Akses keluar dan masuk melalui pelabuhan Iran menjadi sasaran utama rencana tekanan baru Amerika Serikat. Washington menyiapkan blokade berkelanjutan di Selat Hormuz yang dipadukan dengan isolasi ekonomi terhadap Teheran.
Kebijakan itu menandai pergeseran penekanan strategi AS setelah berbulan-bulan konfrontasi dengan Iran. Presiden Donald Trump untuk saat ini diyakinkan agar tidak memerintahkan serangan tambahan.
Dua Jalur Tekanan Disiapkan Bersamaan
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan pemerintahannya akan menerapkan dua bentuk tekanan secara bersamaan. Pertama adalah memperdalam isolasi ekonomi, sedangkan kedua berupa pembatasan arus melalui jalur laut di Selat Hormuz.
Bessent menilai kombinasi tersebut akan memiliki skala berbeda dari pendekatan isolasi ekonomi sebelumnya. Targetnya adalah membatasi apa pun yang keluar atau masuk melalui pelabuhan-pelabuhan Iran.
| Langkah | Peran dalam Strategi AS |
|---|---|
| Isolasi ekonomi | Menekan perekonomian Iran lebih dalam |
| Blokade berkelanjutan | Membatasi akses pelabuhan melalui Selat Hormuz |
Dalam wawancara di program Rob Schmitt Tonight di Newsmax, Bessent menyebut rencana itu belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah isolasi ekonomi terhadap suatu negara. Pernyataan tersebut menggambarkan ambisi Washington untuk menggabungkan tekanan finansial dan maritim.
“Ini akan menjadi kombinasi dari isolasi ekonomi yang belum pernah disaksikan dunia sebelumnya, dan blokade berkelanjutan di Selat Hormuz yang akan mencegah apa pun keluar atau masuk dari pelabuhan-pelabuhan Iran,” kata Bessent. Ia meminta publik mengikuti perkembangan kebijakan menjelang pengumuman berikutnya.
Tekanan Ekonomi Menggantikan Eskalasi Serangan
Trump memilih kembali menggunakan instrumen lama Washington, yaitu tekanan terhadap ekonomi Iran. Pilihan itu muncul setelah serangan, ancaman, dan negosiasi yang berlangsung selama berbulan-bulan belum mengakhiri perang.
Wall Street Journal melaporkan bahwa Trump menerapkan pendekatan menunggu sambil memantau hasil tekanan yang sedang berjalan. Keputusan itu mengikuti paparan pejabat pemerintah mengenai dampak sanksi yang telah ada terhadap ekonomi Iran.
Para penasihat Trump memandang tekanan ekonomi sebagai cara paling efektif untuk mendorong pemerintah Iran mundur. Pejabat senior dan pihak Gedung Putih juga merekomendasikan pengetatan kebijakan yang berlaku serta pemberlakuan sanksi baru.
Pada Senin, 10 Agustus 2026, Trump menyatakan Iran tidak memiliki kemampuan finansial yang memadai. Ia menyampaikan pandangan itu secara terbuka kepada wartawan.
“Iran tidak punya uang. Iran bangkrut, benar-benar bangkrut,” ujar Trump. Pernyataan tersebut sejalan dengan arah kebijakan yang menempatkan isolasi ekonomi Iran sebagai instrumen utama.
Menunggu Rincian Kebijakan
Reuters, seperti dikutip Kompas.com, melaporkan pengumuman lanjutan mengenai rencana tersebut dijadwalkan pada pekan berikutnya. Pemerintah AS belum menyampaikan rincian lebih jauh mengenai pelaksanaan pembatasan akses pelabuhan itu.
Rencana blokade di Selat Hormuz kini menjadi unsur paling menonjol dalam strategi baru Washington. Perkembangan berikutnya akan menentukan bentuk pengetatan sanksi terhadap Iran dan pembatasan maritim yang disiapkan AS.






