Luka tambahan akibat pengambilan urat dari bagian tubuh lain dapat dihindari dalam operasi lutut dengan artificial ligament. Material sintetik tersebut digunakan sebagai alternatif rekonstruksi tanpa perlu mengambil jaringan pasien sendiri.
Selain mengurangi kebutuhan sayatan donor, metode ini berpotensi membuat tindakan lebih singkat dan rehabilitasi dimulai lebih awal. Namun, keputusan penggunaan artificial ligament tetap bergantung pada evaluasi dokter terhadap kondisi pasien.
Artificial ligament dapat digunakan pada penanganan cedera lutut, termasuk cedera ACL atau anterior cruciate ligament. Stabilitas awal yang diberikan material sintetik menjadi pembeda penting dibandingkan pendekatan tertentu yang memakai jaringan tubuh sendiri.
Dokter Spesialis Ortopedi Konsultan Sports Injury RS Pondok Indah–Puri Indah, dr. Christian Silas, Sp.OT, (K) AIFO-K, menjelaskan perbedaan kedua pendekatan meliputi luka tindakan, durasi operasi, konsistensi kekuatan, dan kesiapan aktivitas pasien.
| Keunggulan | Kondisi pada Artificial Ligament | Manfaat yang Disebutkan |
|---|---|---|
| Tanpa luka donor | Tidak mengambil urat pasien | Keluhan dan kelemahan area donor dihindari |
| Prosedur lebih ringkas | Tidak ada tahap pengambilan jaringan | Waktu tindakan dapat berkurang |
| Kekuatan stabil | Material sintetik konsisten | Tidak dipengaruhi mutu urat pasien |
| Pemulihan awal lebih cepat | Sendi mendapat stabilitas awal | Latihan fisik dapat dimulai lebih awal |
1. Tidak Memerlukan Sayatan Tambahan
Metode rekonstruksi yang menggunakan jaringan tubuh sendiri membutuhkan pengambilan urat atau jaringan dari lokasi lain. Tahap tersebut menambah sayatan di luar area utama operasi lutut.
Artificial ligament tidak membutuhkan pengambilan jaringan karena bahan rekonstruksinya bersifat sintetik. Pasien pun tidak mengalami kelemahan pada lokasi urat atau jaringan yang biasanya dipakai sebagai donor.
Dr. Silas menilai tidak adanya sayatan tambahan dapat membuat rasa nyeri lebih minimal. “Dengan tidak ada sayatan tambahan, maka nyerinya lebih minimal dibandingkan yang ambil di bagian tubuh lainnya dan tidak ada kelemahan di tempat urat atau jaringan yang diambil dari tubuh,” ujarnya.
2. Waktu Operasi Berpotensi Lebih Cepat
Pengambilan jaringan menjadi tahapan tambahan sebelum rekonstruksi dilakukan dengan jaringan pasien sendiri. Ketika tahapan itu tidak diperlukan, prosedur artificial ligament dapat memangkas waktu tindakan.
Dr. Silas menyebut durasi operasi yang lebih panjang berkaitan dengan lebih banyak hal yang harus diperhatikan. Risiko perdarahan dan infeksi yang lebih tinggi, pembiusan lebih lama, serta kebutuhan obat-obatan lebih banyak termasuk di dalamnya.
3. Kekuatan Material Lebih Tinggi dan Konsisten
Kualitas jaringan tubuh setiap pasien dapat berbeda. Usia dan gaya hidup menjadi faktor yang dapat memengaruhi kondisi urat yang akan digunakan untuk rekonstruksi.
Artificial ligament disebut memiliki karakteristik kekuatan yang lebih tinggi dan konsisten. Dukungan material tersebut tidak bergantung pada kualitas jaringan yang tersedia pada pasien.
Meski menawarkan karakteristik berbeda, material sintetik tidak otomatis menjadi pilihan untuk semua kondisi. Kebutuhan klinis pasien tetap menjadi pertimbangan utama dalam menentukan metode operasi.
4. Latihan Fisik dan Aktivitas Bisa Dimulai Lebih Awal
Stabilitas awal sendi yang didukung material sintetik memungkinkan latihan fisik dimulai lebih cepat. Aktivitas harian juga dapat dijalankan kembali secara bertahap setelah operasi.
Menurut laporan Health.kompas.com, pasien dengan artificial ligament tidak perlu menjalani proteksi selama tiga bulan pertama seperti pada pendekatan tertentu menggunakan jaringan tubuh sendiri. Aktivitas olahraga nonkompetitif dapat diperbolehkan sekitar dua bulan sesudah tindakan.
Pasien dapat kembali beraktivitas pada bulan ketiga hingga keempat pascaoperasi. Dr. Silas menyatakan seluruh pasien dapat kembali berolahraga dalam enam bulan, tetapi waktunya tetap bergantung pada kondisi individual dan program rehabilitasi.
Rehabilitasi menjadi bagian penting setelah operasi, baik saat pasien menggunakan material sintetik maupun metode lain. Pelaksanaan latihan perlu mengikuti tahapan yang ditetapkan dokter agar pemulihan lutut berlangsung sesuai kebutuhan pasien.






