Sekitar 11.000 pompa air telah diterima penerima manfaat di berbagai daerah sebagai bagian dari antisipasi kekeringan. Pemerintah masih memproses penyaluran sekitar 20.000 unit lainnya berdasarkan usulan pemerintah daerah.
Percepatan distribusi diarahkan untuk membantu sawah yang menghadapi penurunan curah hujan. Pompa akan digunakan mengalirkan air dari sumber yang tersedia agar lahan pertanian tetap mendapat pengairan.
Target Bantuan Mencapai 56.000 Unit
Kementerian Pertanian menyiapkan 56.000 unit pompa air pada Tahun Anggaran 2026. Program tersebut ditujukan untuk menjaga produksi padi dan mendukung target swasembada pangan di tengah ancaman kemarau.
Bantuan tidak hanya mempertimbangkan tingkat kekeringan suatu wilayah. Sawah yang diprioritaskan harus memiliki sumber air yang masih dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan pengairan.
| Tahapan Bantuan | Jumlah Unit | Kondisi |
|---|---|---|
| Disiapkan | 56.000 | Tahun Anggaran 2026 |
| Telah diterima | Sekitar 11.000 | Penerima manfaat di berbagai daerah |
| Dalam penyaluran | Sekitar 20.000 | Mengikuti usulan pemerintah daerah |
Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian Andi Nur Alam Syah menyatakan sentra produksi padi yang mengalami kekeringan menjadi sasaran percepatan penyaluran. Sungai, embung, waduk, serta saluran irigasi menjadi faktor penting dalam menentukan lokasi bantuan.
Pemasangan pompa ditargetkan dilakukan segera setelah alat diterima di lokasi. Dengan pengairan yang tersedia, petani diharapkan tetap dapat menanam dan menjaga produktivitas pada musim kemarau.
Strategi Cepat untuk Memindahkan Air
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menempatkan pompanisasi sebagai langkah cepat dalam menghadapi keterbatasan air. Strategi ini berfungsi memindahkan air dari sungai atau sumber lain yang tersedia menuju area persawahan.
Amran mengaitkan kebutuhan tersebut dengan pengalaman menghadapi El Nino dalam beberapa tahun terakhir. Menurutnya, ketahanan produksi pangan sangat bergantung pada kemampuan menyediakan air secara cepat.
Dalam keterangan resminya pada Senin, 27 Juli 2026, Amran mengatakan, “Saya selalu sampaikan bahwa sekarang kita perlu pompanisasi untuk memenuhi air dari sungai ke sawah.” Pernyataan itu menegaskan peran Pompa Air dalam langkah mitigasi kekeringan yang dijalankan pemerintah.
Traktor hingga Combine Harvester Turut Disiapkan
Kementan juga mendorong modernisasi pertanian melalui bantuan alat dan mesin pertanian. Dukungan tersebut meliputi traktor roda dua, traktor roda empat, rice transplanter, combine harvester, dan sarana mekanisasi lainnya.
Peralatan ini digunakan untuk mempercepat masa tanam, meningkatkan efisiensi usaha tani, dan menekan kehilangan hasil panen. Andi Nur Alam Syah menyatakan mitigasi kekeringan harus ditempuh secara cepat dan tepat sasaran.
Pengajuan bantuan pompa maupun alsintan dapat dilakukan melalui Petugas Penyuluh Lapangan atau Dinas Pertanian Kabupaten/Kota. Usulan akan diverifikasi dengan mempertimbangkan kebutuhan serta kondisi wilayah yang terdampak.
Pengelolaan Bersama Diharapkan Memperluas Manfaat
Penerima bantuan dapat berasal dari Kelompok Tani, Gabungan Kelompok Tani, Usaha Pelayanan Jasa Alsintan, dan kelembagaan ekonomi petani lain yang terdaftar di e-Banper. Brigade Pangan yang memenuhi persyaratan serta pemerintah daerah pengelola brigade alsintan juga dapat menerima bantuan alsintan.
Pengelolaan peralatan secara bersama diharapkan mempercepat mobilisasi ke wilayah yang membutuhkan. Pemerintah menilai pemanfaatan Alsintan Pertanian yang baik dapat membantu menjaga ketahanan pangan nasional dalam kondisi kekeringan.






