PHE kini mengandalkan 12 Joint Study dan sembilan wilayah kerja eksplorasi baru untuk memperluas peluang penemuan cadangan migas. Langkah ini dijalankan di tengah kebutuhan menjaga produksi nasional ketika lapangan-lapangan yang ada mengalami penurunan alamiah.
Hingga Juli 2026, PT Pertamina Hulu Energi memiliki 12 studi bersama untuk mengidentifikasi potensi cekungan migas. Sebanyak 10 studi masih berjalan, satu telah selesai, dan satu lainnya menunggu persetujuan pemerintah.
| Program Kolaborasi | Jumlah atau Status | Fokus |
|---|---|---|
| Joint Study | 12 studi | Identifikasi potensi cekungan migas |
| Studi berjalan | 10 studi | Pengembangan peluang wilayah kerja |
| Studi selesai | 1 studi | Evaluasi telah dituntaskan |
| Menunggu persetujuan | 1 studi | Proses persetujuan pemerintah |
Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi sebelumnya mencatat PHE sebagai perusahaan dengan jumlah Joint Study terbanyak di Indonesia, yakni 10 studi hingga April 2026. Penambahan menjadi 12 studi memperluas cakupan evaluasi PHE dari Indonesia bagian barat hingga timur.
Mitra Global dalam Pencarian Potensi
Sejumlah perusahaan internasional terlibat dalam studi bersama PHE, antara lain Petronas, BP, ENI, KUFPEC, SK Earthon, PetroChina, POSCO, TPAO, dan Woodside. Kolaborasi tersebut dipakai sebagai sarana pertukaran teknologi, pengetahuan, dan kemampuan teknis dalam mencari tipe jebakan migas baru.
PHE juga menjalin Technical Evaluation Agreement dengan Management Petroleum Malaysia pada beberapa blok migas di Malaysia. Skema itu memperkuat jalur kerja sama regional di luar kegiatan studi pada cekungan domestik.
Selain studi bersama, PHE mengakuisisi wilayah kerja eksplorasi baru pada periode 2023-2026. Delapan blok berada di Indonesia, sementara satu blok lainnya berada di Malaysia.
| Wilayah | Nama Blok | Jumlah |
|---|---|---|
| Indonesia | Bunga, Peri Mahakam, East Natuna, Melati, Binaiya, Lavender, Bobara, North Ketapang | 8 |
| Malaysia | SK-510 | 1 |
Dari Studi hingga Pemboran
Setiap wilayah kerja baru akan menjalankan program berdasarkan komitmen kerja pasti. Tahapannya mencakup studi geologi dan geofisika, akuisisi data seismik, serta pemboran eksplorasi.
Rangkaian pekerjaan itu bertujuan mengoptimalkan potensi hidrokarbon dan mempercepat penemuan cadangan. PHE menempatkan hasil eksplorasi sebagai dasar untuk menopang kapasitas produksi migas nasional pada masa mendatang.
Skala ekspansi PHE juga tercermin dalam data S&P Global tahun 2026. Pada periode 2021-2025, perusahaan menambah area eksplorasi baru lebih dari 90.000 kilometer persegi, terbesar di antara National Oil Company dunia.
Tambahan area PHE tercatat melampaui Petronas, PTTEP, ADNOC, dan Sinopec. Capaian tersebut menjadi bagian dari strategi membangun portofolio eksplorasi yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Target Komersialisasi Potensi
Direktur Eksplorasi PHE Asep Samsul Arifin mengatakan eksplorasi merupakan investasi jangka panjang bagi keberlanjutan industri hulu migas. PHE akan menggabungkan perluasan wilayah kerja, kolaborasi mitra global, dan teknologi eksplorasi untuk meningkatkan peluang sumber daya baru.
Perusahaan menyatakan ekspansi ini mendukung agenda Asta Cita untuk percepatan swasembada energi melalui tambahan cadangan dan penguatan produksi. PHE juga menargetkan percepatan komersialisasi potensi dari aset yang sudah ada maupun blok hasil ekspansi dengan penerapan prinsip ESG dan ISO 37001:2016.






