Beijing menargetkan penjualan ritel tahunan hampir US$9 triliun pada 2030 melalui strategi konsumsi komprehensif lima tahun pertamanya. Target itu muncul saat pertumbuhan ekonomi China melambat menjadi 4,3% pada kuartal April-Juni.
Angka tersebut berada di bawah perkiraan pasar 4,5% dan rentang target pertumbuhan Beijing 4,5-5% untuk 2026. Perlambatan ini menempatkan pemulihan belanja rumah tangga sebagai persoalan utama bagi perekonomian China.
Konsumsi Menjadi Fokus Baru Beijing
Strategi baru itu menunjukkan bahwa pertumbuhan jangka panjang tidak dapat terus bergantung pada manufaktur dan ekspor. Pemerintah perlu memperluas peran konsumen agar fondasi pemulihan ekonomi menjadi lebih merata.
Permintaan dalam negeri belum pulih setara dengan perkembangan industri berorientasi ekspor. Ketidakpastian pasar kerja dan tekanan dari sektor perumahan membuat rumah tangga tetap berhati-hati dalam membelanjakan uang.
Pelemahan keyakinan masyarakat menjadi hambatan penting karena pengeluaran konsumen menentukan kekuatan permintaan domestik. Stimulus fiskal tambahan dapat menjadi pilihan apabila Beijing ingin mendorong kembali belanja dan memperbaiki sentimen rumah tangga.
Ekspor Teknologi Menjadi Penopang Utama
Ekspor masih memperoleh dukungan dari permintaan global terhadap semikonduktor, elektronik, perangkat keras kecerdasan buatan, dan peralatan komputasi. Manufaktur serta produk teknologi kelas atas tetap tumbuh ketika bagian ekonomi lain belum menunjukkan pemulihan yang sama.
Namun, kekuatan perdagangan luar negeri tidak lagi cukup untuk menutup seluruh tekanan domestik. Ketergantungan pada ekspor teknologi juga membuat China rentan apabila siklus investasi AI atau belanja teknologi global mulai melambat.
Pertumbuhan ekonomi China pada kuartal pertama mencapai 5%, lebih tinggi daripada capaian 4,3% pada April-Juni. Selisih ini memperlihatkan momentum yang melemah meski sektor ekspor masih bergerak positif.
| Indikator | Periode | Angka |
|---|---|---|
| Pertumbuhan ekonomi | Kuartal I | 5% |
| Pertumbuhan ekonomi | Kuartal April-Juni | 4,3% |
| Ekspektasi pasar | Kuartal April-Juni | 4,5% |
| Target pertumbuhan Beijing | 2026 | 4,5-5% |
Investasi Menunjukkan Tekanan Lebih Dalam
Biro Statistik Nasional China melaporkan investasi aset tetap turun 5,7% pada semester pertama tahun ini. Investasi properti bahkan merosot 18%, mencerminkan tekanan berat pada dua bidang yang lama menjadi pendorong ekspansi.
Penurunan harga dan kemerosotan pasar perumahan China yang berkelanjutan memperlemah rasa aman masyarakat. Dampaknya terlihat pada kecenderungan rumah tangga menahan belanja ketika kondisi ekonomi domestik belum meyakinkan.
| Sektor Investasi | Periode | Perubahan |
|---|---|---|
| Aset tetap | Semester pertama | -5,7% |
| Properti | Semester pertama | -18% |
Belanja Negara dan Risiko Global
Belanja infrastruktur publik masih membantu meredam laju perlambatan. Meski demikian, investasi negara tidak dapat menopang pertumbuhan berkelanjutan apabila investasi swasta dan konsumsi domestik tetap tertinggal.
China juga menghadapi risiko dari ketegangan yang melibatkan Iran, yang dapat memengaruhi harga energi dan bahan baku global. Kenaikan biaya produksi berpotensi memperburuk sentimen konsumen serta menambah beban bagi sektor dalam negeri.
Kegagalan memenuhi target pertumbuhan menjadi perhatian karena China biasanya mampu mendekati sasaran resminya melalui kebijakan yang dipimpin negara dan investasi agresif. Pengecualian terakhir terjadi pada 2020, saat pemerintah tidak menetapkan target karena pandemi COVID-19.






