Saat 94 Persen Obat Sintetis Bergantung pada Impor, Indonesia Kejar Kemandirian Farmasi

Sekitar 94 persen kebutuhan obat sintetis kimia Indonesia masih bergantung pada produk impor. Untuk produk biologis dan biosimilar, tingkat ketergantungan bahkan hampir mencapai 100 persen.

Angka tersebut menyoroti kerentanan pasokan terapi bagi pasien kanker, diabetes, penyakit hati, gangguan pernapasan, dan penyakit kardiovaskular. Pemerintah mendorong investasi serta transfer teknologi agar lebih banyak obat dapat diproduksi di dalam negeri.

Ketergantungan yang Menjangkau Terapi Berat

Kepala BPOM Taruna Ikrar menyampaikan besarnya ketergantungan tersebut saat seremoni pembentukan PT Tempo CTTQ Biopharmaceutical Indonesia atau TCBI di Jakarta. Ia menilai perluasan produksi lokal dapat membantu masyarakat memperoleh pengobatan dengan lebih mudah.

Produk biologis yang masih banyak diimpor mencakup biosimilar, antibodi monoklonal, recombinant protein, sitokin, dan insulin biologis. Produk-produk tersebut penting bagi terapi penyakit yang membutuhkan penanganan modern dan berkelanjutan.

KategoriTingkat KetergantunganContoh Penggunaan
Obat sintetis kimiaSekitar 94 persen imporBerbagai obat modern
Obat biologis dan biosimilarHampir 100 persen imporKanker, diabetes, dan penyakit kronis

Taruna mengatakan kolaborasi yang mampu menghasilkan lebih banyak obat di Indonesia akan memberi manfaat bagi masyarakat. “Kalau kolaborasi ini mampu memproduksi lebih banyak obat di Indonesia, tentu akan sangat membantu masyarakat,” ujarnya.

TCBI Menyiapkan Portofolio Onkologi

TCBI merupakan perusahaan patungan antara PT Tempo Scan Pacific Tbk dan Chia Tai Tianqing Pharmaceutical Group Co., Ltd. Mitra asal China itu adalah anak usaha Sino Biopharmaceutical Limited atau SBP Group.

Perusahaan baru tersebut menempatkan onkologi sebagai salah satu fokus awal. TCBI berencana meluncurkan 13 produk onkologi dan terapi pendukung secara bertahap.

Portofolio itu mencakup terapi untuk kanker payudara, kanker paru, leukemia, kanker prostat, serta kanker hati. Pengembangan tersebut relevan dengan data Globocan 2024 yang mencatat sekitar 474 ribu kasus kanker baru di Indonesia setiap tahun.

Data yang sama menunjukkan jumlah kematian akibat kanker di Indonesia melebihi 283 ribu kasus. Kebutuhan terhadap terapi kanker pun menjadi salah satu alasan penguatan manufaktur farmasi dinilai mendesak.

Fokus PengembanganArea PenyakitProduk yang Disiapkan
OnkologiPayudara, paru, leukemia, prostat, hati13 produk dan terapi pendukung
Penyakit kronisDiabetes, kardiovaskular, pernapasanBiologis dan obat inovatif

Manufaktur, Distribusi, dan Transfer Teknologi

Tempo Scan akan mendukung TCBI melalui 16 fasilitas manufaktur dan jaringan distribusi nasional yang memiliki 46 cabang Pedagang Besar Farmasi. Tiga fasilitas manufakturnya disebut telah mempunyai sertifikat GMP.

SBP Group akan membawa kemampuan riset dan pengembangan, teknologi produksi modern, serta portofolio obat inovatif, biologik, dan biosimilar. TCBI juga telah menyiapkan roadmap transfer teknologi menuju produksi lokal bertahap dengan memanfaatkan fasilitas Tempo Scan.

Executive Chairman dan Co-founder Tempo Scan Group Handojo S. Muljadi menegaskan kerja sama tersebut tidak berhenti pada lisensi atau distribusi. Bentuk usaha patungan dipilih untuk membangun perusahaan permanen di Indonesia dengan modal ekuitas dan tanggung jawab bersama.

Pelajaran dari Pandemi

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut pandemi COVID-19 menunjukkan besarnya risiko ketergantungan pasokan dari negara lain. Banyak negara pada saat itu memprioritaskan kebutuhan sendiri dan membatasi ekspor vaksin maupun obat.

Menurut Airlangga, obat biologis tidak boleh menjadi barang mewah bagi masyarakat. Penguatan kemandirian farmasi diharapkan dapat memperluas akses terhadap terapi dengan harga yang lebih kompetitif.

BPOM kini memiliki status WHO Listed Authority atau WLA yang dinilai dapat meningkatkan kredibilitas produk farmasi Indonesia. Pengakuan ini juga membuka peluang ekspor lebih luas bagi produk yang telah mendapat persetujuan BPOM.

Dalam beberapa tahun mendatang, TCBI berencana meluncurkan produk specialty pharmaceutical dan innovative medicine yang telah disetujui maupun masih menjalani proses registrasi. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya mengurangi ketergantungan terhadap obat biologis impor secara bertahap.

Baca Juga