Perangkat Apple digunakan tiga pengusaha Indonesia untuk kebutuhan yang sangat berbeda, mulai dari mengelola puluhan ribu berkas desain hingga membuat model 3D lewat perangkat mobile. Perbedaan itu menunjukkan bahwa teknologi dapat menjadi bagian dari proses bisnis ketika disesuaikan dengan kebutuhan kerja masing-masing.
Revano Satria memakainya untuk kolaborasi desain arsitektur, Amanda Mitsuri untuk mempertahankan proses kreatif perhiasan, sedangkan Hasbi Asyadiq mengembangkannya untuk memperluas akses teknologi AR. Ketiganya memadukan perangkat keras, aplikasi, dan sistem kerja tim dalam kegiatan sehari-hari.
| Pengusaha | Bisnis | Pemanfaatan Utama |
|---|---|---|
| Amanda Mitsuri | Massicot | Ilustrasi digital dan karya kreatif |
| Revano Satria | RSI Group dan Retired Space | Desain parametrik dan kolaborasi proyek |
| Hasbi Asyadiq | Assemblr | Model 3D dan augmented reality |
1. Amanda Mitsuri menjaga cerita di balik perhiasan
Amanda Mitsuri mengenal MacBook Pro pada 2011 setelah menerima perangkat tersebut sebagai hadiah dari ayahnya. Perangkat itu disebut sang ayah sebagai warisan penting atau “launcher” yang mendorong Amanda memulai karier serta memikirkan bisnis sendiri.
Ketertarikannya pada seni dan desain membawanya bereksplorasi dengan beragam material hingga menghasilkan artificial gemstone. Eksplorasi itu kemudian berkembang menjadi bisnis perhiasan Massicot.
Dalam kegiatan tim kecilnya, Amanda menggunakan iPhone Pro, iPad Pro, dan MacBook Pro untuk mendukung pekerjaan kreatif maupun operasional bisnis. Di iPad Pro, ia mengandalkan Procreate untuk menghasilkan gambar digital dengan sensasi yang mendekati proses menggambar manual.
Perangkat mobile tersebut juga memiliki arti penting ketika ruang gerak Amanda terbatas pada 2018 setelah menjadi ibu. Selama sekitar tiga bulan berada di rumah, ia tetap menggambar dan menuangkan cerita melalui iPad Pro yang diberikan suaminya.
“Perangkat ini bisa dibilang menyelamatkan hidup saya, karena saya tetap bisa bercerita meski ruang gerak saya terbatas,” kata Amanda. Pengalaman itu memperkuat keinginannya agar perhiasan Massicot tidak sekadar mengikuti laju tren fashion, melainkan membawa cerita bagi pemakainya.
2. Revano Satria menyatukan proyek dengan ribuan berkas
Tantangan berbeda dihadapi Revano Satria, pendiri dan kurator RSI Group serta Retired Space. Pekerjaan perancangan arsitektur yang dikerjakan timnya dapat bergerak dari sketsa menuju konsep 3D, rendering, sampai model tiga dimensi.
Setiap tahap dipakai untuk meninjau detail material dan pencahayaan sebelum proyek berkembang lebih jauh. Revano menyebut chip Apple dari generasi M1 hingga M5 menjadi tulang punggung pekerjaan desain parametrik timnya.
Kebutuhan kerja RSI Group tidak berhenti pada kemampuan komputasi karena informasi proyek harus dapat diakses oleh banyak anggota. Dokumentasi lapangan, gambar pekerjaan, dan katalog vendor dibagikan secara real-time agar perubahan dapat segera diketahui.
Tim tersebut juga mengelola puluhan ribu file media yang terus diperbarui, termasuk gambar proyek serta materi dari vendor. Menurut Revano, keterhubungan perangkat membantu tim membangun proyek bersama tanpa membuang waktu, meski bekerja dalam tim berbeda.
3. Hasbi Asyadiq membuka akses pembuatan 3D dan AR
Hasbi Asyadiq, Co-Founder dan CEO Assemblr, menggunakan teknologi Apple untuk mengembangkan layanan di bidang 3D dan AR. Startup asal Bandung itu berupaya mengurangi kerumitan bagi pengguna yang sebelumnya perlu menguasai berbagai perangkat lunak teknis untuk membuat model 3D.
Pada 2017, Assemblr membuat prototipe yang memungkinkan pembuatan model 3D melalui perangkat mobile, termasuk iPad, dengan memanfaatkan teknologi AR Apple. Pendekatan tersebut ditujukan agar teknologi tiga dimensi dapat digunakan oleh lebih banyak orang.
Pemanfaatannya mencakup simulasi pembelajaran, simulasi produk, hingga kampanye digital branding. Alur kerja tim Assemblr dimulai dari iPad untuk membuat sketsa sebelum model dikembangkan lebih lanjut.
Untuk menjaga kolaborasi, tim memakai Slack, iCloud, dan Linear agar setiap anggota menggunakan versi pekerjaan terbaru. Tiga pendekatan ini memperlihatkan bahwa perangkat dapat berperan lebih luas ketika bertemu dengan gagasan, alur kerja, dan kebutuhan bisnis yang spesifik.






