Penemuan 70.114 pil ekstasi dan metamfetamin dalam sebuah koper membawa kasus pilot Malaysia ke penanganan yang melibatkan aparat dua negara. Selain penyidik Indonesia, empat personel NCID Malaysia telah datang ke Jakarta untuk memeriksa tersangka.
Barang bukti itu terdiri atas 15 paket besar dengan berat total 26 kilogram. Pilot Malaysia berusia 39 tahun tersebut ditahan setelah petugas melakukan penindakan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
Kehadiran penyidik Malaysia berlangsung setelah mereka mendapatkan izin dari pihak berwenang Indonesia. Langkah ini dimaksudkan untuk memperoleh informasi lebih lengkap terkait dugaan penyelundupan narkoba yang menjerat pilot Malaysia Airlines tersebut.
Dua Hari Menggali Keterangan
Tim Departemen Investigasi Kejahatan Narkotika atau NCID Malaysia berada di Jakarta selama 12-13 Agustus. Dalam dua hari itu, empat penyidik mewawancarai tersangka guna mendalami perkara yang sedang disidik.
Pemeriksaan dari pihak Malaysia tidak menggantikan kewenangan Indonesia dalam kasus ini. Proses hukum terhadap dugaan penyelundupan narkoba ke Indonesia tetap ditangani oleh otoritas Indonesia.
| Peristiwa | Tanggal | Lokasi | Rincian |
|---|---|---|---|
| Penangkapan | 28 Juli | Terminal 3 Soekarno-Hatta | Narkoba ditemukan dalam koper tersangka |
| Pemeriksaan NCID | 12-13 Agustus | Jakarta | Empat penyidik Malaysia memeriksa pilot |
Penangkapan terhadap tersangka berlangsung pada 28 Juli di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang. Petugas menemukan paket-paket narkoba ketika memeriksa koper yang dibawanya.
Informasi yang dikutip CNN Indonesia menyebut paket tersebut berisi pil ekstasi dan metamfetamin. Berat keseluruhan barang yang ditemukan mencapai 26 kilogram.
Malaysia Terima Pengarahan Awal
Menteri Dalam Negeri Malaysia Datuk Seri Saifuddin Nasution Ismail mengatakan ia telah menerima pengarahan awal dari Direktur NCID Datuk Hussein Omar Khan. Pengarahan itu mencakup perkembangan pemeriksaan yang dilakukan terhadap tersangka di Jakarta.
“Saya menerima pengarahan awal dari direktur NCID, Datuk Hussein Omar Khan mengenai masalah ini,” ujar Saifuddin. Pernyataan itu disampaikan dalam konferensi pers seusai upacara penyerahan helikopter AW189 kepada Badan Penegakan Maritim Malaysia di Pangkalan Udara Maritim Subang.
Saifuddin menyebut NCID sudah mendapatkan akses untuk memeriksa tersangka sejak awal. Ia meminta publik memberi ruang kepada penyidik karena proses pendalaman keterangan masih berjalan.
Selain menerima penjelasan dari NCID, Saifuddin telah memperoleh pengarahan dari sekretaris jenderal Kementerian Dalam Negeri Malaysia. Tim multi lembaga juga menangani aspek yang berkaitan dengan kasus tersebut.
Kontrol Bandara Menjadi Perhatian
Pemerintah Malaysia menugaskan tim terkait untuk mempelajari persoalan pengawasan bandara selama dua minggu. Kajian itu dimulai pada minggu sebelumnya dan direncanakan menjadi bahan pembahasan bersama Menteri Perhubungan Malaysia.
“Saya memberi mereka waktu dua minggu, dimulai minggu lalu, untuk mempelajari masalah ini,” kata Saifuddin. Penguatan kontrol keamanan bandara disebut akan dibawa ke rapat Kabinet Malaysia pada pekan berikutnya.
Belum ada rincian kebijakan baru yang diumumkan pemerintah Malaysia dari kajian tersebut. Namun, evaluasi keamanan bandara berjalan bersamaan dengan upaya kepolisian Malaysia mengumpulkan informasi dari tersangka di Indonesia.
Koordinasi ini menempatkan pemeriksaan NCID sebagai bagian pendukung dalam perkara yang berawal dari penangkapan di Soekarno-Hatta. Perkembangan berikutnya akan bergantung pada hasil penyidikan Indonesia dan kajian yang sedang disiapkan pemerintah Malaysia.






