Pengiriman sampah Jakarta ke TPST Bantargebang berkurang dari sekitar 1.200 truk menjadi kisaran 900-an truk per hari. Pada saat yang sama, Pemprov DKI Jakarta mulai mengubah pengelolaan timbunan sampah di Bantargebang dengan meninggalkan praktik open dumping secara bertahap.
Penurunan jumlah truk dipandang sebagai perkembangan penting karena beban Bantargebang tidak hanya ditangani melalui pengangkutan. Pemerintah mengarahkan penanganan sampah ke tahap yang lebih awal, mulai dari pemilahan di lingkungan warga hingga pengolahan di fasilitas setempat.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyampaikan bahwa jumlah kendaraan pengangkut sampah sempat berada di level 900-an truk dalam beberapa waktu terakhir. Ia mengungkapkan angka tersebut ketika berada di kawasan Jakarta Selatan pada Selasa (21/7).
“Dulu setiap hari itu di Bantargebang transportasi truknya yang masuk itu kurang lebih 1200 (truk). Sekarang ini sudah mengalami penurunan, bahkan beberapa waktu yang lalu di sekitar 900-an,” kata Pramono.
Zona Aktif Mulai Ditutup
Perubahan metode di Bantargebang dimulai dengan penutupan dua zona aktif pembuangan sampah. Tahap tersebut menjadi bagian dari penerapan sistem controlled landfill di kawasan TPST Bantargebang, Kota Bekasi, Jawa Barat.
Sistem controlled landfill mulai dijalankan pada Jumat (17/7). Unit Pengelola Sampah Terpadu memasang media penutup pada area atas Zona 2 sebagai langkah awal pelaksanaannya.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Dudi Gardesi menjelaskan bahwa media penutup bertujuan mengurangi bau dan membantu pengendalian emisi gas. Pemasangan itu juga dirancang untuk meminimalkan air lindi yang terbentuk akibat air hujan masuk ke timbunan sampah.
| Periode | Truk per hari | Perubahan pengelolaan |
|---|---|---|
| Sebelumnya | Sekitar 1.200 truk | Pengangkutan menuju Bantargebang |
| Beberapa waktu terakhir | Sekitar 900-an truk | Pengurangan pengangkutan harian |
Pemilahan Diperluas dari Hulu
Pramono menegaskan program pilah sampah akan terus dilanjutkan untuk menjaga tren penurunan pengiriman sampah. Langkah ini diharapkan membuat warga lebih aktif memisahkan sampah sebelum masuk ke jalur pengangkutan.
“Jadi, ada penurunan yang cukup signifikan. Akan kami lanjutkan dengan program pilah sampah,” ujar Pramono. Pemilahan diposisikan sebagai cara untuk mengurangi sampah yang akhirnya hanya menjadi residu di tempat pemrosesan akhir.
Pemprov DKI juga mempersiapkan pengaktifan kembali Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle atau TPS3R. Fasilitas ini ditargetkan mampu menyelesaikan pengolahan sampah sebelum residunya dikirim ke Bantargebang.
Penguatan TPS3R akan ditopang investasi peralatan dan kerja sama dengan pihak swasta. Pramono mengatakan pemerintah telah membahas rencana tersebut dalam rapat penanganan Bantargebang dan akan meninjau empat hingga lima titik TPS3R.
“Kami investasi beberapa peralatan dan kerja sama juga dengan swasta, supaya sebelum ke Bantargebang itu sudah selesai di TPS3R-nya,” kata Pramono. Dengan pengolahan yang lebih dekat dari sumber sampah, jumlah perjalanan truk ke Bantargebang diharapkan dapat terus ditekan.
Pengurangan truk harian tidak berdiri sendiri dengan pembaruan sistem di lokasi pembuangan. Pemilahan sampah, pengoperasian TPS3R, dan controlled landfill menjadi bagian dari upaya mengurangi residu sekaligus memperbaiki pengelolaan sampah di TPST Bantargebang.






