ini menempuh pendidikan di sekolah yang sama sejak SDN 3 Krebet. Mereka kemudian melanjutkan ke MTsN 5 Ponorogo dan SMAN 1 Badegan.

Sejak sekolah dasar, Mahmudah dan Rikah konsisten berada dalam tiga besar kelas. Mereka juga kerap bergantian menduduki peringkat pertama.

Persaingan akademik antarkeduanya justru menjadi ruang untuk saling menyemangati. Mahmudah memiliki 18 prestasi, sedangkan Rikah mengumpulkan 14 prestasi dari berbagai kompetisi.

Capaian itu mencakup olimpiade tingkat karesidenan serta lomba esai dan poster tingkat nasional. Mahmudah memandang hasil kompetisi secara seimbang karena kemenangan dan kekalahan sama-sama hadir dalam proses tersebut.

“Dalam kompetisi memanglah kemenangan itu selalu ada, begitu juga dengan kekalahan,” katanya.

Harapan dari Keluarga Buruh Serabutan

Mahmudah dan Rikah berasal dari Dukuh Klitik, Desa Sidoharjo, Kecamatan Jambon, Ponorogo, Jawa Timur. Daerah itu mayoritas dihuni warga dengan kondisi ekonomi terbatas dan pernah dikaitkan dengan stigma isolasi geografis, kemiskinan, serta keterbatasan akses pendidikan.

Ayah mereka, Meseri, bekerja sebagai buruh serabutan dengan penghasilan yang tidak pasti. Ia bekerja di sawah ketika ada warga yang membutuhkan jasa pertanian dan menjadi buruh bangunan saat ada proyek di kota.

Ibu mereka, Siti Rokhayati, adalah ibu rumah tangga yang terkadang membantu Meseri di sawah. Sejak anak-anaknya belum memasuki taman kanak-kanak, Siti dan Meseri mengenalkan buku serta latihan menulis kepada keduanya.

Keduanya menaruh harapan besar pada pendidikan sebagai jalan untuk memperbaiki kehidupan. Siti berharap kedua putrinya tidak merasakan ketidakpastian penghasilan seperti yang dialami orangtuanya.

Menurut kisah yang dimuat Kompas.com dari laman UGM, Meseri merasa sangat bersyukur mendengar kabar kelulusan anak-anaknya. Perasaan bangga itu hadir meski ia sempat gamang membayangkan keduanya akan tinggal jauh dari rumah untuk kuliah di Yogyakarta.

“Saya mendengar itu, ya senanglah. Bersyukur, senang anak-anak bisa diterima di UGM,” ujar Meseri.

Kelulusan Mahmudah dan Rikah memperlihatkan bahwa kegagalan seleksi tidak menghentikan proses yang telah dibangun bertahun-tahun. Dukungan keluarga, pencapaian akademik, dan ketekunan mereka kemudian bertemu pada jalur PBUTM UGM.

Baca Juga