Autoimun tidak dapat dijelaskan hanya dengan alasan seseorang memendam emosi atau menghadapi tekanan batin. Penyakit ini melibatkan interaksi berbagai faktor, sehingga pasien tidak semestinya memikul rasa bersalah atas kondisi kesehatannya.
Stres berkepanjangan tetap penting dikelola karena dapat memengaruhi sistem hormon, peradangan, dan fungsi kekebalan tubuh. Akan tetapi, pengaruh tersebut bukan bukti bahwa emosi terpendam menjadi penyebab langsung autoimun.
Memahami Kerumitan Penyakit Autoimun
Penyakit Autoimun muncul ketika sistem kekebalan menyerang jaringan tubuh sendiri. Kondisi ini dapat berupa lupus, rheumatoid arthritis, multiple sclerosis, penyakit tiroid autoimun, psoriasis, maupun diabetes tipe 1.
Karakteristik dan faktor risiko setiap penyakit tidak selalu sama. Genetik, jenis kelamin, faktor hormonal, infeksi tertentu, paparan lingkungan, merokok, mikrobioma, faktor mukosa, dan epigenetik dapat ikut berperan.
Psikiater sekaligus Pengabdian Masyarakat PP-PDSKJI, dr. Lahargo Kembaren, SpKJ, mengatakan penyebab autoimun bersifat multifaktorial. Stres dan faktor psikososial dapat terlibat dalam proses tersebut, tetapi tidak menjadi satu-satunya penentu.
“Penyakit autoimun belum diketahui dengan pasti penyebab utamanya karena bisa multifaktor,” ujar dr. Lahargo kepada Kompas.com. Pernyataan itu sekaligus menegaskan bahwa kebiasaan memendam emosi tidak tepat disebut sebagai sebab langsung autoimun.
Peran Stres dalam Aktivitas Penyakit
Pada orang yang sudah memiliki kerentanan, tekanan psikologis dapat berkaitan dengan meningkatnya aktivitas penyakit atau munculnya gejala pada sejumlah kondisi. Kaitan itu dapat dipahami melalui pengaruh stres terhadap pengaturan neuroendokrin dan sistem imun.
Gejala dan kekambuhan juga dapat dipengaruhi oleh infeksi, obat-obatan, perubahan hormonal, kualitas tidur, paparan lingkungan, merokok, serta karakteristik penyakit. Karena itu, stres lebih tepat dipandang sebagai satu bagian dari rangkaian persoalan yang lebih besar.
Tidak semua orang dengan beban hidup berat akan mengalami autoimun. Sebaliknya, seseorang dapat terdiagnosis autoimun tanpa merasa pernah mengalami stres berat atau tanpa kebiasaan menyimpan masalah pribadi.
Dampak Biologis Stres Berkepanjangan
Otak merespons tekanan dengan mengaktifkan sumbu hypothalamic-pituitary-adrenal atau HPA dan sistem saraf simpatis. Proses ini memicu pelepasan kortisol, katekolamin, dan mediator stres lain untuk membantu tubuh menghadapi tuntutan.
Respons akut tersebut merupakan mekanisme normal yang bermanfaat. Risiko gangguan meningkat saat tekanan tidak mereda dan tubuh kesulitan masuk kembali ke keadaan pulih.
Stres Kronis dapat mengubah regulasi kortisol serta sensitivitas reseptor glukokortikoid. Keadaan ini dapat mengganggu keseimbangan sitokin, respons inflamasi, dan fungsi sel imun.
Hubungan antara otak, hormon, dan kekebalan tubuh menunjukkan pentingnya merawat kondisi psikologis. Namun, kaitan biologis itu tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa stres pasti menyebabkan autoimun.
Perawatan Diri dan Dukungan Profesional
Menjaga Kesehatan Mental dapat dilakukan dengan membangun kemampuan pulih setelah menghadapi tekanan. Tidur cukup dan teratur, aktivitas fisik sesuai kondisi kesehatan, serta pola makan seimbang dapat mendukung upaya tersebut.
Berhenti merokok, mengurangi konsumsi alkohol, menjaga hubungan sosial, dan menyediakan waktu untuk pemulihan juga dapat membantu. Mengenali serta mengekspresikan emosi secara sehat merupakan bagian dari perawatan diri, bukan ukuran penyebab suatu penyakit.
Latihan pernapasan, relaksasi, mindfulness, journaling, dan berbicara dengan orang tepercaya dapat membantu sebagian orang menghadapi tekanan. Pendekatan yang dipilih dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi masing-masing.
Bila stres menyebabkan gangguan tidur berkepanjangan, kecemasan atau kesedihan berat, serta mengganggu pekerjaan dan relasi sosial, bantuan profesional kesehatan mental dapat dipertimbangkan. Orang dengan autoimun tetap perlu mengikuti kontrol serta terapi medis yang dianjurkan dokter.






