Postbiotik bukan mikroorganisme hidup seperti probiotik, tetapi hasil aktivitas mikroorganisme di saluran cerna. Perbedaan ini penting bagi masyarakat yang mempertimbangkan pola makan atau suplemen untuk kesehatan pencernaan.
Ketiadaan bakteri hidup membuat postbiotik dipandang lebih stabil karena tidak menghadapi risiko bakterinya mati. Meski begitu, manfaat yang dibahas tetap perlu dipahami sesuai bukti yang tersedia dan kondisi kesehatan setiap orang.
Manfaat yang Dikaji pada Postbiotik
1. Mendukung Keseimbangan Respons Imun
Butirat, salah satu jenis asam lemak rantai pendek, merupakan bentuk postbiotik yang banyak dibahas. Senyawa ini dapat merangsang produksi sel T di usus.
Sel T membantu mengatur respons imun agar tidak berlebihan. Postbiotik juga dapat memicu produksi sitokin antiinflamasi yang dikaitkan dengan bantuan dalam meredakan peradangan.
2. Memiliki Sifat Antioksidan
Stres oksidatif dapat muncul akibat polusi, toksin dalam makanan, dan berbagai faktor lingkungan. Postbiotik memiliki sifat antioksidan yang dapat membantu tubuh menghadapi kondisi tersebut.
Paparan faktor pemicu stres oksidatif berkontribusi pada munculnya beragam penyakit. Peran antioksidan menjadi salah satu aspek yang terus diperhatikan dalam kajian mengenai postbiotik.
3. Berpotensi Membantu Pencegahan Diare
Tinjauan oleh Jeadran N Malagón-Rojas dan rekan-rekan dalam jurnal Nutrients pada 2020 merangkum tujuh studi yang melibatkan 1.740 anak. Tinjauan itu menilai penggunaan suplemen postbiotik dalam kaitannya dengan diare.
Hasilnya menunjukkan postbiotik dapat mengurangi durasi diare pada anak. Efektivitasnya dalam mencegah diare, faringitis, dan laringitis juga dilaporkan lebih baik daripada plasebo.
4. Menjaga Fungsi Penghalang Usus
Postbiotik dikaitkan dengan dukungan terhadap mikroorganisme baik di usus. Senyawa ini juga dapat membantu menghambat pertumbuhan mikroorganisme yang merugikan.
Penguatan lapisan pelindung usus membantu membatasi masuknya toksin dan bakteri jahat. Fungsi tersebut penting dalam kaitannya dengan sindrom iritasi usus, penyakit radang usus, intoleransi tertentu, dan gangguan pencernaan lain.
Probiotik, Prebiotik, dan Postbiotik Tidak Sama
Probiotik adalah mikroorganisme hidup yang membantu menjaga keseimbangan bakteri baik di dalam usus. Yogurt, kefir, kimchi, dan makanan fermentasi sejenis menjadi contoh pangan yang mengandung probiotik.
Prebiotik berbeda karena berperan sebagai makanan bagi bakteri baik. Komponen ini umumnya didapat dari makanan berserat tinggi seperti kacang-kacangan, biji-bijian utuh, dan sayuran tertentu.
| Istilah | Fungsi dalam Ekosistem Usus | Contoh |
|---|---|---|
| Probiotik | Membantu keseimbangan bakteri baik melalui mikroorganisme hidup | Yogurt, kefir, kimchi |
| Prebiotik | Menjadi sumber makanan bagi bakteri baik | Kacang-kacangan, biji-bijian utuh, sayuran |
| Postbiotik | Menjadi hasil aktivitas mikroorganisme yang mendukung fungsi usus | Butirat, enzim, vitamin B dan K |
Postbiotik terbentuk setelah aktivitas probiotik dan prebiotik di saluran cerna. Menurut CNN Indonesia, kandungannya dapat meliputi asam lemak rantai pendek, enzim, vitamin B dan K, serta peptida antimikroba.
Ketiga istilah tersebut menggambarkan bagian berbeda dalam ekosistem usus. Karena itu, postbiotik tidak dapat disamakan begitu saja dengan makanan fermentasi yang mengandung probiotik hidup.
Siapa yang Harus Lebih Waspada
Postbiotik umumnya disebut mudah ditoleransi oleh orang yang memiliki sistem imun sehat. Namun, risiko dapat meningkat pada kelompok dengan daya tahan tubuh lemah.
Anak-anak, ibu hamil, orang yang baru menjalani operasi, orang dengan gangguan jantung struktural, serta penderita gangguan saluran cerna tertentu perlu berkonsultasi terlebih dahulu. Langkah ini diperlukan sebelum mengubah pola makan atau menggunakan suplemen postbiotik maupun probiotik.






