Tidak semua makanan ekstrem dibuat hanya untuk mengejutkan orang yang melihatnya. Beberapa justru memerlukan proses khusus untuk mengurangi senyawa berbahaya atau menjaga keamanan sebelum disajikan.
Hakarl dari Islandia difermentasi untuk menghilangkan senyawa alami pada daging hiu Greenland, sedangkan fugu Jepang harus diolah dengan ketelitian tinggi. Di luar dua hidangan itu, terdapat lima makanan lain yang menonjol karena bahan, aroma, atau teksturnya.
| Nomor | Hidangan | Negara asal | Keunikan |
|---|---|---|---|
| 1 | Blood pudding | Inggris dan Swedia | Olahan darah hewan berbentuk mirip sosis |
| 2 | Kaki kodok | Prancis | Tekstur lembut dan rasa ringan |
| 3 | Daging ular derik | Amerika Serikat | Daging goreng berlapis tepung |
| 4 | Hakarl | Islandia | Hiu Greenland fermentasi |
| 5 | Casu marzu | Italia | Keju Sardinia dengan larva hidup |
| 6 | Surstromming | Swedia | Haring fermentasi dalam kaleng |
| 7 | Fugu | Jepang | Ikan buntal yang berpotensi mengandung racun |
1. Blood pudding dari Inggris dan Swedia
Blood pudding, atau black pudding, memanfaatkan darah hewan sebagai bahan utama. Darah tersebut dicampur lemak, gandum atau oat, dan rempah sebelum dimasak dalam bentuk menyerupai sosis.
Di Swedia, makanan ini disebut blodpudding dan berwarna gelap. Rasa gurih serta umaminya dapat dipadukan dengan bacon dan selai lingonberry.
2. Kaki kodok dari Prancis
Kaki kodok menjadi salah satu bahan yang kerap dikaitkan dengan kuliner Prancis. Mentega, bawang putih, dan rempah digunakan untuk membangun aroma pada sajian tersebut.
Dagingnya dikenal lembut dan memiliki rasa yang relatif ringan. Banyak orang membandingkannya dengan ayam maupun ikan berdaging putih.
3. Daging ular derik dari Amerika Serikat
Di selatan dan barat daya Amerika Serikat, daging ular derik diolah menjadi hidangan goreng. Daging dibersihkan dan dipotong terlebih dahulu sebelum diberi balutan tepung.
Setelah digoreng, bagian luarnya menjadi renyah sementara bagian dalam dapat tetap lembut. Karakter rasanya tidak terlalu kuat dan juga kerap disandingkan dengan rasa ayam atau ikan putih.
4. Hakarl dari Islandia
Hakarl menggunakan daging hiu Greenland yang harus menjalani pengolahan dan fermentasi. Proses ini ditujukan untuk menghilangkan senyawa berbahaya yang secara alami terkandung dalam dagingnya.
Daging yang telah difermentasi kemudian dikeringkan. Aroma kuat yang dihasilkan menjadi ciri khas, sementara bagi masyarakat Islandia makanan ini adalah tradisi yang telah berlangsung berabad-abad.
5. Casu marzu dari Italia
Casu marzu merupakan keju tradisional Sardinia dengan larva lalat hidup yang terlibat dalam proses pematangannya. Proses itu menghasilkan keju bertekstur sangat lembut dengan cita rasa kuat dan pedas.
Produk ini menghadapi isu keamanan pangan dan regulasi. Uni Eropa melarang produksi serta pemasarannya sejak 2002 karena dinilai belum memenuhi persyaratan kesehatan.
6. Surstromming dari Swedia
Surstromming berasal dari ikan haring Laut Baltik yang diawetkan lewat fermentasi dalam kaleng. Aroma yang sangat tajam ketika kaleng dibuka membuatnya menantang bagi orang yang belum terbiasa.
Penyajian tradisionalnya menggunakan roti tipis, kentang, dan bawang. Para penikmatnya menjadikan rasa fermentasi ikan sebagai alasan utama untuk menyantapnya.
7. Fugu dari Jepang
Fugu adalah ikan buntal yang dapat mengandung tetrodotoksin, racun yang berakibat fatal bila penanganannya keliru. Oleh sebab itu, pengolahan ikan ini terikat aturan ketat dan memerlukan keterampilan khusus.
Hidangan fugu dapat berupa sashimi maupun sajian berkuah dengan rasa ringan dan tekstur khas. Nilai kulinernya tidak hanya terletak pada rasa, tetapi juga pada ketelitian dalam proses penyajiannya.






