Tidak merasakan jantung berdebar atau nyeri dada bukan jaminan seseorang bebas dari gangguan irama jantung. Aritmia dapat muncul tanpa gejala, sehingga risikonya tidak dapat dinilai hanya dari sensasi yang dirasakan.
Di sisi lain, dada berdebar juga tidak selalu berarti aritmia. Keluhan tersebut perlu dibedakan dari diagnosis medis yang hanya dapat ditetapkan setelah pemeriksaan.
Aritmia merupakan kelompok penyakit akibat gangguan pada sistem listrik jantung. Gangguan tersebut dapat membuat jantung berdetak lebih cepat atau lebih lambat daripada yang seharusnya.
Spesialis penyakit dalam subspesialis kardiovaskular dari Brawijaya Hospital, dr Simon Salim, SpPD-KKV, menegaskan perbedaan antara keduanya dalam tayangan detikSore. “Berdebar itu adalah keluhan subjektif. Sedangkan aritmia itu adalah penemuan objektif dari dokter,” ujarnya.
EKG Tidak Dapat Digantikan oleh Penilaian Gejala
Dokter memerlukan rekaman listrik jantung melalui elektrokardiogram atau EKG untuk memastikan adanya aritmia. Pemeriksaan ini digunakan untuk menilai aktivitas listrik jantung yang tidak dapat diketahui hanya melalui keluhan pasien.
Hasil EKG juga membantu membedakan gangguan irama yang mengganggu aktivitas sehari-hari dengan kondisi yang berpotensi berbahaya. Karena itu, rasa berdebar yang kuat maupun ringan tidak dapat menjadi ukuran tunggal tingkat risiko.
Seseorang mungkin mengalami berdebar tanpa ditemukan aritmia saat diperiksa. Sebaliknya, penderita aritmia dapat tidak merasakan gejala apa pun, termasuk berdebar.
Perubahan Kondisi Fisik yang Perlu Diperhatikan
Selain perubahan denyut di dada, aritmia dapat disertai lemas dan mudah lelah. Keluhan tersebut dapat muncul karena darah dan oksigen dari jantung tidak terpompa secara optimal ke seluruh tubuh.
Rasa sangat lelah dapat dirasakan bahkan ketika seseorang hanya melakukan aktivitas ringan. Sensasi hampir pingsan atau hilang kesadaran juga perlu menjadi perhatian karena dapat terjadi saat suplai darah ke otak menurun drastis.
| Tanda atau Keluhan | Penjelasan |
|---|---|
| Jantung berdebar | Salah satu gejala yang mungkin muncul, tetapi bukan penanda pasti aritmia. |
| Tubuh lemas | Dapat berkaitan dengan pemompaan darah dan oksigen yang tidak optimal. |
| Mudah lelah | Dapat terasa meski aktivitas yang dilakukan tidak berat. |
| Hampir pingsan atau pingsan | Dapat terjadi ketika irama terlalu lambat atau cepat secara tiba-tiba. |
Dr Simon menyebut berdebar sebagai keluhan yang paling banyak dialami, tetapi bukan satu-satunya yang perlu dicermati. “Yang paling banyak memang berdebar, berdebar merupakan salah satu gejala dari aritmia. Nah yang berikutnya adalah rasa lemas, mudah lelah, bahkan seperti pingsan,” katanya.
Kombinasi berdebar dengan lemas atau kelelahan tidak sebaiknya dipisahkan begitu saja dari kemungkinan gangguan irama. Namun, gejala tersebut tetap memerlukan penilaian medis untuk mengetahui penyebab sebenarnya.
Pemeriksaan untuk Memastikan Penyebab
Orang yang mengalami rasa berdebar dapat memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat untuk menjalani EKG. Rekaman listrik jantung menjadi langkah untuk memastikan apakah keluhan itu berkaitan dengan aritmia atau kondisi lain.
Pemeriksaan tersebut penting karena keluhan dan diagnosis tidak selalu berjalan searah. Penentuan kondisi jantung memerlukan bukti dari pemeriksaan, bukan hanya penilaian berdasarkan ada atau tidaknya gejala.
Perhatian khusus diperlukan apabila berdebar disertai rasa lemas, mudah lelah, hampir pingsan, atau hilang kesadaran. Gejala-gejala itu dapat menjadi bagian dari perubahan kondisi fisik yang menyertai gangguan irama jantung.






