Indonesia telah menghentikan impor solar setelah menerapkan campuran biodiesel B50 sejak 1 Juli 2026. Tantangan berikutnya adalah memastikan pasokan bahan baku, pembiayaan, dan infrastruktur mampu menopang program hingga 2030.
Kebijakan tersebut menghasilkan penghematan devisa sekitar Rp170 triliun atau US$9,5 miliar. Presiden Prabowo Subianto menyatakan dana itu tidak lagi perlu dikirim ke luar negeri untuk membayar kebutuhan solar.
Pakar ekonomi energi Universitas Padjadjaran, Yayan Satyakti, menilai keberlanjutan B50 tidak bisa hanya bergantung pada kenaikan persentase campuran. Ekosistem pendukung harus dipersiapkan karena kebutuhan bahan baku akan meningkat seiring perluasan program.
Peningkatan produktivitas kebun sawit rakyat menjadi salah satu langkah yang diperlukan. Peremajaan perkebunan, diversifikasi bahan baku, dan penguatan pembiayaan juga dinilai penting agar pasokan tidak dipenuhi semata-mata melalui pembukaan lahan baru.
Prasyarat Program hingga 2030
Arah pengembangan campuran biodiesel telah diatur dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 113.K/EK.05/MEM.E/2026. Aturan itu memuat jalur pencampuran hingga 2030 dengan mempertimbangkan kesiapan bahan baku, pembiayaan, dan infrastruktur.
| Faktor | Kebutuhan Utama | Risiko Jika Tidak Siap |
|---|---|---|
| Bahan baku | Produktivitas, peremajaan, diversifikasi | Pasokan biodiesel tidak mencukupi |
| Pembiayaan | Dukungan program dan pembenahan pungutan | Beban fiskal meningkat |
| Infrastruktur | Kesiapan distribusi dan pencampuran | Penerapan program terhambat |
| Lingkungan dan pangan | Pemanfaatan limbah serta perlindungan harga pangan | Tekanan sosial dan lingkungan |
Yayan juga mengusulkan pemanfaatan bahan baku limbah untuk memperkuat ketahanan pasokan. Perlindungan pangan, menurut dia, lebih tepat dilakukan melalui Harga Eceran Tertinggi daripada kuota ekspor.
Pembenahan pungutan dan penerapan katup pengaman campuran turut diperlukan. Langkah itu dimaksudkan agar kebijakan B50 dapat dijalankan secara layak dari sisi fiskal maupun lingkungan.
Penghematan Devisa dan Dorongan Teknologi
Prabowo menyampaikan capaian penghentian impor solar dalam pidato kenegaraan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, pada Jumat, 14 Agustus 2026. Diesel B50 menggunakan campuran 50% bahan bakar nabati yang berbasis minyak kelapa sawit.
Penghentian Impor Solar tidak berarti seluruh impor BBM telah berakhir. Indonesia masih melakukan impor untuk jenis bahan bakar minyak lain.
Ekonom Universitas Negeri Manado, Robert Winerungan, menilai devisa yang dihemat dapat diarahkan untuk alih teknologi. Penguatan teknologi nasional berpeluang mendorong produktivitas industri sekaligus menekan biaya produksi.
“Jadi B50 ini sangat menghemat devisa. Devisa kita tidak terkuras oleh impor BBM lagi,” kata Robert kepada Media Indonesia.
Selain mengurangi kebutuhan devisa, penggunaan sawit dalam Biodiesel B50 dapat menjaga kepastian permintaan komoditas tersebut. Kondisi itu berpotensi membantu stabilitas penjualan dan harga sawit domestik.
Industri sawit juga disebut memiliki peran besar dalam menyerap jutaan tenaga kerja, mengurangi kemiskinan di perdesaan, serta menghasilkan devisa dari ekspor. Dengan prasyarat pasokan dan pembiayaan yang terpenuhi, program ini dapat memperkuat Ketahanan Energi Indonesia secara berkelanjutan.






